Jumat, 18 Mei 2018

Peranan Ruang dalam Analisa Ekonomi

Peranan Ruang dalam Analisa Ekonomi
            Tidak dapat disangka bahwa adanya ruang (space) adalah merupakan kondisi yang nyata dan berlaku disemua Negara. Lebih labih lagi pada Negara yang mempunyai luas daerah cukup luas dan sangat bervariasi geografinya, aspek ruang menjadi sangat penting sekali dalam analisa ekonomi.

Dalam studi pembangunan wilayah, peranan ruang ditinjau dari perkembangan historis telah mengalami perubahan dan pertumbuhan. Beberapa kasus spasial dapat dikemukakan seperti terjadinya  pemusatan kegiatan industri (aglomerasi) dan urbanisasi ke kota-kota besar.
Aspek ruang dalam pemanfaatan wilayah mencakup aspek lokasi dan dimensi wilayah. Aspek lokasi dan wilayah saling berkaitan , disatu pihak dengan fungsi lindung dan di lain pihak dengan masalah pilihan atas lokasi bagi a) tempat permukiman atau kegiatan usaha dalam rangka memperoleh tingkat kemudahan yang diinginkan atau sebaliknya b) dalam rangka mempertinggi tingkat kemudahan bagi masyarakat di wilayah tertentu, baik dalam memenuhi kebutuhan hidup ataupun untuk pengembagan usahanya.

Aspek ruang muncul dalam Analisa Ekonomi Regional dalam berbagai bentuk. Dalam analisa yang bersifat mikro, unsur ruang muncul dalam bentuk analisa lokasi perusahaan (unit produksi), luas areal pasar, kompetisi antar tempat (Spatial Competition) dan penentuan harga antar tempat (Spatial Pricing). Sedangkan dalam analisa yang bersifat makro, unsur ruang ditampilkan dalam bentuk Analisa Konsentrasi Industri, Mobilitas Investasi, dan Faktor Produksi Antar Daerah, Pertumbuhan Ekonomi Regional (Regional Growth), Ketimpangan Pembangunan Antar Wilayah (Regional Disparity) dan Analisa Pusat Pertumbuhan (Growth Poles). Walaupun untuk aspek tertentu sebenarnya wilayah juga dianalisa dalam Ilmu Ekonomi, tetapi kerangka analisa maupun kesimpulan yang dihasilkan adalah sangat berbeda. Karena itulah, dewasa ini Ilmu Ekonomi Regional telah dapat dianggap sebagai ilmu tersendiri dan merupakan cabang dari ilmu ekonomi secara keseluruhan.
Dalam analisis ekonomi, faktor tata ruang dan faktor jarak mulanya bersifat sekunder atau secara implisit dibandingkan dengan unsur waktu. Perhatian terhadap pembahasan masalah lokasional dan dimensi spasial semakin menonjol terutama sejak tahun 1930-an yaitu bertepatan dengan  munculnya pemikiran yang memusatan perhatian pada perencanaan tat ruang wilayah.
            Untuk dapat menghasilkan Analisa Ekonomi Regional yang kongkrit dan terukur, unsur ruang dapat ditampilkan dalam variable ongkos angkut yang sangat dipengaruhi oleh jarak yang ditempuh. Sedangkan jarak dianalisa umumnya dari lokasi bahan baku ke lokasi pabrik dan selanjutnya ke pasar, maupun dari daerah pemukiman ke pasar atau tempat kerja. Ongkos angkut tersebut dapat mempengaruhi biaya produksi maupun harga jual hasil produksi di pasar. Karena itu, variabel ongkos angkut akan mempengaruhi penentuan produksi optimal (producer Equilibrium) maupun daya saing produk di pasar (Spatial Competition).
            Variabel selanjutnya    yang juga dapat mewakili unsur ruang dalam Analisa Ekonomi Regional adalah perbedaan struktur dan potensi sosial-ekonomi antar wilayah. Perbedaan karakteristik wilayah ini merupakan hal yang bersifat lumrah (natural) dan terjadi diseluruh Negara, baik yang sudah maju maupun sedang berkembang. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan kandungan sumberdaya alam, tingkat kesuburan tanah maupun kondisi sosial budaya adalah struktur demografi dan tingkah laku masyarakat yang umumnya sangat bervariasi antar wilayah. Perbedaan struktur dan potensi wilayah ini sangat mempengaruhi analisa pertumbuhan ekonomi regional, analisa ketimpangan ekonomi antar wilayah dan analisa Pusat Pertumbuhan. Selanjutnya variabel ini tentunya juga akan sangat mempengaruhi formulasi kebijaksanaan pembangunan dan perensanaan wilayah.
            Variabel lain yang juga sangat penting artinya dalam analisa Ekonomi Regional adalah Interaksi Sosial-ekonomi Antar Wilayah (Spatial Interaction). Interaksi antar wilayah ini dapat terjadi dalam 4 bentuk yaitu:

a.         Perdagangan antar daerah
b.         Perpindahan tenaga kerja atau migrasi
c.         Lalu lintas modal dan
d.         Distribusi inovasi antar wilayah (Spatial Distribution of Innovation).
            Ketiga unsur pertama dapat diukur dengan menggunakan data yang tersedia, sedangkan unsur keempat memerlukan teknik pengukuran tersendiri dengan menggunakan metode statistik tertentu. Variabel interksi sosial-ekonomi antar wilayah ini juga sangat penting artinya dalam analisa pertumbuhan ekonomi regional serta formulasi kebijaksanaan dan perencanaan pembangunan wilayah sebagai mana sudah disinggung di atas. Dimensi ruang telah memberi warna penting dalam analisis ekonomi.

1.2  Konsep Regional (Regent)
            Lingkup regional dapat meliputi provinsi atau kabupaten/kotamadya. Ilmu Ekonomi Regional adalah reprentasi dari  space (ruang), hal ini sebagai dasar teori dari pembentukan daerah propinsi dana kabupaten/kota.
Wilayah dan lokasi memiliki potensi, kondisi dan karakteristik yang berbeda-beda, oleh karena itu pemilihan wilayah yang akan dijadikan sebagai lokasi untuk berbagai kegiatan dan untuk berbagai pendirian gedung dan bangunan harus dipilih secara tepat dan sesuai agar hasilnya tidak salah.
Ada dua alasan membentukan wilayah  yang lazim digunakan :
1.      Analisa bersifat makro disebut Homogenous Region adalah daerah ( region) yang dibentuk atas dasar kesamaan karakteristik social/budaya, ekonomi maupun politik
            Misalnya seperti Propinsi, ASEAN, Sumbagut dan lain-lain.
Karakteristik dapat berupa :
a.              Pendapatan Perkapita
b.             Kepadatan Penduduk
c.              Jenis Produksi Utama
d.             Problem Sosial
e.              Tingkat Industrialisasi
2.      Analisa bersifat Mikro yang disebut Nodal Region adalah interaksi antara surnber bahan dengan pasar. (Weberian Analysis) atau suatu daerah pemasaran dimana permintaan terkumpul (Loshian Approach) jadi ini dihubungkan dengan suatu jarak tertentu. (ongkos transport memegang peranan penting dalam analisa).
Contoh : jabotabek, Sijori (Batarn, Johor, Singapura).
Tingkat interaksi (keterkaitan) antara masing-masing daerah diukur berdasarkan :
·         Area lalu lintas barang
·         Penduduk, maupun Modal


Grafik 1.3. Satu Dimensi
                  A




                                                                                             Space 1 dimensi
                                            C                                                       

B                                 Jarak

                                                Sumber bahan                                                                     Pasar  (q)
                                                     Baku (+)
                                                                               U                                     (ū-u)

Menurut pemikiran Aristoteles ( seorang pelopor ahli ilmu pengetahuan beberapa abad yang lalu ), menyatakan bahwa segala seseuatu itu dapat dilihat dari 3 sisi pandang, yaitu dari uraian material, hubungan formal dan sasaran akhir.Wilayah dapat di bagi menjadi empat jenis yaitu; (1) wilayah homogen, (2) wilayah nodal. (3) wilayah perencanaan, (4) wilayah administrative.
1)      Wilayah homogen adalah wilayah yang dipandang dari aspek/kriteria mempunyai sifat-sifat atau ciri-ciri yang relatif sama. Sifat-sifat atau ciri-ciri kehomogenan ini misalnya dalam hal ekonomi (seperti daerah dengan stuktur produksi dan kosumsi yang homogen, daerah dengan tingkat pendapatan rendah/miskin dll.), geografi seperti wilayah yang mempunyai topografi atau iklim yang sama), agama,suku,dan sebagainya.Richarson (1975) dan Hoover (1977) mengemukakan bahwa wilayah homogen di batasi berdasarkan keseragamamnya secara internal (internal uniformity).Contoh wilayah homogen adalah pantai utara Jawa barat (mulai dari indramayu,subang dan karawang),merupakan wilayah yang homogen dari segi produksi padi. Setiap perubahan yang terjadi di wilayah tersebut seperti subsidi harga pupuk, subsidi suku bunga kredit,perubahan harga padi dan lain sebagainya kesemuanya akan mempengaruhi seluruh bagian wilayah tersebut dengan proses yang sama. Apa yang berlaku di suatu bagian akan berlaku pula bagian wilayah lainnya.
2)      Wilayah nodal (nodal region) adalah wilayah yang secara fungsional mempunyai ketergantungan antara pusat (inti) dan daerah belakangnya (interland).Tingkat ketergantungan ini dapat dilihat dari arus penduduk, faktor produksi, barang dan jasa, ataupun komunikasi dan transportasi. Sukirno (1976) menyatakan bahwa pengertian wilayah nodal yang paling ideal untuk di gunakan dalam analisis mengenai ekonomi wilayah,mengartikan wilayah tersebut sebagai ekonomi ruang yang yang di kuasai oleh suatu atau beberapa pusat kegiatan ekonomi. Batas wilayah nodal di tentukan sejauh mana pengaruh dari suatu pusat kegiatan ekonomi bila di gantikan oleh pengaruh dari pusat kegiatan ekonomi lainnya. Hoover (1977) mengatakan bahwa struktur dari wilayah nodal dapat di gambarkan sebagai suatu sel hidup dan suatu atom, dimana terdapat inti dan plasma yang saling melengkapi. Pada struktur yang demikian, integrasi fungsional akan lebih merupakan dasar hubungan ketergantungan atau dasar kepentingan masyarakat di dalam wilayah itu, daripada merupakan homogenitas semata-mata. Dalam hubungan saling ketergantungan ini dengan perantaraan pembelian dan penjualan barang-barang dan jasa-jasa secara local, aktifitas-aktifitas regional akan mempengaruhi pembangunan yang satu dengan yang lain.
3)      Wilayah Administratif adalah wilayah yang batas-batasnya di tentukan berdasarkan kepentingan administrasi pemerintahan atau politik, seperti: propinsi, kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan, dan RT/RW. Sukirno(1976) menyatakan bahwa di dalam praktek, apabila membahas mengenai pembangunan wilayah ,maka pengertian wilayah administrasi merupakan pengertian yang paling banyak digunakan.Lebih populernya pengunaan pengertian tersebut di sebabkan dua factor yakni : (a) dalam kebijaksanaan dan rencana pembangunan wilayah di perlukan tindakan-tindakan dari berbagai badan pemerintahan. Dengan demikian,lebih praktis apabila pembangunan wilayah di dasarkan pada suatu wilayah administrasiyang telah ada; dan (b) wilayah yang batasnya ditentukan berdasarkan atas suatu administrasi pemerintah lebih mudah di analisis, karena sejak lama pengumpulan data di berbagai bagian wilayah berdasarkan pada suatu wilayah administrasi tersebut, sebagai contoh adalah pengelolaan pesisir,pengelolaan daerah aliran sungai,pengelolaan lingkungan dan sebagainya,yang batasnya bukan berdasarkan administrasi namun berdasarkan batas ekologis dan seringkali litas batas wilayah administrasi. Sehingga penanganannya memerlukan kerja sama dari suatu wilayah administrasi yang terkait.
4)      Wilayah Perencanaan. Boudeville (dalam Glasson,1978) mendefinisikan wilayah perencanan (planning region atau programming region) sebagai wilayah yang memperlihatkan koherensi atau kesatuan keputusan-keputusan ekonomi.
Klassen (dalam Glasson,1978) mempunyai pendapat yang hampir sama dengan Boudeville, yaitu bahwa wilayah perencanaan harus mempunyai ciri-ciri : (a)cukup besar untuk mengambil keputusan-keputusan investasi yang berskala ekonomi, (b) mampu mengubah industrinya sendiri dengan tenaga kerja yang ada, (c) mempunyai struktur ekonomi yang homogen, (d) mempunyai sekurang-kurangnya satu titik pertumbuhan (growthpoint), (e) mengunakan suatu cara pendekatan perencanaan pembangunan, (f) masyarakat dalam wilayah itu mempunyai kesadaran bersama terhadap persoalan-persoalannya.Salah satu contoh wilayah perencanaan yang sesuai dengan pendapat Boudeville dan klassen di atas,yang lebih menekankan pada aspek fisik dan ekonomi,yang ada di Indonesia adalah BARELANG (pulau Batam, P Rempang, P Galang). Daerah perencanaan tersebut sudah lintas batas wilayah administrasi. Misalnya dalam kaitannya dengan pengelolaan daerah aliran sugai (DAS). Pengelolaan daerah aliran sungai harus direncanakan dan dikelola mulai dari hulu sampai hilirnya. Contoh wilayah perencanaan dari aspek ekologis adalah DAS Cimanuk, DAS Brantas, DAS Citanduy dan lain sebagainya.

Tujuan dan Manfaat Ekonomi Regional
1.      TUJUAN ILMU EKONOMI REGIONAL
            Tujuan (goals) ilmu ekonomi regional sebetulnya tidak jauh berbeda dengan tujuan ilmu ekonomi pada umumnya. Ferguson (1965) mengatakan bahwa tujuan utama kebijakan ekonomi adalah :
            Menciptakan full employment atau setidak-tidaknya tingkat pengangguran yang rendah menjadi tujuan pokok pemerintahan pusat maupun daerah. Dalam kehidupan masyarakat, pekerjaan bukan saja berfungsi sebagai sumber pendapatan, tetapi sekaligus juga memberikan harga diri/status bagi yang bekerja.
            Adanya economic growth (pertumbuhan ekonomi), karena selain menyediakan lapangan kerja bagi angkatan kerja baru, juga diharapkan dapat memperbaiki kehidupan manusia atau peningkatan pendapatan. Tanpa perubahan, manusia merasa jenuh atau bahkan merasa tertinggal.
            Terciptanya price stability (stabilitas harga) untuk menciptakan rasa aman/tentram dalam perasaan masyarakat. Harga yang tidak stabil membuat masyarakat merasa waswas, misalnya apakah harta atau simpanan yang diperoleh dengan kerja keras, nilai riil atau manfaat berkurang di kemudian hari.
            Ada diantara tujuan ekonomi yang tidak mungkin dilakukan daerah (pemerintah daerah) apabila daerah itu bekerja sendiri, yaitu menstabilkan tingkat harga. Namun, apabila daerah itu dapat memenuhi tujuan pertama dan kedua, hal itu turut membantu pemerintah pusat untuk memenuhi tujuan ketiga. Namun, di sisi lain daerah karena wilayahnya yang lebih sempit, dapat membuat kebijakan yang lebih bersifat spasial sehingga ada hal – hal yang dapat dilakukan oleh daerah secara lebih baik ketimbang oleh pemerintah pusat. Hal – hal yang bisa diatur di daerah secara lebih baik, yang merupakan tujuan pokok tambahan yaitu sebagai berikut :
·         Terjaganya kelestarian lingkungan hidup.
·         Pemerataan pembangunan dalam wilayah.
·         Penetapan sektor unggulan wilayah.
·         Membuat keterkaitan antarsektor yang lebih serasi dalam wilayah, sehingga menjadi bersinergi dan berkesinambung.
·         Pemenuhan kebutuhan pangan wilayah.

2.      MANFAAT ILMU EKONOMI REGIONAL
            Manfaat Ilmu Ekonomi Regional dapat dibagi dua, yaitu manfaat makro dan manfaat mikro. Manfaat makro bertalian dengan bagaimana pemerintah pusat dapat menggunakannya untuk mempercepat laju pertumbuhan kesluruhan wilayah. Manfaat mikro, yaitu bagaimana Ilmu Ekonomi Regional dapat membantu perencana wilayah menghemat waktu dan biaya dalam proses menentukan lokasi suatu kegiatan atau proyek.
            Contoh manfaat makro dapat dikemukakan sebagai berikut. Ditinjau dari sudut pemerintah pusat masing-masing wilayah memiliki potensi yang berbeda. Dari sudut potensi, masing-masing wilayah memiliki keunggulan komparatif yang berbeda dan bisa dimanfaatkan untuk menetapkan skala prioritas yang berbeda untuk masing-masing wilayah. Dari sudut tingkat pendapatan, masing-masing wilayah memiliki tingkat pendapatan yang berbeda. Wilayah dengan tingkat pendapatan rendah memiliki MPC (marginal propensity to consume) yang tinggi. Hal ini bisa digunakan untuk meningkatkan efek pengganda (multiplier effect) dari pengeluaran pemerintah pusat.
            Contoh manfaat mikro dapat dikemukakan sebagai berikut. Ilmu Ekonomi Regional membantu perencanaan wilayah dalam menentukan dibagian wilayah mana suatu kegiatan/proyek itu sebaiknya dibangun, tetapi tidak sampai menunjuk lokasi konkret dari proyek tersebut. Dengan demikian, mungkin ada yang mempertanyakan apa manfaat/kegunaan Ilmu Ekonomi Regional, karena tidak mampu langsung menunjukan lokasi. Seorang perencana wilayah berhadapan dengan wilayah yang begitu luas. Apabila langsung ingin mendapat jawaban dimana site-nya, ia harus melakukan survey terhadap keseluruh wilayah. Hal ini membutuhkan waktu dan biaya yang sangat besar. Ilmu Ekonomi Regional memiliki alat analisis yang bisa menunjuk pada bagian wilayah mana kegiatan seperti itu memiliki keunggulan komparatif. Dengan demikian, bagian wilayah yang perlu disurvei secara rinci dipersempit untuk menghemat waktu dan biaya. Analisis Ilmu Ekonomi Regional membutuhkan biaya yang relatif murah karena dalam banyak hal cukup menggunakan data sekunder. Dengan demikian, Ilmu Ekonomi Regional dapat membantu perencana wilayah untuk menghemat waktu dan biaya dalam proses memilih lokasi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar