Laporan mini riset
CF OBSERVASI PENGGUNAAN MODEL PEMBELARAN
DI KELAS X AP SMK PAB 3 MEDAN
Mata Kuliah Psikologi Pendidikan
Diajukan Untuk Memenuhi Salah
Satu Tugas

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
Puji dan syukur penulis
panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan Rahmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas laporan mini riset pada mata kuliah Psikologi
Pendidikan yang berjudul “Observasi Penggunaan Model Pembelaran Di Kelas X AP
SMK PAB 3 Medan”.
Penulis berterima kasih
kepada Ibu Srinahyanti,S.Pd.,M.Pd selaku dosen mata kuliah Psikologi Pendidikan
yang sudah memberikan bimbingannya selama proses pengerjaan, juga kepada rekan-rekan yang mendukung dan
membantu penyelesaian tugas ini.
Penulis
menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kata sempurna untuk itu penulis
mengharapkan kritik maupun saran dari pembaca demi kesempurnaan tugas ini.
Akhir kata
penulis ucapkan terima kasih semoga kritik buku ini dapat bermanfaat dan bisa
menambah pengetahuan bagi pembaca.
ABSTRAK..............................................................................................................................
iii
BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR
4.1
Deskripsi Lokasi Observasi
4.2
Deskripsi Data dan Hasil Penelitian
OBSERVASI
PENGGUNAAN MODEL PEMBELARAN
DI
KELAS X AP SMK PAB 3 MEDAN
ABSTRAK
Penelitian
sederhana (Mini Research) ini
bertujuan untuk mengetahui penggunaan
model pembelajaran, strategi pembelajaran, moteode pembelajaran teknik dan
taktik mengajar di kelas X AP SMK PAB 3
Medan.
Teknik
pengambilan data adalah dengan menggunakan metode observasi. Yang menjadi
sampel penelitian adalah siswa di kelas X AP SMK PAB 3 Medan yang berjumlah 28
orang dengan rincian 24 orang siswa perempuan dan 4 orang siswa laki-laki.
Hasil
observasi yang telah dilakukan, guru
menggunakan model pembelajaran, metode, strategi, teknik, taktik yang masih konvensional sehingga tidak mampu
mendorong motivasi belajar siswa. Maka dapat disimpulkan penggunaan model
konvensional tidak impresif dan kurang mampu menarik minat siswa untuk
meningkatkan prestasinya.
Kata
Kunci : Konvensional, Model pembelajaran
, Taktik dan Teknik
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan memerankan peran yang sangat penting dalam membentuk
kualitas suatu bangsa.
Menyadari akan hal
tersebut, pemerintah sangat
serius menangani bidang pendidikan.
Sistem pendidikan nasional
diharapkan harus mampu
menjamin peningkatan mutu
dan efisiensi manajemen
pendidikan untuk menghadapi tantangan
sesuai dengan tuntutan
perubahan kehidupan lokal, nasional
dan global sehingga
perlu dilakukan pembaharuan
pendidikan secara terencana, terarah dan berkesinambungan. Dalam Undang-Undang
No. 20 Tahun 2003 pasal I ayat I Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional,dinyatakan
“Pendidikan
adalah usaha sadar
dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan
proses belajar agar
peserta didik secara
aktif membangun potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat,
bangsa dan negara.”
Pendidikan
merupakan faktor utama
yang menentukan kualitas
suatu bangsa. Pendidikan
bukanlah sesuatu yang
bersifat statis melainkan
sesuatu yang bersifat dinamis
sehingga selalu menuntut
adanya suatu perbaikan
yang bersifat terus menerus.
Peran pendidikan yang
sangat penting untuk menciptakan kehidupan
yang cerdas, damai,
terbuka dan demokratis.
Oleh karena itu, pembaruan pendidikan terus selalu dilakukan untuk
meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
Keberhasilan
penyelenggaraan pendidikan dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor
salah satunya adalah
kesiapan guru dalam
mempersiapkan peserta didik melalui
proses pembelajaran. Pada
hakekatnya penyampaian materi pembelajaran atau
proses belajar mengajar
merupakan proses komunikasi yaitu
proses penyampaian pesan atau pikiran
dari seseorang kepada orang
lain. Penggunaan metode
yang tepat akan
menjadikan siswa secara efektif
mampu menerima pesan
yang disampaikan. Menurut
Sri Rukmini (1993 : 99) orang yang belajar akan bertambah pengetahuannya
yang berarti tahu lebih banyak dari pada sebelum belajar.
Menurut
E.Mulyasa (2002:101) dalam kegiatan pembelajaran,
tugas guru adalah memberikan
kemudahan belajar melalui
bimbingan dan motivasi untuk mencapai tujuan.
Guru
sebagai unsur pokok penanggungjawab terhadap pelaksanaan dan
pengembangan proses belajar
mengajar, diharapkan dapat meningkatkan kualitas
proses belajar mengajar
merupakan inti dari
kegiatan transformasi ilmu pengetahuan
dari guru ke
siswa. Proses belajar
mengajar dapat terjadi dimana
saja,kapan saja dan
oleh siapa saja,
untuk mendesain kegiatan belajar
yang dapat merangsang
proses dan hasil
belajar yang efektif dan
efisien dalam setiap
materi pelajaran maka diperlukan
strategi atau metode penyampaian
materi yang tepat. Praktek
pendidikan saat ini
selain ditandai oleh
peran guru yang dominan juga ditandai
dengan siswa yang hanya
menghafalkan materi
pelajaran.
Pembelajaran
merupakan suatu kegiatan yang dirancang oleh guru agar siswa melakukan kegiatan
belajar untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan. Dalam merancang
kegiatan pembelajaran, seorang guru semestinya mengkombinasikan cara-cara
belajar yang dapat meningkatkan minat peserta didik terhadap pelajaran yang
diajarkan. Dengan penggunaan berbagai strategi belajar mengajar maka diharapkan
kompetensi yang hendak dicapai dapat menunjukkan tingkat ketercapaian yang
baik.
Untuk mencapai kompetensi yang baik, maka
guru harus mampu menggunakan beragam cara pembelajaran dalam upaya menarik
minat peserta didik untuk belajar secara aktif dan kreatif. Cara-cara dalam
pembelajaran leih dikenal dengan strategi belajar dan mengajar.
Strategi belajar dan mengajar meliputi
cara-cara pembelajaran konvensional dan cara belajar akif. Cara belajar yang
berbeda harusnya digunakan dan disesuaikan dengan pembahasan materi
pembelajaran yang akan diajarkan.
Keberhasilan proses pembelajaran tidak
terlepas dari kemampuan guru mengembangkan model-model pembelajaran yang
berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif di
dalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada
dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan
siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat meraih
hasil belajar dan prestasi yang optimal.
Namun demikian, penggunaan model pembelajaran
masih kurang banyak dikembangkan dan diimplementasikan. Model pembelajaran
masih sebatas pengembangan dalam bentuk teori namun belum banyak diterapkan
dalam upaya pengajaran. Nyatanya guru masih banyak mengajar dengan cara-cara
yang dinilai masih konvensional dan masih berorientasi pada guru.
Makalah ini akan lebih spesifik membahas
tentang penggunaan model pembelajaran, strategi pembelajaran, pendekatan
pembelajaran, teknik mengajar, dan taktik mengajar di kelas X AP SMK PAB 3
Medan.
1.2. Tujuan dan Manfaat
Adapun tujan dari penulisan makalah ini
adalah untuk mengetahui strategi guru dalam mengajar dan untuk melihat
penggunaan model pembelajaran, teknik, hingga taktik guru dalam mengajar pada
mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas X AP SMK PAB 3 Medan .
Dan adapun manfaat mini riset ini adalah
1.
Bagi
pembaca, untuk mengetahui kondisi belajar di kelas X AP SMK PAB 3.
2.
Bagi
penulis lain, sebagai sumber referensi dalam menyusun laporan sejenis.
BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR
Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Variasi
model pembelajaran adalah hasil dari pengembangan model-model belajar
konvensional dan meruopakan tuntutan sebagai akibat dari dinamisnya materi
belajar dan tuntutan pendidikan.
Menurut Toeti Soekamto dan Winataputra
(1995:78) mendefinisikan ‘model pembelajaran’ sebagai kerangka konseptual yang
menggambarkan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar
bagi para siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan berfungsi sebagai
pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan
dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
Sebagaimana telah didefenisikan bahwa model
pembelajaran adalah sebuah kerangka konseptual, artinya sebagai konsep yang
disusun dan direncanakan untuk diimplementasikan dengan tujuan akhir pencapaian
kometensi peserta didik. ·
Peran
seorang guru dalam proses pembelajaran untuk membantu siswa mendapatkan
informasi dan mengemukakan
ide dapat melalui model pembelajaran. Model pembelajaran berfungsi pula
sebagai pedoman bagi para
perancang pembelajaran dan
para guru dalam merencanakan aktifitas
belajar mengajar.
Milss (dalam Agus Suprijono, 2009:45)
berpendapat bahwa model
adalah bentuk representasi akurat
sebagai proses aktual
yang memungkinkan seseorang atau
sekelompok orang mencoba
bertindak berdasarkan model itu.
Model diartikan sebagai
kerangka konseptual yang dapat digunakan sebagai
pedoman dalam melakukan
kegiatan (Dimyati dan Mudjiono, 2006).
Menurut Agus Suprijono (2010:46), model
pembelajaran adalah pola yang digunakan
sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran seperti penyusunan
kurikulum, mengatur materi dan memberi petunjuk
guru di kelas
maupun tutorial. Kegiatan dalam
proses
pembelajaran tersebut dapat
terwujud melalui penggunaan pendekatan dari
model pembelajaran yang
bervariasi serta proses pembelajaran yang
berpusat pada siswa.
Model
pembelajaran berfungsi pula sebagai pedoman bagi para perancang
pembelajaran dan para guru dalam merencanakan aktifitas belajar mengajar. Menurut Arends
(dalam Agus Suprijono,
2009:46), model
pembelajaran mengacu pada
pendekatan yang akan
digunakan, termasuk di
dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran,
tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan
pembelajaran dan pengelolaan kelas. Model
pembelajaran dapat didefinisikan sebagai
kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Pendekatan pembelajaran
dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang
sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan,
dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari
pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1)
pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student
centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau
berpusat pada guru (teacher centered approach).
Kemp (dalam Wina
Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan
pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran
dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip
pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi
pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada
dasarnya masih bersifat konseptual dan meruapak sebuah rancangan tentang
keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Metode pembelajaran di
sini dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan
rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat
digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1)
ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6)
pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan
sebagainya.
Teknik
pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam
mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode
ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik
tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode
ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan
penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang
siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal
ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang
sama.
Sementara
taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau
teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua
orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda
dalam taktik yang digunakannya. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan
atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan
tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan.
2.2
Kerangka Berpikir
Belajar adalah suatu proses yang dilakukan
manusia untuk mendapatkan suatu hasil dalam interaksi aktif dengan lingkungannya, sehingga
dengan interaksi aktif
dan saling bertukar informasi dapat
terjadi perubahan-perubahan yang
relatif yang berbekas.
Proses pembelajaran di lingkungan sekolah
dapat dipengaruhi oleh penggunaan model pembelajaran. Model belajar yang tepat dapat
menciptakan lingkungan belajar siswa yang baik, sehingga hasil belajar dapat
meningkat.
Model konvensional tidak dapat dikatakan
relevan lagi dengan majunya dunia pendidikan. Dinamisnya perkembangan zaman
menuntut siswa untuk tahu lebih banyak pengetahuan baik pengetahuan sains
maupun pengetahuan umum dan teknologi. Model-model konvensional seharusya tidak
lagi digunakan demi menunjang pengetahuan siswa untuk mampu menjawab persolan
di dunia yang semakin dinamis.
Guru sebagai sarana belajar bagi peserta
didik seharusnya menggunakan strategi belajar yang variatif, guru juga harus
menyelingi pembelajaran dengan intermezzo,
maka dengan demikian pelajaran tidak akan banyak menguras pikiran tetapi dapat
menarik perhatian peserta didik dalam belajar. Taktik guru untuk mensiasati
pembelajaran agar berlangsung menarik adalah dengan menonjolkan diri guru
sebagaimana adanya dengan memperhatiakan aspek-aspek tertentu sepeti misalnya
pembawaan yang tidak mengundang kericuhan dan dapat membuyarkan perhatian dan
fokus siswa terhadap pelajaran yang sedang berlangsung.
BAB III
METODE PELAKSANAAN
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan
metode tinjau langsung atau observasi.
Observasi
Tahap-tahap Observasi sebagai berikut :
a.
Melakukan perizinan ke sekolah pada tanggal 25 Maret 2017
b.
Melakukan koordinasi dengan guru bidang studi Bahasa
Indonesia
c.
Menentukan kelas yang akan diobservasi
d.
Melaksanakan Observasi I pada tanggal 29 Maret 2017
e.
Melakukan observasi II pada tanggal 08 April 2017
3.2 Sampel Penelitian
3.2.2 .Sampel dan
Teknik Pengambilan
Sampel
menurut Suharsimi Arikunto
(2006:131) adalah sebagian atau wakil dari jumlah populasi yang
diteliti. Sedangkan menurut Sudjana(2005:6) sampel adalah sebagian contoh
yang diambil dari
populasi. Sampel yang
digunakan oleh peneliti adalah
kelas X Administrasi Perkantoran SMK PAB 3. Jumlah siswa adalah 28 orang
dengan rincian 24 orang siswa wanita dan 4 orang siswa laki-laki.
Sebagai perbandingan, observer juga mengamati siswa di
kelas X STM PAB 3 Medan dengan rincian terdiri dari 15 siswa yang
keseluruhannya adalah siswa laki-laki.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah:
1.
Observasi
Observasi dilakukan
untuk mengetahui kondisi
lingkungan belajar siswa, melihat
penggunaan model pembelajaran, teknik belajar strategi dan taktik mengajar guru
dan melihat aktivitas pembelajaran guru dan siswa khususnya mengenai penggunaan
model pembelajaran.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Lokasi Observasi
Lokasi penelitian adalah SMK PAB
3 Medan. Sekolah ini terletak di Jalan Mesjid No 1, Medan Estate, Medan Barat,
Kota Medan, Sumatera Utara. Kelas yang menjadi lokasi obsevasi adalah kelas X
Administrasi Perkantoran SMK PAB 3 Medan. Jumlah siswa di kelas X AP SMK PAB 3
sebanyak 28 orang dengan rincian 24 orang siswa wanita dan 4 orang siswa
laki-laki. Dan kelas kedua adalah kelas X STM Pab 3 Medan.
4.2 Deskripsi Data dan Hasil Penelitian
Observasi dilakukan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Observasi dilakukan
untuk mengetahui kegiatan
belajar mengajar selama pembelajaran
berlangsung. Guru membuka pelajaran dengan memberikan salam kepada
siswa. Guru menanyakan absensi siswa dan memperhatikan kelengkapan dan kesiapan
siswa dalam menerima pelajaran. Dalam beberapa kali observasi guru menggunakan
model pembelajaran konvensional/tidak memodifikasi pembelajaran. Proses
pembelajaran berjalan dengan baik namun tidak terlalu menarik akibat penggunaan
model yang konvensional dan kurang aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa
kurang kondusif karena terlihat jenuh dengan proses pembelajaran.
Diambil dari hasil konfirmasi dengan guru mata pelajaran Bahasa
Indonesia, bahwa nilai ujian harian siswa tidak terlalu mengesankan. Banyak
siswa yang belum lulus ujian harian. Sebanyak 21 (75%) orang siswa tidak mencapai kelulusan dengan tingkat
Kriteria Kelulusan Minimal (KKM) sebesar 75. Siswa yang dinyatakan lulus ujian
harian sebanyak 7 orang (25%) saja. Artinya tingkat kelulusan masih sangat
rendah. Sementara di kelas kedua tidak ada satupun siswa yang dinyatakan lulus
pada ujian harian.
Dari data diatas dapat terlihat bahwa, penggunaan model pembelajaran
konvensional tidak impresif dan kurang membangkitkan gairah dan semangat
belajar peserta didik. Siswa tidak mampu mencapai kelulusan sebab guru mengajar
dengan desain pembelajaran yang monoton, tidak aktif dan lebih banyak
berorientasi pada guru.
Guru menggunakan model, pedekatan, strategi ,teknik, dan taktik
pembelajaran yang sama, semantara karakteristik kelas yang berbeda. Penggunaan
model yang sama untuk kelas yang berbeda tidak jauh mengalami perbedaan. Yang
menjadi perbedaan mendasar adalah kondusifitas kelas yang berbeda akibat
perbedaan karakteristik kelas.
Lebih lanjut dijelaskan model,
strategi dan lainnya sebagai berikut :
1.
Model pembelajaran yang digunakan oleh guru untuk dua
kelas yang berbeda adalah menggunakan model konvensional yaitu berorientasi
pada guru dan tidak ada bentuk partisipasi aktif dari para siswa. Peserta didik
lebih banyak diam dan berperan sebagai pendengar.
2.
Pendekatan guru dalam mengajar menggunakan pendekatan
Teacher Center Learnig, terlihat dari metode ceramah yang digunakan oleh guru
dalam mengajar.
3.
Strategi guru adalah menerapkan sistem tanya jawab dan
dan demontrasi.
4.
Terkait teknik
pembelajaran, guru tidak banyak mengubah teknik pembelajaran pada kedua kelas,
sementara karakteristik kelas berbeda. Yang cukup berbeda adalah bentuk
ketegasan di kelas pertama lebih tinggi karena kontrol kelas yang lebih besar.
5.
Taktik guru adalah dengan sedikit menggunakan selingan
intermezzo dan selingan candaan ringan terdahap murid, namun guru tidak banyak
menunjukkan ekspresi.
Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa guru Bahasa Indonesia tidak menggunakan model siswa
akif pada pembelajaran. Guru lebih berperan sental semnetara siswa hanya
bertidak sebagai pengamat dan pendengar. Dengan gaya belajar mengajar yang
demikian, tampak bahwa siswa lebih asyik sendiri ataupun bercengkrama dengan
teman sebangku dan tidak memperhatikan penjelasan guru ketika mengajar. Peserta
didik kurang responsif karena tidak terlalu memperhatikan penjelasn guru.
Imbasnya adalah hasil belajar siswa menjadi jelek dan banyak siswa yang tidak
lulus Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
BAB V
KESIMPULAN DAN
SARAN
5.1
Kesimpulan
Pembelajaran di kelas X AP SMK PAB 3 Medan dan kelas X STM PAB 3 Medan
berlangsung cukup baik. Model pembelajaran masih menggunakan model pembelajaran
konvensional pada kedua kelas. Penggunaan model pembelajaran konvensional tidak
terlalu menarik bagi siswa. Kelas
berlangsung dengan cukup baik hanya saja
kurang responsif karena model ceramah dan tanya jawab yang dilakukan
sudah sangat biasa dan tidak menarik bagi siswa. Model konvensional juga
berdampak pada rendahmya tingkat kelulusan siswa dalam ujian harian.
5.2
Saran
Berdasarkan
kesimpulan, maka penulis menyarankan :
1.
Guru bidang studi Bahasa Indonesia hendaknya memilih dan
menggunakan model pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa, yang menjadikan
siswa sebagai subjek
belajar, sehingga proses pembelajaran dapat lebih bermakna dan
berkesan dihati para siswa.
2.
Guru diharapkan lebih kreatif dalam menggunakan berbagai
strategi pembelajaran selain pembelajaran kooperatif, sehingga peserta didik
tidak merasa bosan
dengan pembelajaran yang
hanya bersifat konvensional.
3.
Guru diharapkan
selalu mencari dan
menemukan metode-metode baru yang
dapat meningkatkan hasil
belajar yang dapat
menyentuh ketiga ranah dalam
pendidikan yaitu ranah
kognitif, afektif, dan
psikomotorik.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Suprijono.
(2009). Cooperative Learning.Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Dimyati dan
Mudjiono. (2006). Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
E. Mulyasa. (2006).
Menjadi Guru Profesional.Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Lubis, Effi Aswita.2016.Strategi Belajar Mengajar.Medan:Perdana Publishing
Nur Azmi, Sarah.Perbandingan
Antara Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe
STAD
Dengan Pembelajaran Konvensional Dalam
Rangka Meningkatkan Hasil
Belajar PAI. UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Sri Rukmini
dkk. (1993). Psikologi
Pendidikan. Yogyakarta: UPP
IKIP Yogyakarta.
Suharsimi Arikunto.
(2005). Manajemen Penelitian.
Jakarta: Rineka Cipta.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta:
Kencana Prenada Media
Group.
Lampiran
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
RPP
|
Kelas/Semester Pertemuan ke Alokasi Waktu Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator : |
: : : : : |
XI / IV 8 dan 9 4 x 45 menit (2 X pertemuan) Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia setara tingkat Madia. 2.12 Menulis wacana yang bercorak naratif, deskriptif,
ekspositoris, dan argumentatif Menulis wacana yang bercorak naratif, deskriptif,
ekspositoris, dan argumentatif. 1.
Menulis
suatu kejadian dalam bentuk narasi serta memuat unsur-unsur yang
melingkupinya secara kronologis 2.
Membuat
deskripsi secara dari gambar
/bagan/tabel/grafik/diagram/ matriks yang dilihat atau didengar sepanajng
150-200 kata dalam waktu 30 menit 3.
Membuat
eksposisi dari suatu peristiwa 4.
Menyusun argumentasi dengan tujuan untuk
meyakinkan pembaca tentang suatu peristiwa kerja agar menerima suatu sikap
dan opini secara logis |
I. Tujuan Pembelajaran :
- Peserta didik
Siswa
diharapkan mampu memahami jenis teks tertulis
- Peserta didik
mampu
membedakan jenis teks tertulis.
- Peserta didik
mampu
membuat berbagai jenis teks
II. Materi ajar :
· Narasi: pengertian; ciri-ciri; unsur intrinsik; tahap
penulisan; jenis & sifat
· Deskripsi:pengertian;
ciri-ciri;unsur pengindraan; tahap penulisan: jenis & sifat
· Eksposisi:
pengertian; ciri-ciri; unsur; tahap penulisan; jenis & sifat
· Argumentasi:
pengertian; logika/nalar dalam argumentasi; ciri-ciri; unsur-unsur; tahap
penulisan;jenis
·
Contoh paragraf dari keempat jenis
karangan di atas
III. Metode Pembelajaran :
·
Metode Reseptif
dan Produktif
·
Metode Komunikatif
·
Metode demontrasi
·
Metode penugasan
·
Metode diskusi
|
Pertemuan
ke |
Langkah-langkah
Pembelajaran |
Alokasi waktu |
|
Pertemuan ke delapan |
Kegiatan Awal : - Guru mengajak siswa untuk berdoa berdasarkan
keyakinan masing – masing (religius) - Pengkondisian kelas serta mengabsen siswa Apersepsi Guru memberikan petunjuk dalam pengantar materi yang
akan diajaran Motivasi Guru meminta siswa
memperhatikan materi yang akan diajarkan, kemudian siswa diajak aktif dalam
proses pembelajaran 1.
Peserta didik menyimak informasi tentang tujuan pembelajaran KD 1.12 Kegiatan Inti
1.
Peserta didik
mencermati contoh-contoh karangan narasi, deskripsi, eksposisi, dan
argumentasi oleh guru dengan penuh perhatian (elaborasi) 2.
Peserta didik secara
berkelompok menemukan ciri-ciri wacana narasi, deskripsi, eksposisi, dan
argumentasi berdasarkan contoh-contoh yang disediakan secara bersahabat dan
komunikatif. (eksplorasi) 3.
Peserta didik
mendefinisikan narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi berdasarkan
contoh-contoh yang disediakan dengan penuh semangat 4. Peserta didik
mencari langkah-langkah mengarang narasi, deskripsi, eksposisi,
dan argumentasi dengan benar Kegiatan Akhir : 1.
Peserta didik dipandu
oleh guru menyimpulkan hasil belajarsecara berani dan mandiri. (konfirmasi) 2. Peserta didik ditugasi
guru untuk mengamati dan menuliskan kejadian disekitarnya secara naratif
dengan cermat dan teliti |
10 menit 70 menit 10 menit |
|
Pertemuan sembilan |
Kegiatan Awal - Guru mengajak siswa untuk berdoa berdasarkan
keyakinan masing – masing (religius) - Pengkondisian kelas serta mengabsen siswa Apersepsi Guru memberikan petunjuk dalam pengantar materi yang
akan diajaran Motivasi Guru meminta siswa
memperhatikan materi yang akan diajarkan, kemudian siswa diajak aktif dalam
proses pembelajaran Kegiatan Inti 1.
Peserta didik dibagi
kelompok (satu kelompok 2 orang) (elaborasi)
dan bekerja dengan bersahabat dan komunikatif. 1.
Siswa mengambil kata kunci yang telah
disediakan. 2.
Peserta didik menulis
karangan berdasarkan kata kunci yang didapatkan kemudia disesuaikan dengan
gambar yang telah disediakan secara
mandiri, penuh tanggung jawab dan tepat waktu.(eksplorasi) Kegiatan Akhir 1.
Peserta didik
bersama guru menyimpulkan pembelajaran (konfirmasi) 2.
Refleksi / umpan
balik 3.
Peserta didik
menerima informasi mengenai pembelajaran selanjutnya. |
10 menit 70 menit 10 menit |
VI.
Alat / Bahan / Sumber Belajar :
(2004-2005). Komposisi
Bahasa Indonesia
Keraf,G. (1987). Deskripsi
dan Eksposisi.
Keraf,G. (1987).
Argumentasi dan Narasi
Contoh
teks narasi, deskripsi. eksposisi, dan argumentasi
Modul Bahasa Indonesia Tk Madia
VII. Penilaian :
Jenis
tes:
Tertulis





|
Mengetahui, Kepala Sekolah |
Medan, Januari 2017 Guru Mata Pelajaran |
Lampiran Gambar. Kegiatan Kelas Saat Observasi Berlangsung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar