SEKOLAH MEMBANGUN KECERDASAN INTELEKTUAL PESERTA DIDIK YANG
KREATIF
MAKALAH
Disusun untuk
memenuhi salah satu tugas
Filsafat
Pendidikan
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis
panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan Rahmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Filsafat
Pendidikan yang berjudul “Sekolah Membangun Kecerdasan Intelektual Peserta
Didik Yang Kreatif”.
Penulis berterima kasih
kepada Bapak Effendi Manalu selaku dosen yang bersangkutan yang sudah
memberikan bimbingannya, juga kepada teman-teman yang mendukung dan membantu
penyelesaian tugas ini
Penulis
menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kata sempurna untuk itu penulis
mengharapkan kritik maupun saran dari pembaca demi kesempurnaan tugas makalah
ini.
Akhir kata
penulis ucapkan terima kasih semoga makalah ini dapat bermanfaat dan bisa
menambah pengetahuan bagi pembaca.
Penulis
DAFTAR ISI
Setiap
tahap kehidupan manusia tidak terlepas dari pendidikan. Pendidikan bertujuan
bukan hanya membentuk manusia yang cerdas secara intelektual tetapi juga
menciptakan pribadi-pribadi yang kreatif. Agen pendidikan yang cukup penting
perannanya dalam mencapai tujuan pendidikan adalah sekolah. Sekolah adalah
tempat dimana siswa menerima didikan dan pembelajaran yang bermanfaat bagi
kehidupan peserta didik. Di sekolah, peserta didik diberikan pendidikan untuk
membantu mengembangkan kemampuan berpikir, kreativitas dan pola tingkah laku
peserta didik.
Akibat
dari perkembangan zaman dan kesibukan serta keterbatasa orangtua dalam mendidik
anak, maka dipercayakan tugas pendidikan kepada orang dewasa lain yang lebih
ahli dalam lembaga pendidikan formal. Sekolah menjadi produsen penghasil
individu yang berkemampuan secara intelektual dan skill. Kecerdasan bisa
termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan atau kebijaksanaan.
Kecerdasan merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir.
Kecerdasan pada dasarnnya telah ada sejak anak dilahirkan (nativisme) atau faktor keturunan, namun kemampuan serta kecerdasan
tersebut harus tetap dilatih dan dikembangan dengan jalan melakukan pendidikan
di sekolah.
Sekolah
pada umumnya hanya menenkankan pada pengetahuan atau kognisi, kurang
memperhatikan aspek kreativitas, sehingga muncul anggapan bahwa pengembangan kecerdasan
intelektual peserta didik tidak dimunculkan di sekolah formal melainkan pada
lembaga pendidikan non formal atau informal misalnya bimbingan belajar.
Namun
jika diperhatikan, kemampuan berpikir seorang individu dilatih selama anak
melakukan interaksi dengan teman sebaya, guru di sekolah. Pendekatan yang
dilakukan sekolah terhadap pengenalan kecerdasan anak adalah dengan melihat
kemampuan anak secara verbal dan praktis. Ada anak yang pandai dalam pelajaran
maka dia dikatakan memiliki kecerdasan
dibidang abstrak. Sementara ada yang cerdas dalam bergaul di masyarakat,
maka ia cerdas di bidang sosial dan lain-lain.
Kecerdasan
manusia bebeda-beda. Oleh karena itu perlu dikenali dibidang mana kecerdasan
yang dimiliki oleh seseorang. Misalnya orangtua menganggap anak yang pintar
dalam ilmu pasti maka anak dimasukkan ke sekolah dengan jurusan sains sementara
minat peserta didik adalah dibidang sosial. Maka dari itu kecerdasan tidak
dapat dilihat hanya semata-mata oleh nilai prestasi akademik tetapi juga minat
seseorang.
Dengan
kepercayaan yang diberikan orangtua kepada lembaga pendidikan sekolah untuk
mendidik anak mereka, maka semakin sentrallah posisi daripada sekolah dalam
melakukan pendidikan, pelatihan, pengajaran kepada peserta didik.
Di
Indonesia sendiri diterapkan wajib belajar 9 tahun, belajar disini maksudnya
adalah menempuh jenjang sekolah formal, belum lagi jika anak memasuki sekolah
usia dini, maka semakin lama pula anak menempuh pendidikan. Dengan waktu selama
itu, maka sekolah dapat dikatakan cukup menentukan kecerdasan intelektual dan
kreativitas anak terlepas dari faktor-faktor lain yang mempengaruhi.
Kecerdasan
Intelektual seorang anak coba digali melalui pembelajaran efektif dan kreatif
di kelas seperti misalnya melakukan strategi belejar mengajar yang merangsang
minat siswa untuk membaca, menghafal, dan mengungkapkan di depan kelas, serta
menerapkannya dalam kesehariannya.
Kurikulum
yang diterapkan di sekolah juga sangat berpengaruh terhadap proses menggali dan
mengenali intelektualitas seorang peserta didik. Kurikulum yang terus
diperbaiki bertujuan untuk menciptakan kegiatan belajar yang kreatif dan
merangsang minat peserta didik untuk melakukan pembelajaran. Kurikulum sekarang
menuntut agar siswa lebih aktif belajar secara mandiri.
Dengan
segala penjelasan yang sudah dipaparkan, maka sekolah memilki peran membangun
kecerdasan intelektual peserta didik yang kreatif melalui penerapan kegiatan
pembelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan
bangsa, dalam hal ini kecerdasan intelaktual.
1. Apa
yang dimaksud dengan kecerdasan intelektual?
2.
Apa peran sekolah dalam meningkatkan
kecerdasan intelektual peserta didik ?
3.
Bagaimana perkembangan intelinjensi
anak?
1. Mengetahui
kecerdasan intelaktual
2.
Memahami peran sekolah dalam peningkatan
kecerdasan intelaktual peserta didik
3.
Mengetahui perkembangan intelijensi anak
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Kecerdasan intelektual merupakan
kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam belajar. Kecerdasan intelektual sering
disebut sebagai kecerdasan yang mengacu terhadap kemampuan kognitif seseorang,
yaitu kemampuan berpikir yang tinggi dalam usaha meningkatkan kemampuan yang
dimiliki. Seseorang yang memiliki kemampuan analitis tinggi cenderung lebih
disukai dalam sekolah umum. Mereka sering kali mudah menyerap palajaran dimana
guru memberi palajaran dan murid diberi ujian. Mereka sering dianggap sebagai
murid “pintar” yang memperoleh ranking bagus, nilainya selalu bagus, dan mudah
masuk ke Universitas.
Murid
yang memiliki inteligensi kreatif tinggi biasanya bukan ranking atas dalam
kelas. Strenberg mengatakan bahwa murid yang kreatif mungkin tidak dapat
menyelesaikan tugas pelajaran sesuai dengan guru. Jawaban mereka mungkin tidak
lazim atau tepat, namun jawaban yang aneh sehingga sering disalahkan oleh guru.
Seperti
murid dengan inteligensi kreatif tinggi, murid dengan inteligensi praktis
sering kali kesulitan memenuhi keinginan sekolah. Namun, murid ini sering berpestasi
diluar kelas. Kemungkinan mereka memilik keahlian sosial yang tinggi. Sehingga
saat dewasa, mereka terkadang menjadi manager sukses, pengusaha, atau politikus
meski catatan prestasi sekolah yang sedang. Dengan pengertian tersebut,
kecerdasan analitis yang dimiliki tidak menjamin kesuksesan seseorang.
Kecerdasan
intelektual dijelaskan dengan berbagai macam teori. Banyak teori-teori dari
berbagai ahli menyebutkan pengertian-pengertian inteligensi yang berbeda. Teori
–teori kecerdasan intelektual itu adalah sebagai berikut:
a. Teori Uni-factor
Wilhelm
Stern memperkenalkan inteligensi dengan sebutan “Uni- factor theory”. Menurut
teori ini, inteligensi adalah kemampuan umum. Karena itu, inteligensi bersifat
umum. Reaksi terhadap lingkungan dalam menyesuaikan diri mereka dan dalam
memecahkan masalah bersifat umum. Kapasitas umum itu dapat timbul akibat
pertumbuhan biologis atau akibat belajar. Kapasitas umum yang ditimbulkan lazim
disebut sebagai “G”.
b. Teori Faktor
Seorang
ahli matematika bernama Charles Sperman, mengajukan sebuah teori tentang
inteligensi. Teori ini dikenal dengan sebutan “Two kind of factors theory”.
Artinya dalam teori belajar ini terdapat dua faktor mental terhadap kecerdasan
seseorang. Kedua faktor mental itu disebut dengan faktor yang diberi kode “G”
dan faktor yang diberi kode “S”. Faktor
“G” mewakili kekuatan mental yang berfungsi dalam setiap tingkah laku mental
individu, sedangkan faktor “S” menentukan tindakan-tindakan mental untuk
mengatasi permasalahan.
Faktor
“G” yang terdapat dalam inteligensi seseorang, memiliki kemampuan atau
kapasitas untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Mereka dapat mempelajari
bermacam-macam pelajaran seperti matematika, bahasa, sains, dan sebagainya
dengan simbol abstrak. Sedangkan mereka yang
inteligensinya terdapat faktor “S” yaitu didasarkan pada gagasan.
Artinya, fungsi otak tergantung kepada ada dan tidaknya struktur atau koneksi
yang tepat bagi situasi atau masalah tertentu. Dengan demikian, luasnya faktor
“S” mencerminkan kerja khusus dari otak, bukan karena struktur khusus otak.
Faktor “S” lebih tergantung terhadap organisasi neurologist yang berhubungan
dengan keamampuan –kemampuan khusus.
c. Teori Multi-Factors
Teori
intelligensi Multi Faktors dikembangkan oleh E.L Thorndike. Menurut teori ini,
inteligensi terdiri dari bentuk-bentuk hubungan antara stimulus dan respon.
Hubungan neural ini yang dapat mengerahkan tingkah laku individu. Misalnya,
ketika seseorang mampu menghafal sebuah materi pembelajaran dengan mudah,
menghafal puisi, serta melakukan pekerjaan berarti ia dapat melakukan karena
terbentuknya koneksi-koneksi didalam sistem syaraf akibat belajar dan latihan.
d.
Teori Primary-Mental-Abilities
Teori
Primary-Mental-Abilities dikemukakan oleh L.L. Thurstone. Menurut teori ini,
inteligensi terbagi menjadi tujuh kemampuan primer, yaitu sebagai berikut:
1) Kemampuan numerikal/matematis
2) Kemampuan verbal/ berbahasa
3) Kemampuan abstraksi berupa visualisasi atau
berpikir
4) Kemampuan membuat keputusan, baik induktif
maupun deduktif
5) Kemampuan mengenal dan mengamati
6) Kemampuan mengingat.
e. Teori Sampling
Teori
Sampling dikemukakan oleh Godfrey H Thomson pada tahun 1916 dan kemudian
disempurnakan kembali pada tahun 1935 dan 1948. Menurut teori ini, inteligensi
merupakan berbagai kemampuan sampel. Dunia berisikan berbagai bidang
pengalaman. Berbagai bidang pengalaman dikuasai oleh pikiran manusia. Masing
–masing bidang hanya terkuasai sebagian saja, dan ini mencerminkan kemampuan
mental seseorang.
Inteligensi
beroperasi dengan terbatas pada sampel dari berbagai kemampuan dan pengalaman
dunia nyata. Sebagai gambaran, misalnya sebagian A dan B, atau dapat pula sebagian dari
bidang A, B dan C.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi inteligensi
a. Pengaruh faktor bawaan
Individu-individu
yang berasal dari IQ yang berkorelasi tinggi akan sangat mempengaruhi
inteligensi individu tersebut.
b. Pengaruh faktor lingkungan
Selain
faktor bawaan, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang
berarti. Inteligensi tentunya tidak terlepas dari otak. Dengan kata lain,
perkembangan organik otak akan sangat mempengaruhi tingkat inteligensi
seseorang. Di pihak lain, perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang
dikonsumsi. Oleh karena itu, ada hubungan antara pemberian makanan yang bergizi
dengan inteligensi seseorang. Pengaruh rangsangan intelektual yang memberi
pengalaman (eksperiential resources) seperti pendidikan, latihan berbagai
keterampilan, dan lain-lain.
a. Inteligensi merupakan konsep umum tentang
kemampuan berpikir individu.
b. IQ adalah hasil tes inteligensi
Perkembangan
inteligensi sangat dipengaruhi oleh perkembangan organik otak seseorang. Oleh
karena itu, sesuai dengan tahap-tahap perkembangan otak, maka pada masa-masa
pertumbuhan (kurang lebih usia sampai 20 tahun) masih terjadi peningkatan
inteligensi. Setelah itu terjadi masa stabil, kemudian sejalan dengan
kemunduran itu terjadi masa stabil, kemudian sejalan dengan kemunduran organis
otak, akan terdapat kecenderungan menurun. Berdasarkan perhatian David Wechsler
(dalam Irwanto, 1994) stabilitas IQ puncaknya pada usia sekitar tahun, dan pada
usia 25 - 30 tahun mulai menurun dan terus menurun.
Pada
tahun 1904 Alfred Binet dan Theodor Simon, dua orang psikolog Perancis telah
mempelajari kecerdasan di salah satu lembaga pendidikan di Paris untuk
merancang alat evaluasi yang dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang
memerlukan kelas khusus (siswa-siswa yang kurang pandai). Tes ira disebut test
Binet-Simon.
Mula-mula
IQ diperhitungkan dengan membandingkan "umur mental (Mental Age = MA)
dengan umur kronologis (Chronological AGE = CA)". Apabila kemampuan
individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes
kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya pada
individu seumur dia saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1
(satu). Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan
IQ. Bila MA lebih tinggi dari CA, akan diperoleh skor lebih tinggi dari 100
(yang mengindikasi kemajuan intelektual). Sebaliknya bila MA lebih rendah dari
CA, akan diperoleh skor kurang dari 100 (yang mengindikasikan keterbelakangan
mental).
Untuk
menghitung tingkat kecerdasan anak, dapat digunakan Tes IQ Binet Simon dengan
penggolongan sebagai berikut :
1. Genius
> 140
2. Gifted
>130
3. Superior
> 120
4. Normal 90 – 110
5. Debil
60 – 79
6. Imbesil
40 – 50
7. Idiot
> 30
Sebagai
akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta terbatasnya
kemampuan orangtua dalam mendidik anaknya. Untuk menjalankan tugas pendidikan
diperlukan orang lain dalam hal ini sekolah.
Di
dalam dunia pendidikan istilah sekolah sudah sangat lazim. Sekolah merupakan
salah satu pusat pendidikan yang diharapkan mampu mencerdaskan kehidupan bangsa
dan mengembangkan manusia yang bermoral, bertaqwa dan cerdas secara intelektual
maupun emosional.
Di
dalam UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sekolah
didefinisikan sebagai “ Satuan Pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan
untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar”. Sekolah melakukan pembinaan
bagi peserta didik didasarkan atas kepercayaan tuntutan zaman.
Terkait
dengan pengembangan kecerdasan intelektual ( IQ ) anak, maka sekolah berperan
cukup penting. Sekolah didukung dengan sistem pendidikan dan kurikulum
memberikan tahapan dan teknik menggali potensi yang ada pada individu.
Sekolah
dalam upaya mencerdaskan peserta didik harus menyediakan pendidik yang lebih
kreatif dan inovatif dalam menggunakan instink dan talenta pendidik dalam
memberikan pengalaman hidup berhubungan dengan materi pembelajaran yang
diajarkan sehingga terintegrasi teori dan prakteknya.
Untuk
mengembangkan kecerdasan intelektual peserta didik, perlu mengadakan percepatan
pembelajaran (accelerated learning).
Dalam percepatan belajar kita akan belajar bagaimana cara belajar. Termasuk
dalam kategori ini adalah kemampuan matematik dan linguistik ( membaca cepat,
menghafal, berpikir kreatif, berhitung).
Mengamati
perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi masa sekarang dan masa depan, maka dunia pendidikan dalam hal ini
sekolah harus mampu menenrapkan model pembelajaran yang berbasis kecerdasan
intelektual bersamaan dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Dalam
implementasi proses pembelajaran dan pengajaran dituntut sikap kritis, kreatif
dan inovatif para pendidik dan peserta didik dalam upaya mengubah model
pengajaran dan pembelajaran, bukan sesuai dengan kecerdasan pendidik melainkan
sesuai kecardasan peserta didik. Maknanya seorang pendidik haruslah mampu
mengkomunikasikan materi pembelajaran sesuai dengan kemampuan peserta didik.
Pola ini dapat dilakukan melalui pembelajaran berbasis penelitian.
Memberikan
pengalaman belajar langsung dirasakan peserta didik. Pembelajaran dimulai dari
proses sampai laporan penelitian, sistem ini dapat dilakukan dengan kelompok
belajar yang dipimpin ketua kelompok dan dibentuk divisi-divisi yang bertanggung
jawab atas masing-masing tugas. Tujuan pembelajaran seperti ini adalah
membiasakan peserta didik bekerja dengan team
work. Disinilah peserta didik akan memperoleh ilmu baru dan mengalami
pengalaman baru.
Model
pembelajaran ini berorientasi konsep kreativitas dan inovatif memnugkinkan
untuk dikemambangkan dalam upaya memberikan kontribuasi pendidikan dalam
membekali generasi muda untuk dapat mandiri.
Model
ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, sebagai berikut :
1. Menjadikan
materi pelajaran secara teori dapat dipraktekkan dalam menumbuhkan kreatif dan
inovatif.
2. Menjadikan
fasilitas pendidikan sebagai sarana mengembangkan peluang dan tantangan
perkembangan ilmu pengetahuan. Maknanya, bila ingin melihat hasil dari
perubahan karakter dan kepribadian dan kecerdasan peserta didik.
Sekolah menyediakan pendidikan character building yang tertuang dalam
mata pelajaran Agama, pendidikan kewarganegaraan serta kegiatan
ekstrakurikuler. Pendidikan inilah yang menjadi acuan sekolah dalam
meningkatkan kemampuan intelektual siswa yang kreatif, inovatif tetapi bemoral
dan menjunjung tinggi nilai dan norma.
1. Membuat
Dialog Internal Pemberdayaan
Dialog sangat memiliki
pengaruh terhadap kemampuan anak. Dialog yang negatif dapat mendorong anak
mengalami kegagalan. Anak yang merasa rendah diri, akan mengalami pemiskinan
intelektualitas. Sedangkan sebaliknya, dialog positif dapat meningkatkan
keberhasilan anak meraih masa depan. Para ilmuwan percaya, ada hubungan
signifikan antara pikiran dan tubuh anak. Pikiran depresi akan menekan energi
dan motivasi. Selain itu, juga mengurangi kemampuan anak berfikir jernih dan
melakukan tindakan tepat.
Ciptakan sebuah dialog
internal positif yang dapat meningkatkan kinerja intelektual anak. Yakni sebuah
cara menghilangkan pemikiran subyektif dan membangun kepercayaan diri,
mengajarkan anak bagaimana mempraktekkan tanggapan positif. Disinilah sekolah
melalui kegiatan pembelajaran mengamati kepribadian siswa.
2. Tanamkan kata-kata
Memberikan kata-kata yang bisa
memotivasi anak untuk meningkatkan tingkat belajar anak dan membuat anak
semangat dalam belajar. Contoh : Saya
akan melakukan yang terbaik yang saya bisa.
3. Latihan Pengendalian Pernapasan Anak
Salah satu metode efektif dan efisien
merangsang proses mental anak adalah pengendalian bernafas. Penelitian
menunjukkan, anak-anak memiliki performa akademis yang lebih baik ketika mereka
melakukan latihan pernafasan sebelum tes atau tugas.
Latihan pernafasan ini terbukti dapat
mengurangi rasa cemas ketika menghadapi ujian. Selain itu, pernafasan yang
meningkatkan aliran oksigen ke otak dapat meningkatkan daya ingat, konsentrasi
dan kemampuan pemecahan masalah.
4. Lakukan Olah Raga Mental
Beberapa hal dapat
dilakukan untuk mengasah kemampuan anak. Bermain mampu merangsang pikiran, terutama permainan
berbasis strategi. Selain itu, game juga mengasah kemampuan verbal, daya
konsentrasi, persepsi dan penalaran.
Berikut beberapa permainan yang direkomendasi untuk
membangun otak yang dapat dilakukan bersama keluarga: Catur, Tebak kata, Puzzle
Matematika
6. Dorong Anak untuk Membaca Repetitif
Membaca membantu anak mengoptimalkan
potensi intelektualnya. Selain itu, aktivitas membaca bersama dapat memelihara
bahasa cinta dan memperkuat ikatan orang tua dan anak.
BAB III
PEMBAHASAN
Berdasarkan
literatur, sekolah sebagai sarana pendidikan yang bertujuan untuk mencerdaskan
bangsa melalui pengembangan intelektualitas dan itelijensi peserta didik. Peran
sekolah amat sentral dalam menciptakan generasi muda yang memiliki daya saing,
tidak hanya kemampuan dalam bertindak tetapi juga kemampuan dalam berpikir, hal
inilah yang dimaksud dengan kecerdasan intelektual.
Anak
didik yang di berikan pendidikan disekolah diharapkan mampu mengembangkan
potensi yang sudah ada pada dirinya sejak ia lahir sebagai potensi pembawaan.
Banyak orang tidak sadar dengan kecerdasannya secara intelaktual bahkan orang
tua sekalipun bisa saja luput. Maka kehadiran sekolah haruslah menjadi tumpuan
orang tua bahka bangsa ini untuk menciptakan kaum-kaum pemikir dan intelek.
Sejauh
ini, sekolah dalam melakukan pembelajaran masih menggunakan konsep lama yakni
mempercayai bahwa penguatan kognitif adalah diatas segalanya sehingga peserta
didikdigembleng untuk mampu menguasai kemampuan matematis-logis secara tepat
dan akurat.
Indonesia
saat ini menghadapi beberapa kondisi yang perlu mendapat perhatian dari
berbagai pihak, untuk dapat bertahan dalam era globalisasi maka seluruh produk
yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan secara nasional harus kompetitif
sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat,
hal ini akan mempengaruhi proses manajemen penyelenggara lembaga pendidikan dan
kebutuhan keterampilan baru secara berkesinambungan. Dengan adanya keinginan
dan komitmen nasional untuk memperhatikan manusia sebagai pelaku penting dalam
pembangunan, dan komitmen penetapan mmanusia sebagai sasaran pembangunan dewasa
ini sehingga pengembangannya perlu menjadi perhatian.
Ilmu
pengetahuan dan teknologi dewasa ini menunjukkan perkembangan yang begitu pesat
dalam mempengaruhi kehidupan dan kegiatan masyarakat Indonesia, tidak
terkecuali pengaruhnya pada lingkungan masyarakat pendidikan baik nasional
maupun lokal. Kemajuan teknologi disatu sisi merupakan produk dari lembaga
pendidika sebagai tindak lanjut dari lahirnya tokoh pemikir yang kreatif dan
inovatif.
Atas
tuntutan dan kebutuhan tersebut maka lembaga perguruan tinggi Indondesia sudah
saatnya meningkatkan fungsi dalam kesiapannya guna menciptakan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang dapat mensejahterakan masyarakat, sekaligus menyiapkan
sumber daya masusia penyelenggara pendidikan itu sendiri dalam mengadopsi kemajuan teknologi guna menciptakan manusia
yang bermutu dan berkualitas. Hal itu merupakan salah satu peluang dan
tantangan terbesar bagi lembaga pendidikan Indonesia dewasa ini, terutama dalam
menyiapkan sumberdaya mansuia Indonesia yang memiliki keunggulan kompetitif di
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam percaturan globalisasi pendidikan.
Untuk
menghadapi tantangan tersebut salah satu alternatif yang perlu dilakukan adalah
menyiapkan dan mengembangkan lembaga pendidikan yang mampu mengintegrasikan
ilmu pengetahuan dan teknologi dengan iman dan taqwa, maknanya kecerdasan
intelaktual yang dimiliki didukung oleh kognisi dan keimanan kepada Tuhan
sebagai alat kendali dalam penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 2o Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 1 ayat 1 dan 2 yang menyatakan sebagai berikut :
Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan mengembangkan potensi diriya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara, dan pendidikan nasional adalah pendidikan yang
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasr Negara Kesatuan Republik Indonesia
Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia
dan tanggap terhadap tuntutan
perkembangan zaman.
Menjadi
dosen atau guru yang proesional merupakan keharusan dan pilihan prestasi mulia
untuk keberhasilan guru dan dosen dalam proses pembelajaran merupakan keharusan dan tuntutan tugas profesi yang
tidak dapat ditawar-tawar lagi. Berdasarkan Undang-Undang Guru dan Dosen (pasal
, ayat 1,2, dan 3) sebgai berikut : (1) Guru adalah pendidik yang profesional
dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan
pendidikan menengah. (2) dosen adalah pendidik prosfesional dan ilmuwan dengan
tugas utama mentransfomasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian
kepada masyarakat. (3) Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang
dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan
keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang
memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Proses
pembelajaran harus berlangsung dengan baik dan kondusif sebagai upaya
memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Untuk mewujudkan
profesional guru dibutuhkan kecerdasan Intelektual, emosional dan spiritual.
Dengan
tidak mempertentangkan mana yang lebih penting, apakah kecerdasan intelektual
atau emosional atau spiritual, ada baiknya kita mengambil pilihan eklektik dari
ketiga pilihan tersebut. Konsep untuk mengembangkan kecerdasan berganda – multiplied intelligent – ini kemudian
dibwa kedalam dunia pendidikan (sekolah). Namun konsep dan teori tentang
kecerdasan berganda corongnya lebih banyak mengarah kepada dunia anak-anak dan para siswa di sekolah. Untuk mereka
sengaja dirancang berbagai program , pelatihan atau training disertai dengan
segudang resep bagaimana agar mereka memiliki kepintaran berganda – menjadi
generasi muda muda yang memiliki multiplied
intelligent dengan harapan kelak bisa hidup indah, mudah dan jauh dari
gelisah.
Menerapkan
dan mengarahkan corong konsep pendidikan kepintaran berganda kepada anak didik
di sekolah dapat dianggap sebagai langkah yang tepat. Peran guru sebagai
educator, motivator, konselor, dan lain-lain menjadikan keharusan bagi guru
harus memiliki kepintaran berganda. Guru dengan kecerdasan berganda seperti
yang disebutkan tadi agaknya dapat memberikan label sebagai guru profesional
atau guru ang brkualitas. Mereka adalah guru yang memilki karakter – cerdas
kognitifnya – cerda afektifnya dan cerdas psikomotiknya. Guru yang begini tentu
sangat menyenagkan, namun populasi mereka tentu saja tidak banyak, namun setiap
guru – kalau ada motivas, keinginan dan usaha maka tentu saja mereka bisa –
harus menjadi guru-guru spesial bagi anak-anaknya.
Melalui
upaya belajar learning to do, learning to be, learning to live together, serta
berusaha untuk memperbaiki kualitas diri – pribadi secara terus menerus –
hingga pada akhirnya dapat diperoleh aktualisasi diri sebagai bukti dari
kecerdasan intelijensi dan prestasi hidup yang sesungguhnya.
Dalam
mewujudkan lembaga pendidikan yang profesional dan bermakna, tugas kemanusiaan
adalah berusaha membelajarkan para peserta didik untuk dapat mengembangkan segenap
potensi kemanusiaan yang dimilikinya, melalui pendekatan dan proses belajar
yang bermakna, menyenangkan, dan menantang atau problematis, sehingga pada
gilirannya dapat dihasilkan kulaitas sumber daya manusia Indonesia yang cerdas
dan menjadi kaum pemikir atau kaum intelek.
Kecerdasan
dapat ditingkatkan, kini guru dan dosen harus punya paradigma, bagaimana
menjadi pendidik bermartabat dan profesional. Paradigma bisa dicapai jika
mereka mengambangkan diri. Pendidik
maupun peserta didik harus mampu mengembangkan diri sehingga tercapai tujuan
yang hendak dicapai.
Sekolah
dengan kewenangannya memberikan fasilitas dan sarana pengembangan diri harus
mampu mengambil peran dalam peningkatan dan pengembangan kualitas dan
kecerdasan kognisi dan intelijensi. Sekolah juga merupakan tempat bagi anak
melakukan pembelajaran aktif dan efektif untuk melatih ketangkasan dan melatih
pengendalian diri.
Fungsi
sekolah dalam membangun kecerdasan intelektual peserta didik yang kreatif
adalah dengan penerapan logika yang diiringi keimanan dan ketaqwaan. Sekolah
menjadi tempat untuk mempelajari kegiatan kreatif dan inovatif dalam rangka
mengembangkan diri dan melatih kecakapan dan mengembangkan atau membangun
perserta didik yang cerdas secara intelaktual ( memiliki kecerdasan intelektual
yang mumpuni ).
Kecerdasan
intelektual merupakan kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam belajar.
Kecerdasan intelektual sering disebut sebagai kecerdasan yang mengacu terhadap
kemampuan kognitif seseorang, yaitu kemampuan berpikir yang tinggi dalam usaha
meningkatkan kemampuan yang dimiliki. Seseorang yang memiliki kemampuan
analitisKecerdasan intelektual dijelaskan dengan berbagai macam teori. Banyak
teori-teori dari berbagai ahli menyebutkan pengertian-pengertian inteligensi
yang berbeda. Teori kecerdasan intelektual itu yaitu Teori Uni-factor, Teori Faktor, Teori Multi-Factors,
Teori Primary-Mental-Abilities, Teori Sampling.
Kecerdasan
intelektual merupakan kecerdasan yang sudah bawaan dari sejak lahir ditambah dengan
faktor lingkungan yang mempengaruhi. Kecerdasan intelektual bis diukur atau
dihitung menggunakan pengujian Binet yang dikemukakan Simon Binet. Sekolah
sebagai sarana mengembangkan kecerdasan harus menggunakan metode pembelajaran
yang efektif, kreatif dan inovatif.
Sekolah
sebaiknya menggunakan pendekatan yang berbeda terhadap siswa sebab terdapat
perbedaan karakteristik, sifat dan pembawaan peserta didik. Fungsi sekolah
sebagai tepat mengembangkan kemandirian dan kecerdasan siswa haruslah melaksankan
kegiatan pembelajaran kognisi dengan kecerdasan emosi dan spiritual sehingga
pendidikan dapat berjalan seimbang dan berdampingan.
Adisusilo, Sutarjo.2014.Pembelajaran Nilai Karakter.Depok:
Rajawali Pers
Djaali.2011.Psikologi Pendidikan.Jakarta: Bumi Aksra.
Iskandar.2009.Psikologi Pendidikan Sebuah Orientasi Baru.Jakarta:
Gaung Persada Press.
Santrock,Jhon W.Psikologi Pendidikan.Jakarta:Kencana.
Hendrawan,
Harimat.Maret 2015.Pengaruh Kecerdasan Intelektual Emosional Dan Motivasi
Terhadap Kinerja Dosen Vol 05
No.01,https://www.google.co.id/search?hl=id&ie=ISO-8859-1&q=+Jurnal+kecerdasan
+intelektual, pada 15 November 2016
http://www.duniasosiologi.co.cc
diakses pada tanggal 15 November 2016 jam 13.46
https://www.sekolahdasar.net
diakses pada tanggal 16 November 2016 jam 01.13
https://www.putusutrisna.blogspot.com
diakses pada tanggal 16 November 2016 jam 00.12
http://www.wikipedia.com diakses pada 13 November 2016 jam 12.56
http://www.academia.edu
diakses pada 15 November 2016 jam 14.34
Tidak ada komentar:
Posting Komentar