Senin, 03 Mei 2021

CF OBSERVASI PENGGUNAAN MODEL PEMBELARAN DI KELAS X AP SMK PAB 3 MEDAN

 

Laporan mini riset

 

 CF OBSERVASI PENGGUNAAN MODEL PEMBELARAN

DI KELAS X AP SMK PAB 3 MEDAN

 

Mata Kuliah Psikologi Pendidikan

Diajukan Untuk Memenuhi  Salah Satu Tugas

 

 

LOGO_N_FEUNIMED3
 

 

 

 

 

 

 


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2017


KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan Rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas laporan mini riset pada mata kuliah Psikologi Pendidikan yang berjudul “Observasi Penggunaan Model Pembelaran Di Kelas X AP SMK PAB 3 Medan”.

Penulis berterima kasih kepada Ibu Srinahyanti,S.Pd.,M.Pd selaku dosen mata kuliah Psikologi Pendidikan yang sudah memberikan bimbingannya selama proses pengerjaan,  juga kepada rekan-rekan yang mendukung dan membantu penyelesaian tugas ini.

Penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kata sempurna untuk itu penulis mengharapkan kritik maupun saran dari pembaca demi kesempurnaan tugas ini.

Akhir kata penulis ucapkan terima kasih semoga kritik buku ini dapat bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan bagi pembaca.

 

 

 

                                                                                                Medan,     April 2017

                                                                                                           

                                                                                                  


DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR.. ..........i

DAFTAR ISI. ....... .ii

ABSTRAK.............................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN.. ....... .1

1.1 Latar Belakang.   .......... 1

1.2. Tujuan dan Manfaat ............ 3

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR.. ........ 4

2.1. Uraian Teori .............4

2.2 Kerangka Berpikir. .............6

BAB III METODE PELAKSANAAN.. .........7

3.1        Metode Pelaksanaan. .........7

3.2 Sampel Penelitian. .............7

3.2.2 .Sampel dan Teknik Pengambilan............................................................................... 7

3.3 Teknik Pengumpulan Data. .............7

BAB IV PEMBAHASAN.. ........ 8

4.1 Deskripsi Lokasi Observasi .............8

4.2 Deskripsi Data dan Hasil Penelitian. .............8

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.. .......10

5.1 Kesimpulan. ...........10

5.2 Saran. ...........10

DAFTAR PUSTAKA.. .......11

Lampiran. .......12

 


 

OBSERVASI PENGGUNAAN MODEL PEMBELARAN

DI KELAS X AP SMK PAB 3 MEDAN

 

ABSTRAK

 

 

Penelitian sederhana (Mini Research) ini bertujuan untuk mengetahui  penggunaan model pembelajaran, strategi pembelajaran, moteode pembelajaran teknik dan taktik mengajar  di kelas X AP SMK PAB 3 Medan.

Teknik pengambilan data adalah dengan menggunakan metode observasi. Yang menjadi sampel penelitian adalah siswa di kelas X AP SMK PAB 3 Medan yang berjumlah 28 orang dengan rincian 24 orang siswa perempuan dan 4 orang siswa laki-laki.

Hasil observasi  yang telah dilakukan, guru menggunakan model pembelajaran, metode, strategi, teknik, taktik  yang masih konvensional sehingga tidak mampu mendorong motivasi belajar siswa. Maka dapat disimpulkan penggunaan model konvensional tidak impresif dan kurang mampu menarik minat siswa untuk meningkatkan prestasinya.

 

Kata Kunci : Konvensional, Model pembelajaran , Taktik dan Teknik


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Pendidikan memerankan peran yang sangat penting dalam membentuk kualitas  suatu  bangsa.  Menyadari  akan  hal  tersebut,  pemerintah  sangat  serius menangani  bidang  pendidikan.  Sistem  pendidikan  nasional  diharapkan  harus mampu menjamin  peningkatan  mutu  dan  efisiensi  manajemen  pendidikan untuk  menghadapi  tantangan  sesuai  dengan  tuntutan  perubahan  kehidupan lokal,  nasional  dan  global  sehingga  perlu  dilakukan  pembaharuan  pendidikan secara terencana, terarah dan berkesinambungan. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pasal I ayat I Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,dinyatakan

“Pendidikan  adalah  usaha  sadar  dan  terencana  untuk  mewujudkan suasana  belajar  dan  proses  belajar  agar  peserta  didik  secara  aktif membangun   potensi dirinya   untuk   memiliki   kekuatan   spiritual keagamaan,  pengendalian  diri,  kepribadian,  kecerdasan,  akhlak  mulia serta  ketrampilan  yang  diperlukan  dirinya,  masyarakat,  bangsa  dan negara.”

 

Pendidikan  merupakan  faktor  utama  yang  menentukan  kualitas  suatu bangsa. Pendidikan  bukanlah  sesuatu  yang  bersifat  statis  melainkan  sesuatu yang  bersifat  dinamis  sehingga  selalu  menuntut  adanya  suatu  perbaikan  yang bersifat   terus   menerus.   Peran   pendidikan   yang   sangat   penting   untuk menciptakan  kehidupan  yang  cerdas,  damai,  terbuka  dan  demokratis.  Oleh karena itu, pembaruan pendidikan terus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

Keberhasilan   penyelenggaraan   pendidikan   dapat   dipengaruhi   oleh beberapa  faktor  salah  satunya  adalah  kesiapan  guru  dalam  mempersiapkan peserta  didik  melalui  proses  pembelajaran.  Pada  hakekatnya  penyampaian materi   pembelajaran   atau   proses   belajar   mengajar   merupakan   proses komunikasi  yaitu  proses  penyampaian  pesan  atau  pikiran  dari  seseorang kepada  orang  lain.  Penggunaan  metode  yang  tepat  akan  menjadikan  siswa secara   efektif   mampu   menerima   pesan   yang   disampaikan.   Menurut   Sri Rukmini (1993 : 99) orang yang belajar akan bertambah pengetahuannya yang berarti tahu lebih banyak dari pada sebelum belajar.

Menurut  E.Mulyasa  (2002:101)  dalam  kegiatan  pembelajaran,  tugas guru  adalah  memberikan  kemudahan  belajar  melalui  bimbingan  dan  motivasi untuk mencapai tujuan.


Guru sebagai unsur pokok penanggungjawab terhadap pelaksanaan  dan  pengembangan  proses  belajar  mengajar,  diharapkan  dapat meningkatkan  kualitas  proses  belajar  mengajar  merupakan  inti  dari  kegiatan transformasi  ilmu  pengetahuan  dari  guru  ke  siswa.  Proses  belajar  mengajar dapat  terjadi  dimana  saja,kapan  saja  dan  oleh  siapa  saja,  untuk  mendesain kegiatan  belajar  yang  dapat  merangsang  proses  dan  hasil  belajar  yang  efektif dan  efisien  dalam  setiap  materi  pelajaran  maka  diperlukan  strategi  atau metode penyampaian materi yang tepat. Praktek  pendidikan  saat  ini  selain  ditandai  oleh  peran guru  yang dominan juga   ditandai   dengan   siswa   yang   hanya   menghafalkan   materi pelajaran.  

 Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dirancang oleh guru agar siswa melakukan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan. Dalam merancang kegiatan pembelajaran, seorang guru semestinya mengkombinasikan cara-cara belajar yang dapat meningkatkan minat peserta didik terhadap pelajaran yang diajarkan. Dengan penggunaan berbagai strategi belajar mengajar maka diharapkan kompetensi yang hendak dicapai dapat menunjukkan tingkat ketercapaian yang baik.

Untuk mencapai kompetensi yang baik, maka guru harus mampu menggunakan beragam cara pembelajaran dalam upaya menarik minat peserta didik untuk belajar secara aktif dan kreatif. Cara-cara dalam pembelajaran leih dikenal dengan strategi belajar dan mengajar.

Strategi belajar dan mengajar meliputi cara-cara pembelajaran konvensional dan cara belajar akif. Cara belajar yang berbeda harusnya digunakan dan disesuaikan dengan pembahasan materi pembelajaran yang akan diajarkan.

Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru mengembangkan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi yang optimal.

Namun demikian, penggunaan model pembelajaran masih kurang banyak dikembangkan dan diimplementasikan. Model pembelajaran masih sebatas pengembangan dalam bentuk teori namun belum banyak diterapkan dalam upaya pengajaran. Nyatanya guru masih banyak mengajar dengan cara-cara yang dinilai masih konvensional dan masih berorientasi pada guru.

Makalah ini akan lebih spesifik membahas tentang penggunaan model pembelajaran, strategi pembelajaran, pendekatan pembelajaran, teknik mengajar, dan taktik mengajar di kelas X AP SMK PAB 3 Medan.

 

1.2. Tujuan dan Manfaat

Adapun tujan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui strategi guru dalam mengajar dan untuk melihat penggunaan model pembelajaran, teknik, hingga taktik guru dalam mengajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas X AP SMK PAB 3 Medan .

 

Dan adapun manfaat mini riset ini adalah

1.      Bagi pembaca, untuk mengetahui kondisi belajar di kelas X AP SMK PAB 3.

2.      Bagi penulis lain, sebagai sumber referensi dalam menyusun laporan sejenis.

 

 

 

 

 

 

                                                                                                   


BAB II

KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

 

2.1.  Uraian Teori

Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Variasi model pembelajaran adalah hasil dari pengembangan model-model belajar konvensional dan meruopakan tuntutan sebagai akibat dari dinamisnya materi belajar dan tuntutan pendidikan.

Menurut Toeti Soekamto dan Winataputra (1995:78) mendefinisikan ‘model pembelajaran’ sebagai kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar bagi para siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.

 

Sebagaimana telah didefenisikan bahwa model pembelajaran adalah sebuah kerangka konseptual, artinya sebagai konsep yang disusun dan direncanakan untuk diimplementasikan dengan tujuan akhir pencapaian kometensi peserta didik. ·  

     Peran seorang guru dalam proses pembelajaran untuk membantu siswa  mendapatkan  informasi  dan  mengemukakan  ide  dapat  melalui model   pembelajaran. Model   pembelajaran berfungsi   pula   sebagai pedoman  bagi  para  perancang  pembelajaran  dan  para  guru  dalam merencanakan    aktifitas    belajar    mengajar.

Milss    (dalam    Agus Suprijono,    2009:45)    berpendapat    bahwa    model    adalah    bentuk representasi   akurat   sebagai   proses   aktual   yang   memungkinkan seseorang  atau  sekelompok  orang  mencoba  bertindak  berdasarkan model  itu.  Model  diartikan  sebagai  kerangka  konseptual  yang dapat digunakan  sebagai  pedoman  dalam  melakukan  kegiatan  (Dimyati  dan Mudjiono, 2006).

Menurut Agus Suprijono (2010:46), model pembelajaran adalah pola    yang    digunakan    sebagai pedoman  dalam merencanakan pembelajaran  seperti  penyusunan  kurikulum,  mengatur materi dan memberi  petunjuk  guru  di  kelas  maupun  tutorial.  Kegiatan dalam

proses   pembelajaran   tersebut   dapat   terwujud   melalui penggunaan pendekatan  dari  model  pembelajaran   yang  bervariasi  serta proses pembelajaran    yang    berpusat    pada    siswa.

Model    pembelajaran berfungsi pula sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam merencanakan aktifitas belajar mengajar. Menurut   Arends   (dalam   Agus   Suprijono,   2009:46),   model pembelajaran   mengacu   pada   pendekatan   yang   akan   digunakan, termasuk  di dalamnya  tujuan-tujuan  pembelajaran,  tahap-tahap  dalam kegiatan   pembelajaran,   lingkungan   pembelajaran   dan   pengelolaan kelas.   Model   pembelajaran   dapat   didefinisikan   sebagai   kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Kemp (dalam Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual dan meruapak sebuah rancangan tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.

Metode pembelajaran di sini dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan.

2.2 Kerangka Berpikir

Belajar adalah suatu proses yang dilakukan manusia untuk mendapatkan suatu hasil dalam interaksi aktif dengan lingkungannya,  sehingga  dengan  interaksi  aktif  dan  saling  bertukar informasi   dapat   terjadi   perubahan-perubahan   yang   relatif   yang berbekas.

Proses pembelajaran di lingkungan sekolah dapat dipengaruhi oleh penggunaan model pembelajaran. Model belajar yang tepat dapat menciptakan lingkungan belajar siswa yang baik, sehingga hasil belajar dapat meningkat.

Model konvensional tidak dapat dikatakan relevan lagi dengan majunya dunia pendidikan. Dinamisnya perkembangan zaman menuntut siswa untuk tahu lebih banyak pengetahuan baik pengetahuan sains maupun pengetahuan umum dan teknologi. Model-model konvensional seharusya tidak lagi digunakan demi menunjang pengetahuan siswa untuk mampu menjawab persolan di dunia yang semakin dinamis.

Guru sebagai sarana belajar bagi peserta didik seharusnya menggunakan strategi belajar yang variatif, guru juga harus menyelingi pembelajaran dengan intermezzo, maka dengan demikian pelajaran tidak akan banyak menguras pikiran tetapi dapat menarik perhatian peserta didik dalam belajar. Taktik guru untuk mensiasati pembelajaran agar berlangsung menarik adalah dengan menonjolkan diri guru sebagaimana adanya dengan memperhatiakan aspek-aspek tertentu sepeti misalnya pembawaan yang tidak mengundang kericuhan dan dapat membuyarkan perhatian dan fokus siswa terhadap pelajaran yang sedang berlangsung.

 

 

 

 

 


 

BAB III

METODE PELAKSANAAN

 

3.1    Metode Pelaksanaan

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode tinjau langsung atau observasi.

Observasi

Tahap-tahap Observasi sebagai berikut :

a.       Melakukan perizinan ke sekolah pada tanggal 25 Maret 2017

b.      Melakukan koordinasi dengan guru bidang studi Bahasa Indonesia

c.       Menentukan kelas yang akan diobservasi

d.      Melaksanakan Observasi I pada tanggal 29 Maret 2017

e.       Melakukan observasi II pada tanggal 08 April 2017

 

3.2 Sampel Penelitian

  3.2.2 .Sampel dan Teknik Pengambilan

Sampel  menurut  Suharsimi  Arikunto  (2006:131)  adalah  sebagian atau wakil dari jumlah populasi yang diteliti. Sedangkan menurut Sudjana(2005:6) sampel  adalah sebagian  contoh  yang  diambil  dari  populasi. Sampel  yang digunakan  oleh peneliti  adalah  kelas X Administrasi Perkantoran SMK PAB 3. Jumlah siswa adalah 28 orang dengan rincian 24 orang siswa wanita dan 4 orang siswa laki-laki.

Sebagai perbandingan, observer juga mengamati siswa di kelas X STM PAB 3 Medan dengan rincian terdiri dari 15 siswa yang keseluruhannya adalah siswa laki-laki.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1.      Observasi

Observasi  dilakukan  untuk  mengetahui  kondisi  lingkungan  belajar siswa, melihat penggunaan model pembelajaran, teknik belajar strategi dan taktik mengajar guru dan melihat aktivitas pembelajaran guru dan siswa khususnya mengenai penggunaan model pembelajaran.

 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

4.1 Deskripsi Lokasi Observasi

Lokasi penelitian adalah SMK  PAB 3 Medan. Sekolah ini terletak di Jalan Mesjid No 1, Medan Estate, Medan Barat, Kota Medan, Sumatera Utara. Kelas yang menjadi lokasi obsevasi adalah kelas X Administrasi Perkantoran SMK PAB 3 Medan. Jumlah siswa di kelas X AP SMK PAB 3 sebanyak 28 orang dengan rincian 24 orang siswa wanita dan 4 orang siswa laki-laki. Dan kelas kedua adalah kelas X STM Pab 3 Medan.

4.2 Deskripsi Data dan Hasil Penelitian

Observasi dilakukan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Observasi   dilakukan   untuk   mengetahui   kegiatan   belajar mengajar  selama  pembelajaran  berlangsung. Guru membuka pelajaran dengan memberikan salam kepada siswa. Guru menanyakan absensi siswa dan memperhatikan kelengkapan dan kesiapan siswa dalam menerima pelajaran. Dalam beberapa kali observasi guru menggunakan model pembelajaran konvensional/tidak memodifikasi pembelajaran. Proses pembelajaran berjalan dengan baik namun tidak terlalu menarik akibat penggunaan model yang konvensional dan kurang aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa kurang kondusif karena terlihat jenuh dengan proses pembelajaran.

Diambil dari hasil konfirmasi dengan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, bahwa nilai ujian harian siswa tidak terlalu mengesankan. Banyak siswa yang belum lulus ujian harian. Sebanyak 21 (75%) orang siswa  tidak mencapai kelulusan dengan tingkat Kriteria Kelulusan Minimal (KKM) sebesar 75. Siswa yang dinyatakan lulus ujian harian sebanyak 7 orang (25%) saja. Artinya tingkat kelulusan masih sangat rendah. Sementara di kelas kedua tidak ada satupun siswa yang dinyatakan lulus pada ujian harian.

Dari data diatas dapat terlihat bahwa, penggunaan model pembelajaran konvensional tidak impresif dan kurang membangkitkan gairah dan semangat belajar peserta didik. Siswa tidak mampu mencapai kelulusan sebab guru mengajar dengan desain pembelajaran yang monoton, tidak aktif dan lebih banyak berorientasi pada guru.

Guru menggunakan model, pedekatan, strategi ,teknik, dan taktik pembelajaran yang sama, semantara karakteristik kelas yang berbeda. Penggunaan model yang sama untuk kelas yang berbeda tidak jauh mengalami perbedaan. Yang menjadi perbedaan mendasar adalah kondusifitas kelas yang berbeda akibat perbedaan karakteristik kelas.

            Lebih lanjut dijelaskan model, strategi dan lainnya sebagai berikut :

1.      Model pembelajaran yang digunakan oleh guru untuk dua kelas yang berbeda adalah menggunakan model konvensional yaitu berorientasi pada guru dan tidak ada bentuk partisipasi aktif dari para siswa. Peserta didik lebih banyak diam dan berperan sebagai pendengar.

2.      Pendekatan guru dalam mengajar menggunakan pendekatan Teacher Center Learnig, terlihat dari metode ceramah yang digunakan oleh guru dalam mengajar.

3.      Strategi guru adalah menerapkan sistem tanya jawab dan dan demontrasi.

4.      Terkait  teknik pembelajaran, guru tidak banyak mengubah teknik pembelajaran pada kedua kelas, sementara karakteristik kelas berbeda. Yang cukup berbeda adalah bentuk ketegasan di kelas pertama lebih tinggi karena kontrol kelas yang lebih besar.

5.      Taktik guru adalah dengan sedikit menggunakan selingan intermezzo dan selingan candaan ringan terdahap murid, namun guru tidak banyak menunjukkan ekspresi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru Bahasa Indonesia tidak menggunakan model siswa akif pada pembelajaran. Guru lebih berperan sental semnetara siswa hanya bertidak sebagai pengamat dan pendengar. Dengan gaya belajar mengajar yang demikian, tampak bahwa siswa lebih asyik sendiri ataupun bercengkrama dengan teman sebangku dan tidak memperhatikan penjelasan guru ketika mengajar. Peserta didik kurang responsif karena tidak terlalu memperhatikan penjelasn guru. Imbasnya adalah hasil belajar siswa menjadi jelek dan banyak siswa yang tidak lulus Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Pembelajaran di kelas X AP SMK PAB 3 Medan dan kelas X STM PAB 3 Medan berlangsung cukup baik. Model pembelajaran masih menggunakan model pembelajaran konvensional pada kedua kelas. Penggunaan model pembelajaran konvensional tidak terlalu menarik bagi siswa.  Kelas berlangsung dengan cukup baik hanya saja  kurang responsif karena model ceramah dan tanya jawab yang dilakukan sudah sangat biasa dan tidak menarik bagi siswa. Model konvensional juga berdampak pada rendahmya tingkat kelulusan siswa dalam ujian harian.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan, maka penulis menyarankan :

1.      Guru bidang studi Bahasa Indonesia hendaknya memilih dan menggunakan model pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa, yang  menjadikan  siswa  sebagai  subjek  belajar,  sehingga  proses pembelajaran dapat lebih bermakna dan berkesan dihati para siswa.

2.      Guru diharapkan lebih kreatif dalam menggunakan berbagai strategi pembelajaran selain pembelajaran kooperatif, sehingga peserta didik tidak   merasa   bosan   dengan   pembelajaran   yang   hanya   bersifat konvensional.

3.       Guru  diharapkan  selalu  mencari    dan  menemukan  metode-metode baru  yang  dapat  meningkatkan  hasil  belajar  yang  dapat  menyentuh ketiga  ranah  dalam  pendidikan    yaitu  ranah  kognitif, afektif,  dan psikomotorik.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agus Suprijono. (2009). Cooperative Learning.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Dimyati dan Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

E. Mulyasa. (2006). Menjadi Guru Profesional.Bandung:  PT.Remaja Rosdakarya.

Lubis, Effi Aswita.2016.Strategi Belajar Mengajar.Medan:Perdana Publishing

Nur Azmi, Sarah.Perbandingan Antara Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe

STAD Dengan Pembelajaran Konvensional Dalam  Rangka Meningkatkan  Hasil

Belajar  PAI. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sri   Rukmini   dkk.   (1993). Psikologi   Pendidikan. Yogyakarta:   UPP   IKIP Yogyakarta.

Suharsimi Arikunto. (2005). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:

Kencana Prenada Media Group.

 


 

Lampiran

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

RPP

 

 

Mata Pelajaran

Kelas/Semester

Pertemuan ke

Alokasi Waktu

Standar Kompetensi

 

Kompetensi Dasar        

 

 

Indikator :

 

 

 

 

 

 

:

:

:

:

 

:

 

:

Bahasa Indonesia

XI / IV

8 dan 9

4 x 45 menit (2 X pertemuan)

 

Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia   setara

tingkat  Madia.

2.12 Menulis wacana yang bercorak naratif, deskriptif, ekspositoris, dan argumentatif

Menulis wacana yang bercorak naratif, deskriptif, ekspositoris, dan argumentatif.

1.       Menulis suatu kejadian dalam bentuk narasi serta memuat unsur-unsur yang melingkupinya secara kronologis

2.       Membuat deskripsi secara  dari gambar /bagan/tabel/grafik/diagram/ matriks yang dilihat atau didengar sepanajng 150-200 kata dalam waktu 30 menit

3.       Membuat eksposisi dari suatu peristiwa

4.    Menyusun argumentasi dengan tujuan untuk meyakinkan pembaca tentang suatu peristiwa kerja agar menerima suatu sikap dan opini secara logis

 

I. Tujuan Pembelajaran :

  1. Peserta didik Siswa diharapkan mampu memahami jenis teks tertulis
  2. Peserta didik mampu membedakan jenis teks tertulis.
  3. Peserta didik mampu membuat berbagai jenis teks

II. Materi ajar :

·   Narasi: pengertian; ciri-ciri; unsur intrinsik; tahap penulisan; jenis & sifat

·  Deskripsi:pengertian; ciri-ciri;unsur pengindraan; tahap penulisan: jenis & sifat

·  Eksposisi: pengertian; ciri-ciri; unsur; tahap penulisan; jenis & sifat

·  Argumentasi: pengertian; logika/nalar dalam argumentasi; ciri-ciri; unsur-unsur; tahap penulisan;jenis

·   Contoh paragraf dari keempat jenis karangan di atas



III. Metode Pembelajaran :


·      Metode Reseptif  dan Produktif

·      Metode Komunikatif

·      Metode demontrasi

·      Metode penugasan

·      Metode diskusi


I.                   Kegiatan  Pembelajaran

 

Pertemuan ke

Langkah-langkah Pembelajaran

Alokasi waktu

Pertemuan ke delapan

Kegiatan Awal :

-       Guru mengajak siswa untuk berdoa berdasarkan keyakinan masing – masing (religius)

-       Pengkondisian kelas serta mengabsen siswa

Apersepsi

Guru memberikan petunjuk dalam pengantar materi yang akan diajaran

Motivasi

Guru meminta siswa memperhatikan materi yang akan diajarkan, kemudian siswa diajak aktif dalam proses pembelajaran

1.      Peserta didik menyimak informasi tentang tujuan pembelajaran KD 1.12

Kegiatan Inti    

1.      Peserta didik mencermati contoh-contoh karangan narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi oleh guru dengan penuh perhatian (elaborasi)

2.      Peserta didik secara berkelompok menemukan ciri-ciri wacana narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi berdasarkan contoh-contoh yang disediakan secara bersahabat dan komunikatif. (eksplorasi)

3.      Peserta didik mendefinisikan narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi berdasarkan contoh-contoh yang disediakan dengan penuh semangat

4.      Peserta didik mencari langkah-langkah mengarang narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi dengan benar

Kegiatan Akhir :

1.      Peserta didik dipandu oleh guru menyimpulkan hasil belajarsecara berani dan mandiri. (konfirmasi)

2.      Peserta didik ditugasi guru untuk mengamati dan menuliskan kejadian disekitarnya secara naratif dengan cermat dan teliti

10  menit

 

 

 

 

70 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10 menit

 

 

 Pertemuan sembilan

Kegiatan Awal

-       Guru mengajak siswa untuk berdoa berdasarkan keyakinan masing – masing  (religius)

-       Pengkondisian kelas serta mengabsen siswa

Apersepsi

Guru memberikan petunjuk dalam pengantar materi yang akan diajaran

Motivasi

Guru meminta siswa memperhatikan materi yang akan diajarkan, kemudian siswa diajak aktif dalam proses pembelajaran

 

Kegiatan Inti

1.      Peserta didik dibagi kelompok (satu kelompok 2 orang) (elaborasi) dan bekerja dengan bersahabat dan komunikatif.

1.      Siswa mengambil kata kunci yang telah disediakan.

2.      Peserta didik menulis karangan berdasarkan kata kunci yang didapatkan kemudia disesuaikan dengan gambar yang telah disediakan secara mandiri, penuh tanggung jawab dan tepat waktu.(eksplorasi)

Kegiatan Akhir

1.      Peserta didik bersama guru menyimpulkan pembelajaran (konfirmasi)

2.      Refleksi / umpan balik

3.      Peserta didik menerima informasi mengenai pembelajaran selanjutnya.

10  menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

70 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10 menit

 

 

 

VI. Alat / Bahan / Sumber Belajar :

 (2004-2005). Komposisi Bahasa Indonesia

 Keraf,G. (1987). Deskripsi dan Eksposisi.

 Keraf,G. (1987). Argumentasi dan Narasi

Contoh teks narasi, deskripsi. eksposisi, dan argumentasi

Modul Bahasa Indonesia Tk Madia

VII. Penilaian :

 

Jenis tes:

            Tertulis

 

 

 



Rounded Rectangle: Karangan  Argumentasi
Rounded Rectangle: Karangan Eksposisi
Rounded Rectangle: Karangan Persuasi
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


                       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     

 

 

    

 


 

 

 

                      

 

 

 

Mengetahui,

Kepala Sekolah

 

 

 

 

 

Medan,    Januari 2017

Guru Mata Pelajaran

 

 

 


 

 

Lampiran Gambar. Kegiatan Kelas Saat Observasi Berlangsung

 

           

      

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar