Kamis, 17 Mei 2018

RESENSI BUKU MUHAMMAD SURIP DAN HAROLD TITUS TENTANG FILSAFAT ILMU



BAB I
PENDAHULUAN
1.        Latar Belakang
Membaca adalah kegiatan yang sangat mendatangkan banyak manfaat. Mereka yang gemar membaca buku akan mendapatkan banyak informasi  sehingga memperluas wawasan dan pengetahuan mereka serta mempunyai kecenderungan bijak untuk menghadapi permasalahan. Selain membaca, pembaca juga seharusnya memiliki kemampuan atau keterampilan dalam mengulas buku baik secara sederhana hingga secara utuh dan kompleks.
Resensi buku berasal dari bahasa Latin yaitu revidere yang artinya pertimbangan atau pembicaraan tentang buku. Dalam KBBI disebutkan bahwa resensi merupakan ulasan buku. Jadi resensi adalah uraian singkat mengenai isi suatu buku, majalah, novel, drama atau film. Adapun tindakan meresensi adalah memberikan suatu penilaian, membahas, mengkritik atau mengungkapkan kembali isi di dalamnya.
Menulis resensi berarti menyampaikan informasi mengenai ketepatan buku bagi pembaca. Ulasan dikaitkan dengan selera pembaca dalam upaya memenuhi kebutuhan akan bacaan yang dapat dijadikan acuan bagi kepentingannya.
Tujuan meresensi adalah untuk memberikan suatu pemahaman dan informasi secara komprehensif kepada masyarakat atau pembaca tentang isi buku yang diresensi dan mengajak pembaca untuk mendiskusikan lebih jauh tentang masalah yang ada dalam buku.
Resensi memberikan gambaran umum bagi pembaca terkait dengan buku dan memuat deskripsi buku baik judul hingga sistematika penyusunan buku. Resensi dapat juga berupa sinopsis atau cuplikan dari keseluruhan buku yang dapat mempermudah pembaca dalam mengetahui dan memahami buku secara utuh.
Dalam sebuah buku sudah pasti memiliki kelebihan dan kekurangan didalamnya. Untuk itu diperlukan resensi sebagai perbandingan buku untuk melihat kelebihan dan kekurangan tersebut serta memperbaikinya.  Buku yang dibandingkan adalah buku berjudul Filsafat Ilmu Pengembang Wawasan Keilmuan Dalam Berpikir Kritis karangan Muhammad Surip, S.Pd. M.Si dan Dra. Mursini, M.Pd yang diterbitkan pada tahun 2010 dan buku berjudul Persoalan-Persoalan Filsafat karangan Harold H. Titus dari Denison University, Marilyn S.Smith dari University Of Hartford, dan Richard T. Nolan dari Mattatuck Community College yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Prof.Dr.H.M. Rasjidi dan diterbitkan pada tahun 1984.
Kita bisa melihat bahwa kedua buku tersebut diterbitkan pada tahun yang berbeda. Apakah dengan perbedaan tahun terbit tersebut menjadi pengaruh perbandingan signifikan dalam kualitas penulisan maupun kualitas isi.  Penulisan perbandingan tidak sebatas pada isi buku saja, tetapi sistematika penulisan, gaya bahasa, bahkan ilustrasi hal-hal intrinsik buku.

2.        Rumusan Masalah
1.        Berapa pertanyaan tentang bagaimana struktur penyusunan buku tersebut?
2.        Bagaimana penyusunan kata pengantar dan pendahuluan buku tersebut? Apakah kata pengantar ada pesan yang mengantar pembaca untuk menguasai isi buku?
3.        Apakah dalam pendahuluan memberikan latar belakang dan gambaran konsep tentang kompetensi/tujuan yang harus dikuasai pembaca?
4.        Bagaimana isi konsep dan contoh-contoh dimuat dalam menjelaskan pandangan atau teori yang dimuat pada buku tersebut?
5.        Apakah ada pertanyaan setelah siap bab?
6.        Apakah ada indeksnya/glosarium pada buku tersebut?
7.        Apakah ada informasi tentang pengarang?

3.        Tujuan
1.        Untuk melihat bagaimana struktur penyusunan buku.
2.        Untuk melihat bagaimana penyusunan kata pengantar dan pendahuluan buku dan pesan pada kata pengantar.
3.        Untuk melihat apakah pendahuluan mengandung latar belakang dan gambaran konsep.
4.        Untuk mengetahui isi konsep dan contoh-contoh serta pandangaan.
5.        Untuk melihat adakah pertanyaan dalam buku.
6.        Untuk melihat apakah ada indeks dalam buku.
7.        Untuk melihat informasi pengarang buku.

4.        Manfaat
Dengan melakukan resensi pada buku maka dapat dilihat kelebihan maupun kelemahan buku, juga melakukan ulasan terhadap buku agar pembaca dapat mengetahui isi buku tanpa harus membaca buku secara keseluruhan. Dengan menggunakan resensi juga dapat diketahui bagaimana cara mengatasi atau memperbaiki kelemahan yang terdapat dalam buku sebaliknya, meningkatkan kualitas buku melalui perbaikan-perbaikan. Dengan melakukan resensi, selain dapat diketahui kelebihan dan kelemahan namun juga dapat dilihat buku secara deskriptif dan informatif.kumm


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 RINGKASAN BUKU DIKRITISI

BAB I
KONSEP DASAR ILMU FILSAFAT
A.      FILSAFAT DAN HIKMAH
Secara Epistimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu Philosophia, yang terdiri dari kata Philos yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Secara harafiah, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan (kecenderungan untuk menyenangi kebijaksanaan). Berdasarkan definisi ini kajian filsafat itu sendiri adalah realitas hidup manusia yang dijelaskan secara ilmiah guna memperoleh pemaknaan menuju “hakikat kebenaran”.
Pengertian pokok tentang filsafat menurut kalangan filosof adalah:
a.         Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas.
b.        Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata.
c.         Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan:sumbernya, hakikatnya, keabsahannya dan nilainya.
d.        Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.
e.         Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu anda melihat apa yang anda katakan dan untuk mengatakan apa yang anda lihat.
Immanuel Kant (1724-1804 M), mengatakan bahwa: Filsafat ilmu dasar segala pengetahuan, yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:
a.         Apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)
b.        Apakah yang boleh kita kerjakan? (dijawab oleh etika/norma)
c.         Sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh agama)
d.        Apakah yang dinamakan manusia? (dijawab oleh antropolog)
Pandang Sidi Gazalba filsafat adalah berpikir secara mendalam, sistematik, radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada. Pendapat Sidi Gazalba ini memperlihatkan adanya tiga ciri pokok dalam filsafat, yaitu:
a.         Adanya unsur berpikir yang dalam hal ini menggunakan akal.
b.        Adanya unsur tujuan yang ingin dicapai melalui berpikir tersebut.
c.         Adanya unsur ciri yang terdapat dalam pikiran tersebut, yaitu mendalam.

B.       PENGERTIAN ILMU
Pengertian ilmu menurut KBBI adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Ciri-ciri utama ilmu menurut terminology antara lain adalah:
a.         Ilmu adalah sebagian pengetahuan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan.
b.        Berbeda dengan pengetahuan, ilmu tidak pernah mengartikan kepingan pengetahuan satu utusan tersendiri, sebaliknya ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke objek (alam objek) yang sama dan saling berkaitan secara logis.
c.         Ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing-masing penalaran perorangan, sebab ilmu dapat memuat di dalamnya dirinya sendiri hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang belum sepenuhnya dimantapkan.
d.        Di pihak lain,yang seringkali berkaitan dengan konsep ilmu (pengetahuan ilmiah) adalah ide bahwa metode-metode yang berhasil  dan hasil-hasil  yang terbukti pada dasarnya harus terbuka pada semua pencari ilmu.
e.         Ciri hakiki lainnya dari ilmu adalah metodologi, sebab kaitan logis yang dicari ilmu tidak dicapai dengan penggabungan tidak teratur dan tidak terarah dari pengamatan dan ide yang terpisah-pisah.
f.         Kesatuan setiap ilmu bersumber di dalam kesatuan objeknya.
Ilmu adalah sebagian pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu yaitu sistematik,rasional, empiris, universal, objektif, dapat diukur, terbuka dan kumulatif (bersusun timbun).

C.      PERSAMAAN DAN PERBEDAAN FILSAFAT DAN ILMU
Persamaan filsafat dan ilmu adalah sebagai berikut:
a.         Keduanya mencari ilmu yang sebaik-baiknya menyelidiki objek selengkap-lengkapnya sampai ke akar-akarnya.
b.        Keduanya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian-kejadian yang kita alami dan mencoba menunjukkan sebab-sebabnya.
c.         Keduanya hendak memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan.
d.        Keduanya mempunyai metode dan sistem.
e.         Keduanya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari hasrat manusia (objektivitas), akan pengetahuna yang lebih mendasar.
Perbedaan filsafat dan ilmu adalah sebagai berikut:
a.         Objek material (lapangan) filsafat itu bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan objek material (pengetahuan ilmiah) itu bersifat khusus dan empiris.
b.        Objek formal(sudut pandang) filsafat itu bersifat nonfragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar.
c.         Filsafat dilaksanakan dalam suatu suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi, kritis dan pengawasan sednagkan, ilmu haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial and error.
d.        Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskurtif, yaitu menguraikan secara logis, yang dimulai dari tidak tahu menjadi tahu.
e.         Filsafat memberikan penjelasan yang terakhir, yang mutlak dan mendalam samapai mendasar (primary cause) sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih dekat, yang sekunder(secondary cause).

D.      PENGERTIAN FILSAFAT ILMU
Filsafat ilmu pengetahuan itu mampu memberikan kejelasan mutlak dan menentukan kaedah-kaedah definitive bagi metode ilmiah adalah pada umumnya dan bagi metode-metode khusus. Berfilsafat terhadap ilmu ialah pemikiran lebih lanjut tentang ilmi itu sendiri. Suatu proses berpikir secara ilmiah yang memiliki kekhususan mengenai ilmu pengetahuan.

E.       TUJUAN FILSAFAT ILMU
Penjelasan tentang tujuan filsafat ilmu oleh Bakhtiar (2004:20) dijelaskan sebagai berikut:
a.         Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
b.        Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu di berbagai bidang, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara histosris.
c.         Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan nonilmiah.
d.         Mendorong para calon ilmuwan dan ilmuwan konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya.
e.         Mempertegas bahwa persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan.












BAB II
PERKEMBANGAN FILSAFAT DAN SAINS

A.      SAINS DAN FILSAFAT
Tuhan, itulah sumber sejati, darimana segala sesuatu itu berasal. Menurut Muhammad Iqbal, alam tak lain adalah medan kreativitas Tuhan. Oleh karena itu barang siapa yang meneliti dan mengadakan kajian terhadap alam semesta, maka sesungguhnya dia sedang melakukan penelitian terhadap cara kerja Tuhan bekerja dalam penciptaan atau dalam bahasa yang lebih popular, maka sesungguhnya orang (sains) tersebut sedang melakukan penelitian tentang sunnatullah.
Selain sebagai basis metafisik ilmu (sains), filsafat juga bisa dijadikan sebagai basis moral bagi ilmu dengan alasan bahwa tujuan menuntut ilmu dari sudut aksiologis adalah untuk memperoleh kebahagiaan bagi siapa saja yang menuntutnya.

B.       PERKEMBANGAN ILMU MASA MODERN DAN KONTEMPORER
Pengetahuan mempunyai peran penting dalam membentuk peradaban dan kebudayaan manusia,dan dengan ini pula tampaknya, muncul semacam kecenderungan yang terjalin pada jantung setiap ilmu pengetahuan dan juga para ilmuwan untuk lebih berinovasi untuk penemuan dan perumusan berikutnya.
Dengan demikian, ilmu pengetahuan harus bernilai praktis bagi manusia, di antaranya dalam bentuk teknologi. Akibatnya, menaklukkan alam dan mengeksploitasinya habis-habisan tidaklah dapat dianggap sebagai kesalahan. Tentang tujuan ilmu pengetahuan dalam ilmu pengetahuan modern ialah bahwa ilmu pengetahuan bertujuan menundukkan alam, alam dipandangnya sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan dan dinikmati semaksimal mungkin.
Descartes mewariskan suatu metode berpikir yang menjadi landasan berpikir dalam ilmu pengetahuan modern. Langkah-langkah tersebut adalah:
1.        Tidak menerima apa pun sebagai hal yang benar, kecuali kalu diyakini sendiri bahwa itu memang benar.
2.        Memilah-milah masalah menjadi bagian-bagian terkecil untuk mempermudah penyelesaian.
3.        Berpikir runtut dengan mulai dari hal yang sederhana sedikit untuk mencapai ke hal yang paling rumit.

BAB III
MANUSIA DAN PENGETAHUAN

Pengetahuan adalah suatu gambaran objek-objek eksternal yang hadir dalam pikiran manusia. Pengetahuan juga sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang karena adanya reaksi, persentuhan, dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya. Pengetahuan yang dimaksud pada tulisan ini adalah pengetahuan yang dibicarakan dalam ranah filsafat, mengingat bahasan mengenai pengetahuan manusia secara umum menjadi konsentrasi kajian pada tulisan ini. Oleh karenanya, kajian yang dipaparkan pada tulisan ini secara umum akan menggambarkan pengetahuan dalam pendekatan filsafat pengetahuan (epistemology) sebagai bagian yang banyak dibicarakan pada kajian filsafat ilmu.

A.      PENGETAHUAN MANUSIA
Manusia ingin lebih tahu siapa dirinya dan bagaimana dunia. Dua jenis pengetahuan ini menentukan evolusi, kemajuan dan kabahagiaannya. Ilmu pengetahuan adalah sarana untuk mengenali dunia, sedangkan agama adlah produk dari kenal, tahu atau sadar diri. Jika manusia mengenal dirinya melalui ilmu pengetahuan, maka kenal diri seperti ini menjemukan dan tidak hidup.
Namun kalau manusia mengenal dirinya melalui agama, maka kenal diri seperti ini menbuatnya mengetahui realitasnya, menghilangkan apatinya, membakar jiwanya dan membuatnya memiliki rasa kasih sayang dan simpati. Bukan saja itu, ilmu pengetahuan dan filsafat terkadang justru membuat manusia tidak sensitive dan lupa akan dirinya. Mereka lupa kan dirinya, sedangkan banyak orang tak berpendidikan sadar akan dirinya.

B.       CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN
Cara manusia memperoleh pengetahuan antara lain: akal sehat (common sense), trial and error (metode mencoba-coba), dan metode eksperimen  sebagai paradigm ilmiah, maka berdasarkan pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui pula cara lain manusia memperoleh pengetahuan, yaitu: filsafat dan agama.
Filsafat tidak menawarkan jawaban yang pasti dan jalan keluar yang aman, justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari yang sama sekali tidak dipersoalkan. Sebaliknya, agama kerap dipersepsi sebagai rumusan yang telah sipertanyakan lagi kebenarannya. Selain filsafat dan agama sebagai cara lain memperoleh pengetahuan, beberapa tokoh filsafat juga menyebutkan “intuisi” sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. Intuisi adlah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiab tanpa melalui proses penalaran tertentu.
Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan sebagaimana gejala tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat, yaitu: pertama, tidak dari permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya; kedua, lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna menemukan jawaban yang memuaskan; ketiga, sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu merangsang keingintahuan manusia; dan keempat, hasil dari gejala mengetahui adalah manusia secara sadar tahu bahwa ia tahu.

C.      JENIS PENGETAHUAN MANUSIA
Pada umumnya pengetahuan dibagi menjadi beberapa jenis di antaranya:
1.        Pengetahuan Langsung (Immediate)
Pengetahuan Immediate adalah pengetahuan langsung yang hadir dalam jiwa melalui proses penafsiran dan pikiran.
2.        Pengetahuan Tak Langsung (Mediated)
Pengetahuan Mediated adalah hasil dari pengaruh interpretasi dan proses berpikir serta pengalaman-pengalaman yang lalu.
3.        Pengetahuan Indrawi (Perceptual)
Pengetahuan indrawi adlah sesuatu yang dicapai dan diraih melalui indra-indra lahiriah.
4.        Pengetahuan Konseptual (Conceptual)
Pikiran manusia secara langsung dan tidak langsung tidak dapat membentuk suatu konsepsi-konsepsi tentang objek-objek dan perkara-perkara eksternal tanpa berhubungan dengan alam eksternal.

5.        Pengetahuan Partikular (Particular)
Pengetahuan particular berkaitan dengan satu individu , objek-objek tertentu atau realitas-realitas khusus.
6.        Pengetahuan Universal (Universal)
Pengetahuan universal mencakup individu-individu yang berbeda.


D.      HAKIKAT PENGETAHUAN MANUSIA
Definisi ilmu pengetahuan lebih menyoroti kenyataan tertentu yang menjadi kompetensi bidang ilmu pengetahuan masing-masing, sedangkan filsafat lebih merefleksikan kenyataan secara umum yang belum dibicarakan di dalam ilmu pengetahuan. Walaupun demikian, ilmu pengetahuan tetap berasal dari filsafat sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan yang berdasarkan kekaguman atau keheranan yang mendorong rasa ingin tahu untuk menyelidikinya, kesangsian dan kesadaran akan keterbatasan.
Ciri-ciri hakiki pengetahuan manusia adalah (J. Sudarminta):
a.         Kepastian mutlak tentang kebenaran segala pengetahuan kita memang tidak mungkin, sebab manusia adalah makhluk contingent dan fallible.
b.        Subjek berperan aktif dalam kegiatan mengetahui dan tidak hanya bersifat pasif menerima serta melaporkan objek apa adanya.
c.         Pengetahuan manusia memang bersifat relasional dan kontekstual, tetapi itu tidak berarti bahwa objektivitas dan universalitas pengetahuan menjadi tidak mungkin.









BAB IV
FILSAFAT PENDIDIKAN

A.      TEORI NILAI
Teori nilai merupakan kerangka ketiga dalam tiga kerangka besar filsafat: teori pengalaman, teori hakikat dan teori nilai. Teori nilai mencakup dua cabang filsafat yang cukup terkenal: Etika dan Estetika. Nilai artinya harga. Sesuatu mempunyai nilai bagi seseorang karena ia berharga bagi dirinya. Pada umumnya orang mengatakan bahwa nilai sesuatu melekat pada benda dan bukan di luar benda.
Ilmu agama harus terbuka pada konteksnya dan agamalah yang menjadi konteks itu. Agama mengarahkan ilmu pengetahuan pada tujuan hakikinya, yakni memahami realitas alam, dan memahami eksistensi Allah, agar manusia menjadi sadar akan hakikat penciptaan dirinya, dan tidak mengarahkan ilmu pengetahuan “melulu” pada praxis, pada kemudahan-kemudahan material dunaiwi.

B.       ETIKA
Etika merupakan penyelidikan filsafat mengenai kewajiban-kewajiban manusia serta tingkah laku manusia dilihat dari segi baik dan buruknya tingkah laku tersebut. etika keilmuan merupakan etika normative yang merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan dapat diterapkan dalam ilmu pengetahuan.
Tujuan etika keilmuan adalah agar seorang ilmuan dapat menerapkan prinsip-prinsip moral, yaitu yang baik dan menghindarkan dari yang buruk ke dalam perilaku keilmuannya, sehingga ia dapat menjadi ilmuan yang mempertanggungjawabkan perilaku ilmiahnya. Etika normative menetapkan kaidah-kaidah yang mendasari pemberian penilaian terhadap perbuatan-perbuatan apa yang seharusnya dikerjakan dan apa yang seharusnya terjadi serta menetapkan apa yang bertentangan dengan yang seharusnya terjadi.
1.        Sifat Dasar Etika
Etika mempunyai sifat yang mendasar yaitu sifat kritis.  Etika mempersoalkan norma-norma yang dianggap berlaku; menyelidiki dasar norma-norma itu; mempersoalkan hak dari setiap lembaga untuk memberi perintah atau larangan yang harus ditaati.Etika dibutuhkan sebagai pengantar pemikiran kritis yang dapat membedakan antara apa yang sah dan apa yang tidak benar.


2.        Objek Etika
Objek penyelidikan etika adalah pernyataan-pernyataan moral yang merupakan perwujudan dari pandangan-pandangan dan persoalan-persoalan dalam bidang moral. Pada dasarnya hanya ada dua macam pernyataan: pertama, pernyataan tentang tindakan manusia. Kedua, pernyataan tentang tindakan manusia itu sendiri atau tentang unsur-unsur kepribadian manusia, seperti motif-motif, maksud dan watak.
3.        Metode Etika
Ada 4 macam pendekatan dalam menilai suatu pendapat moral, yaitu:
a.         Pendekatan empiris deskriptif dapat menyelidiki.
b.        Pendekatan fenomenologis memperlihatkan bagaimana kiranya kesadaran seseorang yang sependapat bahwa ia berkewajiban untuk pernikahannya.
c.         Pendekatan nornatif. Melalui pendekatan ini dipersoalkan apakah suatu norma moral yang diterima umum atau dalam masyarakat tertentu memang tepat ataukah sebetulnya tidak berlaku atau malah harus ditolak.
d.        Pendekatan metaetika. Pendekatan ini berupa analisis Bahasa Moral. Metaetika berusaha untuk mencegah kekeliruan dan kekaburan dalam penyelidikan fenomenologis dan normative dengan cara mempersoalkan arti tepat dari istilah-istilah moral dan mengatur pernyataan-pernyataan moral menurut macamnya serta mempersoalkan bagaiamana suatu pernyataan  moral dapat diberikan.
4.        Etika Normative
Dikemukakan ada beberapa teori, yaitu:
a.         Teori dentologis, menagtakan bahwa betul-salahnya sesuatu tindakan tidak dapat ditentukan dari akibat-akibat tindakan itu, melainkan ada cara bertindak yang begitu saja terlarang, atau begitu saja wajib.
b.        Teori teleologis, mengatakan bahwa betul-tidaknya tindakan justru tergantung dari akibat-akibatnya.
c.         Teori egoism etis, menyoroti tentang akibat dari perbuatan bagi kepentingan pribadi, bukan kepentingan orang banyak.


Untuk mendalami teori egoisme etis, mari kita bicarakan bidang-bidang khusus bahasan teori tersebut.
a.        Hedonisme
Aliran ini berpendapat bahwa yang dinilai baik itu ialah sesuatu yang dapat memberikan rasa nikmat bagi manusia.
b.        Eudemonisme
Mengajrakan bahwa segala tindakan manusia adan tujuannya. Ada tujuang yang dicari demi suatu tujuan selanjutnya da nada tujuan yang dicari demi dirinya sendiri.

5.        Etika Utilitarisme
Utilitarisme adalah teori menilai betul-salahnya tindakan manusia ditinaju dari segi manfaat akubatnya. Sifat utilitarisme adalah sifat universalis karena yang jadi penilaian norma-norma bukanlah akibat-akibat baik bagi dirinya sendiri, melainkan juga baik bagi seluruh manusia.
a.        Utilitarisme Tindakan
Mengajarkan bahwa manusia mesti bertindak sedemikian rupa sehingga setiap tindakannya itu menghasilkan suatu kelebihan akibat-akibat baik di dunia yang sebesar mungkin disbanding dengan akibat-akibat buruk.
b.        Utilitarisme Peraturan
Mempunyai kaidah utama ajarannya sebagai berikut,” bertindaklah selalu sesuai dengan kaidah-kaidah yang penetapannya menghasilkan kelebihan-kelebihan akaibat-akibat baik di dunia yang sebesar mungkin dibandingkan dengan akibat-akibat buruk”.

6.        Etika Teonom Murni
Etika ini mengajarkan bahwa tindakan dikatakan benar bila sesuai dengan denga kehendak Allah dan dikatakan salah apabila tidak sesuai, suatu tindakan wajib dikerjakan jika diperintahkan Allah.

7.        Teori Hukum Kodrat
Teori ini mengatakan bahwa baik buruk ditentukan oleh Allah seakan-akan secara sewenang-wenang. Sesuatu dikatakan benar jika seuai dengan tujuan manusia atau sesuai dengan kodrat manusia.


C.      ETIKA SEBAGAI BAGIAN DARI FILSAFAT
Filsafat pada umumnya didefinisikan sebagai suatu tindakan pemikiran yang logis, kritis, mendasar hingga ke akar-akar permasalahan.  Etika bisa disebut juga sebagai filsafat praktis, karena ia membahas “ yang harus dilakukan”. Etima merefleksikan tema-tema yang menyangkut perilaku manusia. Tema-tema yang dianalisis seperti, hati nurani, kebebasan, tanggung jawab, nilai, norma, hak, kewajiban dan keutamaan. Nilai dan norma etis dalam moralitas yang terdapat dalam agama, kebudayaan, nasionalime, pergaulan anak muda dan lain-lain, menjadi objek kajian intelektual etika yang langsung dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

D.      ESTETIKA
Nilai baik dan buruk sering diterapkan orang kepada perbuatan atau tindakan manusia, sedangkan nilai indah dan tidak indah lebih cenderung untuk diterapkan kepada soal seni. Estetika berusaha untuk menemukan nilai indah secar umum. Sehingga tidak mustahil kalu akhirnya timbul beberapa teori yang membicarakan hal itu.

E.       KEBENARAN ILMIAH DAN KONSEP FILSAFAT ILMU
Dalam filsafat pendidikan, kebenaran ilmiah sebagai entitas struktur komponen ilmu pendidikan, dimana hakikat pelaksanaan pendidikan yang bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang, cara dan hasilnya akan dipraktekkan berdasarkan analisis kritis terhadap struktur dan kegunaannya. Adapaun aliran-aliran dalam filsafat pendidikan adalah sebaga berikut:
1.        Progresivisme
Progresivisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi dan mengatasi masalah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam adanya manusia itu sendiri.
Hal ini progresivisme memandang manusia sebagai makhluk yang bebas, aktif, dinamis dan kreatif. Kedudukan manusia penting dalm perkembangan kebudayaan dan peradaban.

2.        Esensialisme
Esensialisme dalam memandang kebudayaan dan pendidikan berbeda dengan progresivisme, esensialime menganggap bahwa dasar pijak ini kurang tepat karena fleksibiltas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu.
Di samping itu esensialime memandang manusia sebagai makhkuk budaya,artinya keberadaan manusia mempunyai peranan sebagai penghayat, pelaksana dan sebagai pengembang kebudayaan. Disinilah fungsi pendidikan dalam berbagai bentuk dan manifestasinya yang senantiasa berkembang dan berubah, merupakan refleksi dari kebudayaan mengantarkan manusia ke dalam fikiran dan alam modern yang ditandai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

3.        Perenialisme
Perenialisme dalam memandang keadaan sekarang adalah sebagai zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kekacauan, kebingungan dan kesimpangsiuran. Perenialisme mengikuti tradisi perkembangan intelektual akademik yang ada pada dua zaman, Yunani dan abad pertengahan.
Memandang pengetahuan, perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian antara piker dan benda-benda.

4.        Rekonstruksionisme
Aliran ini  memandang manusia sebagai makhluk sosial. Manusia tumbuh dan berkembang  dalam keterkaitannya dengan proses sosial dan sejarah dari pada masyarakat. Pendidkan mempunyai peranan untuk menandakan pembaharuan dan pembangunan masyarakat. Perkembangan ilmu dan teknologi tidak memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi masyarakat, namun juga membawa dampak negative.
Hal tersebut yang menyebabkan tumbuhnya pikiran kritis rekonstruksionisme yang terjadi dalam masyarakat, sehingga dapat dikatakan rekonstruksi sebagai tujuan mencari titik kebenaran melalui lembaga pendidikan.





BAB V
FONDASI PENGKAJIAN ILMU

A.      ONTOLOGI
Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, Ariestoteles.
Hakikat  kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang :
1.        Kuantitatif, apakah kenyataan jamak atau tunggal
2.        Kualitatif, apakah realitas tersebut memiliki kualitas tertentu.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.
Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu – ilmu empiris. Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhirnya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagiamana yang ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya.
Secara etimologi Bakhtiar (2004:132) menjelaskan kata ontologi berasal dari perkataan Yunani: On = being dan logos = logic. Sejalan dengan Bakhtiar Noeng Muhajir dalam bukunya filsafat ilmu mengatakan, ontologi membahas tenteng yang ada, dan tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu.
1.        Monoisme
Aliran monoisme memandanag bahwa asal mula sesuatu atau hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanya satu. Ada pencipta dan ada ciptaan, berarti ada dua eksisten, tetapi yang kedua berasal dari yang pertama. Lalu siapakah keberadaan yang pertama itu? Keberadaan yang hakiki, yang darinya bersumber keberadaan yang lain? Ia mampu mengadakan mahkluk hidup berarti maha menghidupi. Ia penyebab keteraturan di alam semesta berarti ia maha pengatur. Paham ini terbagi dalam dua aliran :
a.        Materialisme
Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapata dikatakan benar-benar ada adalah materi. Materialisme tidak mengakui entitas-entitas non material seperti: roh, hantu, setan, malaikat. Tidak ada Allah atau dunia adikodrati/supranatural.
Secara etimologis kata materialisme terdiri dari kata materi dan isme. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia materi adalah bahan;benda;segala sesuatu yang tampak.
Masih dari kamus yang sama disebutkan bahwa materialis adalah pengikut paham materialisme yang mementingkan kebendaan.
Setidaknya  ada lima dasar ideologi yang dijadikan dasar keyakinan paham ini.
1.        Segala yang ada berasal dari satu sumber yang materi
2.        Tidak meyakini alam ghaib
3.        Menjadikan panca-indera sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu
4.        Memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakan hukum
5.        Menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlak.

b.        Idealisme
Menurut sejarah, orang yang pertama kali mengemukakan pemikiran tentang idealisme adalah George Barkeley. Idealisme adalah sebuah teori tentang realitas dan pengetahuan yang menjelaskan tentang kesadaran atau pemikiran yang immaterial dan mempunyai fungsi utama dalam aturan dunia.
Idealisme diambil dari kata “idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Alasan aliran ini menyatakan bahwa hakikat benda adalah rohani, spirit atau sebangsanya adalah:
a.         Nilai ruh lebih tinggi dari badan
b.        Manusia lebih memahami dalam dirinya daripada luar dirinya
c.         Materi adalah kumpula energi yang menempati ruang. Sebenarnya bagi penganut idelisme tidak ada materi. Segala kenyataan manusia adalah ruh.
2.        Dualisme
Dualisme adalah konsep filsafat yang meyatakan ada dua substansi
a.         Gagasan tentang dualisme jiwa dan raga berawal sejak zaman Plato dan Arietoteles dan berhubungan dengan spekulasi tentang eksistensi jiwa
b.        René Descartes (1641) berpendapat bahwa pikiran adalah substansi nonfisik.
Desacartes meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan. Dia meragukan  badannya sendiri. Keraguan itu menjadi mungkin karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi dan pengalaman pada ruh halus ada yang sebenarnya itu tidak jelas. Tidak ada batasan mimpi dan jaga.
Umumnya manusia tidak akan mengalami kesulitan untuk menerima prinsip ini, karena setiap kenyataan dapat segera ditangkap panca indera kita, sedang kenyataan batin dapat segera diakui adanya oleh akal dan perasaan hidup.

3.        Pluralisme
Pluralisme adalah sebuah kerangka adanya interaksi beberapa kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormati satu sama lain. Pluralisme dapat dikatakan salah satu ciri masyarakat modern dan kelompok sosial yang paling penting.
Bisa diargumentasikan bahwa sifat pluralisme adalah faktor pertumbuhan pesat ilmu pengetahuan.
Menurut Bakhtiar (2007:143) berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Tokoh aliran ini pada masa Yunani kuno adalah Anaxa Goras dan Empledocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri atas 4 unsur, yaitu tanah, air, api dan udara.

4.        Nihilisme
Nihilisme adalah suatu paham, kata kerjanya adalah Annihilate, meniadakan, membasmi, memusnahkan, menghapuskan, melenyapkan segala eksistensi. Nihilisme mengatakan bahwa keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan.
Pemikiran – pemikiran Nihilisme dapat dilihat pada karya-karya pendukung mahsyurnya seperti Jean Paul Sartre, Franz Kafka, Arbert K, samuel B, Arthur A.
Nihilisme merupakan kecenderungan baru di dunia modern. Pesimisme di masa kontemporer menjadi nihilisme sekarang. Bunuh diri, lari dari tanggung jawab, dan memandang hidup ini sebagi canda gurau belaka adalah merupakan tanda bahwa manusia masa kini memandang  rendah kehidupan dan terjabak dalam dunia nihilisme.
Dibawah ini akan disebutkan beberapa kondisi yang manusia abad kini cenderung pada Nihilisme, antara lain:
1.        Pasca revolusi industri, dunia Barat mengandalkan ilmu dan industri sebagai Tuhan, saat perang, terjadi perubahan ekonomi yang tidak dapat diselesaikan, akhirnya mereka putus asa dan kehilangan kepercayaan.
2.        Dua perang dunia dan revolusi berdarah yang terjadi membuat manusia semakin terjepit dan gelap.
3.        Ribuan manusia mengalami kemiskinan dan sebgain mewah dan berlebihan menjadikan mereka memandang rendah kehidupan
4.        Banyak penganut Materialisme yang menjauhkan diri dari Tuhan
5.        Nilai-nilai manusia mengalami perubahan.
Dalam perjalanan sejarah, manusia senatiasa ingin mengetahui dari mana dia berasal , untuk apa dia hadir di muka bumi, dan kemana ia akan pergi setelah kematian. Sebagian manusia tidak mampu memberikan solusi atas persoalan tersebut.
Filosof agama bersentuhan dengan sistem filsafat yang sempurna dan pengetahuan mereka yang lengkap tentang agama, sehinngga mereka tidak jatuh ke lembah nihilisme dan pesimisme.
Fenomena kematian merupakan salah satu faktor kecenderungan manusia kepada pesimisme dan nihilisme. Hakikat kematian yang tidak terungkap menarik banyak para pemikir ke arah pesimisme.
Keberadaan tujuan, cita-cita dan harapan dalam kehidupan pada beberapa aspek bisa mengantisipasipesimisme dan nihilisme.

5.        Agnotisme
Agnotisme adalah  suatu pandangan filosofis  bahwa suatu nilai kebenaran dari suatu klaim tertentu umumnya yang berkaitan dengan theologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa, dan sejenisnya. Agnostik adalah paham tentang bahwa di dunia ini memang benar ada suatu kekuatan besar lainnya selain kekuatan manusia.
Menurut Bakhtiar (2004:146) mengatakan bahwa aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti Soren Kierkeegar, Heidegeer , Sarter, Jaspers.
Agnotisme dapat disimpulkan adalah faham pengingkaran atau penyangkalan terhadap kemampuan manusia mengetahui hakikat baik materi maupun ruhani.

B.       EPISTOMOLOGI
Epistomologi adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal , sifat dan jenis pengetahuan. Epistomologi atau teori pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian  dan dasar-dasarnya.
Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan dapat dipercaya. Pengetahuan bisa diperoleh dari dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis  dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan.
Pengetahuan yang diperoleh  manusia melalui akal, indera dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam metode pengetahuan diantaranya :
1.        Metode Induktif
Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum. Jalan induksi mengambil jalan tengah, yakni diantara jalan yang memeriksa cuma satu bukti saja dan jalan yang menghitung lebih dari satu, tetapi boleh dihitung semuanya satu persatu.
Dalam induksi, setelah diperoleh pengetahuan, maka akan dipergunakan hal lain, sperti ilmu mengajarkan kita bahwa kalau logam dipanasi ia mengembang, bertolak dari teori ini, kita akan tau bahawa logam lain yang kalau dipanasi juga akan mengembang.
2.        Metode deduktif
Deduksi adalah cara berpikir dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif dinamakan Silogismus. Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal- hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
3.        Metode Postivisme
Auguste Comte berpendapat, postivisme adalah cara pandang dalam memahami  dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham Positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan demikian juga alam. Psitivisme logis adalah filsafat yang harus dapat memebrikan kriteria yang ketat untuk menetapkan  sebuah pernyataan benar atau tidak mempuanyai arti sama sekali. Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis antara lain Moritz Schilck, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan A.J Ayer.
Salah satu teori Positivisme logis yang paling dikenal antar lain teori tentang makna yang dapat dibuktikan yang menyatakan bahwa sebuah pernyataan dapat disebut sebagai bermakna jika dan hanya jika pernyataan tersebut dapat diverivikasi secara empiris.
Para pengkritik postivisme logis berpendapat bahwa landasan dasar yang digunakan oleh positivisme logis sendiri tidak dinyatakan  dalam bentuk yang konsisten.
Karl Popper, salah satu kritikus positivisme logis menyajikan alternatif  dari teori syarat pembuktian makna yaitu membedakan pernyataan ilmiah dan metafisik.
4.        Metode Kontemplatif
Tentang metode kontemplatif Bakhtiar (2004:155) mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut intuisi.
5.        Metode Dialektis
Metode dialektika dapat diartikan sebagai metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melakukan perdebatan.Hegel  dalam Bakhtiar (2004:156) menggunakan metode dialektis untuk menjelaskan filsafatnya.

C.      AKSIOLOGI
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia mempergunakan ilmunya. Rasa keingintahuan manusia ternyata menjadi titik-titik perjalanan manusia yang tak akan pernah usai. Hal inilah yang pada akhirnya melahirkan beragam penelitian dan hiotesa awal manusia terhadap inti dari keanekaragaman realitas. Kemudian dirumuskanlah sebuah teori pengetahuan dimana pengetahuan terklasifikasi menjadi beberapa bagian.
Aksiologi adalah istilah  yang berasal dari kata Yunani axios yang berarti sesuai atau wajar. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai.
Ilmu adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu scientia yang berarti ilmu. Fungsi ilmu menurut Ahmad Tafsir, teori mempunyai tiga fungsi dilihat dari kegunaan teori dalam menyelesaikan masalah. Pertama, teori sebagai alat eksplanasi. Kedua, teori sebagai alat peramal. Ketiga, teori sebagai alat pengontrol.
Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan telah menciptakan berbagai bentuk kemudahan bagi manusia. Namun apakah hal iru selalu demikian? Memang dengan mempelajari teknologi seperti pembuatan bom atom, manusia bisa memanfaatkan sebagai sumber energi bagi keselamatan manusia, tetapi di pihak lain hal ini bisa juga berakibat sebaliknya yang menimbulkan malapetaka.
Dihadapkan dengan masalah moral dalam ekses ilmu dan teknologi yang besifat merusak, para ilmuwan  terbagi kedalam dua golongan pendapat. Pertama, berpendapat bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai. Golongan kedua berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya haruslah berlandaskan nilai-nilai moral.
Dari dua pendapat golongan diatas, kelihatannya netralitas ilmu terletak pada epistemologisnya saja, artinya tanpa berpihak  kepada siapapun, selain kepada kebenaran yang nyata.


BAB  VI
FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

Defenisi kata filsafat adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Sebetulnya pemikiran-pemikiran barat lahir di Yunani kuno dan dimajukan sebagai pangkal sejarah filsafat Barat.  Pemikiran filsafat di Eropa diwarnai dengan unsur-unsur baru ( agama Khatolik). Dengan kata lain pemikiran filsafat didasarkan  pada firman Tuhan. Pada abad 12 dimana perkembangan filsafat  mengalami peningkatan  yang luar biasa, yang ditandai dengan  adanya universitas-universitas disamping ordo-ordo. Abad 14-17 pemikiran filsafat ditandai dengan munculnya aliran-aliran filsafat. Ini adalah masa dimana menuju pada filsafat modern. Masa ini dikenal dengan Renaisance.
Dalam situasi macam ini hubungan antara agama dan filsafat menjadi cair, dalam artian agama ditinggalkan oleh filsafat. Masing-masing kembali pada dasarnya sendiri., artinya  agama mendasarkan diri pada iman dan kepercayaan pada firman Tuhan, sedangkan filsafat mendasarkan diri pada akal dan pengalaman. Pada masa ini pemikiran filsafat mampu membentuk kepribadian terhadap masing-masing bangsa  dengan pemikiran dan caranya sendiri.

A.      PEMIKIRAN-PEMIKIRAN FILSAFAT
1.        Humanisme
Humanisme berasal dari Barat dan mengalami perkembangan dalam lingkungan pemikiran filsafat Barat. Karena itu, untuk mengkaji dan menganalisis gerakan humanisme pada dasar-dasar epistomologi barat sudah seharusnya merujuk ke berbagai ensiklopedia barat yang akurat. Humanisme adalah paham filsafat yang menjungjung tinggi nilai dan kedudukan manusia serta menjadikannya sebagai kriteria segala sesuatu. Kaum humanis menggiring  perhatian rakyat dari agama ke filsafat dan dari langit ke bumi.
Ideologi dibawah ini adalah ajaran-ajaran yangg terbentuk dari paham humanisme:
1.        Komunisme
2.        Pragmatisme
3.        Eksistensialisme
Dengan demikian sebagian besar ajaran filsafat pasca Renaisans secara mendasar telah dipengaruhi oleh humanistik.



2.        Rasionalisme
Aliran Rasionalisme dipelopori oleh  Rene Descartes. Descartes menerima 3 realitas atau substansi bawaan yang sudah ada sejak lahir yaitu (1) Realitas pikiran (2) realitas perluasan (3) Tuhan.
Pikiran yang sesungguhnya adalah kesadaran, tidak mengambil ruang dan tidak dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil.

3.        Positivisme
Aliran Positisme dibangun oleh Saint Simon dan dikembangkan oleh aguste Comte. Ia mennyatakan bahwa pengetahuan manusia berkembang secara evolusi dalam tiga tahap, yaitu teologis, metafisik dan positif.
Aguste Comte mencoa mengembangkan Positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama. Terbukti dengan didirikannya Positivisme Societies di berbagai tempat yang memuja kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan.

4.        Empirisme
Aliran empirisme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu dapat bersifat lahiriah (yang menyangkut dunia) atau batiniah (yang menyangkut pribadi manusia)..olehkarena itu pengenalan indrawi merupakan bentuk pengenalan  yang paling jelas dan sempurna. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita.

B.       SCIENCE/ILMU PENGETAHUAN
‘Science’ merupakan bagian dari himpunan informasi yang termasuk dalam pengetahuan ilmiah, dan berisikan informasi  yang memberikan gambaran tentang struktur dari sistem-sistem serta penjelasan menganai pola-laku sistem-sistem tersebut.
Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada pembenaran ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperluka landasan dan proses  sehingga ilmu pengetahuan dapat dibangun. Dalalm pembangunan ilmu pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga. Beberapa tiang penyangga itu adalah berupa penilaian yang terdiri dari ontologi, epistomologi, dan aksiologi.
Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan  alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum. Oleh karena itu, proses berpikir ilmiah mempunyai cara-cara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah.

C.      PERAN FILSAFAT ILMU DALAM ILMU PENGETAHUAN
Menurut Didi (1997) ilmru pengetahuan harus diperoleh dengan cara sadar, melakukan sesuatu terhadap objek, didasarkan pada suatu sistem, peosesnya menggunakan cara yang lazim, mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verivikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilmiahnya..
Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, perkembangannya seiring  dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dapakai dalam pembangunan ilmu pengetahuan, tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (Aliran Rasionalistas) dan John Locke (aliran empirikal).Kalau sebelumnya terdapat berpikir secara rasional, maka dengan meningkatnya intensitas penelitian maka kecenderungan memilih berpikir rasional ini akan beralih pada kevenderungan berpikir secara empiris.
Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya meupakan implikasi dari metode ilmiah (Jujun 1990).
Berdasarkan terminologi , empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau eksperimen,bukan teori (Kamus Dewan 1994:336)atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman.
Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan taakulan, menurut pertimbangan atau pikiran yang wajar, waras (Kamus Dewan 1994:1107).
Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan empiris yang didasarkan pada fakta (objektif), karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme, empirisme, dan objektivitas maka bepikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah.


D.      NILAI-NILAI YANG DITIMBULKAN SCIENCE.
1.        Teknologi, teknologi merupakan bagian dari himpunan informasi yang  termasuk dala pengetahuan ilmiah yang berisikan informasi preskriptif mengenai penciptaan sistem-sistem dan pengoperasian sistem tersebut. Orang sering memandang sisten yang tercipta sebagai teknologi juga, pandangan demikian sebaiknya tak diikuti, karena menimbulkan kerancuan dalam pengembangan pemikiran selanjutnya. Lebih tepat bila sistem yang tercipta itu disebut fenomena teknologis.
2.        Materialis, Materialisme adalah paham dalam melihat filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benat adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua hal adalah hasil interaksi material materialisme berbeda dengan dualisme atau pluralisme. Dalam memeberikan penjelasan tunggal tentang realitas, materialisme berseberangan dengan idelasime. Materialisme adalah ajaran yang menekankan keunggulan faktor-faktor material atas yang spiritual dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, epistomologi.
Ada beberapa macam materialisme, yaitu materialisme biologis, materialisme parsial, materialisme antropolgis, materialisme dialektis dan materialisme historis
3.        Refleksi/reifikasi, Reifikasi adalah kecenderungan untuk mewujudkan segala kebudayaan dalam bentuk-bentuk, angka-angka dan kuantitas dan bentuk lahiriah. Kepuasan pekerjaan dinilai dari segi material, , tingkah laku lahiriah, rupa, suara, dan bahasa yang dapat ditangkap oleh panca indera. Hal ini tampak pada laporan pembangunan yang memperlihatkan keberhasilan-keberhasilan dengan angka, dalam bentuk kuantitas, dan statistik perkembangan. Kecenderungan ini seringkali berlebihan misalnya dengan mengukur perasaan cinta, kesenangan, keindahan atau kebahagiaan dengan materi.
4.        Manipulasi, Manipulasi adalah kegiatan yang menyalahgunakan proses dan barang kebudayaan  untuk kepentingan yang rendah, misalnya demi keuntungan. Manipulasi ini tampak pada iklan yang mengelabui  orang tentang suatu produk, misalya melebih-lebihkan khasiat obat atau mengubah  informasi dampak negatif suatu barang konsumsi menjadi sesuatu yang bermsnfsst.
5.        Pragmatisme, Pragmatisme adalah  aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya sutau ucapan, dalil, atau teori semata-mata tergantung kepada fedah atau tidaknya ucapan, dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannnya. Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S Pierce (1839-1942) yang kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan Jhon Dewey (1859-1952). Pragmatisme tidak dapat dipisahkan dari keberadaan dan perkembangan ide-ide di Eropa.
Pragmatisme tak diingkari telah menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme yang telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan gaya lama maupun baru. Pragmatisme dapat dipandang berbahaya karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia—yakni standar kebenaran dan pemikiran dan standar perbuatan manusia.

6.        Individualisme , Individualisme adalah kecenderungan  memecah masyarakat menjadi individu-individu yang dikemudikan oleh kepentingan pribadi.yang sempat. Individualisme adalah paham yang menghargai  individu dan menghormati diri pribadi seseorang yang otonom yang memiliki hak-hak asasi. Individualisme melahirkan penghargaan pada diri sendiri, tetapi juga harus menghargai individu lain. Oleh karena itu individualisme menghasilkan kebebasan dan otonomi individu tetapi juga sekaligus kewajiban-kewajiban asasi individu terhadap masyarakat.

Dampak lain dari individualisasi adalah egoisme, yaitu sikap yang mementingkan diri sendiri tetapi mengabaikan kepentingan orang lain. Jika dipahami secara benar, individualisme memuliakan dan memberikan penghargaan kepada manusia sebagai individu. Namun individualisme ini bisa kebablasan menjadi egoisme karena melepaskan dirinya dari masyarakat. Dengan itu maka individualisme harus diimbangi dengan prinsip-prinsip komunitarian.

E.       FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Ilmu adalah penyempadanan (pembatasan) prosedur-prosedur yang dapat membimbing penelitian menurut arah tertentu. Ilmu berubah sesuai lingkungan budaya dan konstelasi tertentu. Ilmu merupakan keseimbangan yang berharga menghadapi ideologi.
Menerapkan ilmu pada kejuruan dan teknik mempengaruhi kegiatan ilmiah, akan tetapi penerapan yag lebih merupakan akibat penggunaan metode yang tepat dalam ilmu sendiri.
Bahasa ilmu sebagai bagian bahasa pergaulan dan sistem bahasa ilmiah yang baru yang sasarannya adalah pendidikan bahasa suatu ilmu  yang sudah ada “metabahasa”. Pada bahasa sehari-hari  bersifat evaluatif tidak merupakan sistem tertutup, sedangkan bahasa ilmiah mempunyai ciri-ciri bebas nilai yang membentuk sistem tertutup.
Ilmu mempunyai ciri khas sebagai sistem yang terbuka, tetapi ilmu sering dianggap sebagai sistem tertutup. Menurut A. Comte setiap ilmu terdiri atas koordinasi fakta dan makin maju ilmu, fakta makin bergayut pada metode. Ciri ilmu yang merupakan sistem terbuka adalah ilmu merupakan kebudayaan manusiawi, ilmu berbentuk dinamis,  dan yang menanggapi dunia sekelilingnya.
Menurut ahli filsafat klasik, seperti B. Spinoza dan G. W. Leibniz, tetapi juga menurut angapan sehari-hari, yang kadang bersifat intuitif dalam banyak ilmu, hukum sebab akibat berlaku di seluruh alam semesta.  Kausalitas merupakan  bawaan (innate) budi manusia sendiri. Kausalitas dalam teori ilmu modern makin menjadi bagian prosedur penjabaran. Peranan kausaliatas diambil alih oleh model deduktif-nomologis. Dengan demikian pembatasan sistem ilmu akan jelas.
Psikologisme mendasarkan kepastian logis pada kontingensi berfungsinya psikis budi manusia. Metodologi ilmu tak lain dan tak bukan menjadi psikologi. Ilmu merupakan gejala sosial yang disebut sosiologi ilmu. Ilmu hanya dilihat sebagai ilmu terapan. Tiada lagi ilmu murni dan segala teori hanya pegangan unutk mengubah masyarakat.
Pada sistem ilmiah selalu ada pengaruh dari luar. Suatu sistem ilmiah  ialah berdasarkan struktur objektif yang mendasari pengetahuan ilmiah, meneliti apakah isi, susunan dan batasan-batasan ilmu tertentu. Metodologi ilmu menghadapi masalah yaitu (1) kreativitas dalam ilmu, (2) ilmu bersama anak kendungnya, tenik, makin berperan dalam mewujudkan  masyarakat dan budaya.
Dalam dunia harian  etika biasanya terdiri atas susunan kaidah dan banyak putusan evaluatif dalam kawasan dunia teratur tertampung dalam kaidah etis itu.
Ilmu terapan merupakan bagian terbesar ilmu-ilmu. Ilmu terapan artinya lebih luas dari hanya penerapan ilmu. Ciri khas ilmu terapan adalah bersifat mutlak.

a.        Tujuan Dari Ilmu Pengetahuan.
Menurut Braithwaite, ilmu pengetahuan bertujuan mentapkan hukum-hukum umum yang  meliputi perilaku kejadian dan objek yang dikaji oleh ilmu yang bersangkutan. Secara sederhana tujuan ilmu pengetahuan adalah merumuskan teori atas suatu hal yang menjadi objek ilmu tersebut.
Sementara  itu tujuan  ilmu pengetahuan adalah untuk mendeskripsikan, mejelaskan, dan memprediksikan suatu kejadian (Wattimena).


F.       KRITERIA ILMU PENGETAHUAN
Wattimena (2008:111) juga mengatakan setidaknya ada lima kriteria.
1.        Suatu teori dapat diuji secara intersubyektif
2.        Suatu imu pengetahuan dapat dipercaya
3.        Penjelasan dan ketepatan
4.        Koheren dan sistematik
5.        Cakupan yang terbatas dan komprehensibilitas.
Simpulannya suatu teori layak disebut sebagai ilmu pengetahuan jika teori tersebut mampu memenuhi kelima kriteria tersebut.



BAB VII
SARANA BERPIKIR ILMIAH

Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membentu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Dengan jalan ini maka kita akan sampai pada hakikakt sarana yang sebenarnya sebab sarana merupakan alat yang membantu dalam mencapai suatu tujuan.
Sarana ilmiah bukan merupakan kumpulan ilmu, dalam pengertian bahwa sarana ilmiah merupakan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah maka diperlukan sarana berupa bahasa, logika, matematika dan statistika.
Dilihat dari pola berpikirnya maka ilmu merupakan gabungan berpikir deduktif dan induktif. Matematika berperan penting pada berpikir deduktif, dan statistika berpikir induktif.
Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak menyadarinya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemmapuan berpikirnya.
Banyak yang beranggapan bahwa untuk berpikir secara mendalam, seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri di ruangan yang sunyi. Mereka telah menganggap berpikir sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan.

A.      PEMBAGIAN BERPIKIR
Akal merupakan salah satu unsur kejiwaan disamping rasa. Berpikir dapat dilihat secara alamiah dan ilmiah. Berpikir alamiah adalah pola penalaran berdasarkan kebiasaan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya. Berpikir ilmiah adalah landasan atau kerangka berpikir penelitian ilmiah. Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir.

B.       SARANA BERPIKIR ILMIAH MANUSIA
Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membentu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu biasanya juga diperlukan sarana tertentu juga. Untuk dapat berpikir ilniah dengan baik diperlukan sarana berupa : a) Bahasa Ilmiah b) Logika dan Matematika, c) Logika dan Statistika.
Kemampuan berpikir ilmiah yang baik sangat didukung oleh penguasaan sarana berpikir dengan baik pula. Berpikir ilmiah menyandarkan diri pada proses metode ilmiah baik logika deduktif maupun logika induktif.
C.      HAKIKAT SARANA BERPIKIR ILMIAH
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Pada langkah tertentu biasanya diperlukan sarana yang tertentu pula. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dan untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain.

D.      FUNGSI SARANA BERPIKIR ILMIAH
Sarana ilmiah mempunyai fungsi yang khas, pada dasarnya ada tiga :
a.        Bahasa Ilmiah
Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran  seluruh proses berpikir ilmiah, syarat-syarat :
1.        Bebas dari unsur emotif
2.        Reproduktif
3.        Obyektif
4.        Eksplisit
Bahasa pada hakikatnya mempunyai dua fungsi utama yakni, pertama, sebagai sarana komunikasi antar manusia. Kedua, sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia.
Perkembangan kebudayaan Indonesia ke arah peradaban modern sejalan dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekologi menuntut adanya perkembangan cara berpikir yang ditandai oleh kecermatan, ketepatan, dan kesanggupan menyatakan isi pikiran eksplisit.
b.        Matematika dan Logika
Mempunyai peranan penting dalam berpikir deduktif sehinga mudah diikuti dan dilacak kembali kebenarannya. Matematika adalah pengetahuan sebagai sarana berpikir deduktif sifat :
1.        Jelas, spesifik, dan informatif
2.        Tidak mudah menimbulkan konotasi emosional
3.        Kuantitatif
Menurut jujun, matematika adalah bahasa yang melambnagkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang matematika bersifat artifisial. Matematika merupakan alat yang memungkinkan ditemukannya serta dikomunikasikannya kebenaran ilmiah lewat berbagai disiplin keilmuan.
c.         Statistika
Mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif untuk mencari konsep-konsep yang berlaku umum, sifatnya :
1.        Dapat digunakan untuk mengiju tingkat ketelitian
2.        Untuk menentukan hubungan kausalitas antar faktor terkait.
Statistika sangat berperan dalam perkembangan ilmu penetahuan tertutama dalam penelitian.  Bicara statistik dan pembangunan sangat relevan. Melalui angka statistik kita bisa lihat keberhasilan pembangunan.
Sebagaimana diketahui peranan statistik sangat banyak dalam penelitian, mulai dari tahap pegambilan sampel sampai dengan tahapan pengujian hipotesis. Dengan demikian dapat dikatakan statistik merupakan pengetahuan untuk melakukan penarikan kesimpulan induktif secara lebih seksama.



BAB VIII
METODE SAINTIFIK

A.      DUNIA ILMU PENGETAHUAN
Pengetahuan pertama misalnya, tidak lain pengetahuan tersebut dikemukakan oleh kalangan awam yang menyimpulkan segala sesuatunya dengan cepat. Penyimpulan ini tentu saja bukan berasal dari kalangan akademisi atau ilmuwan yang mendasarkan pernyataan-pernyataan mereka dengan dasar-dasar yang logis dan ilmiah.
Secara garis besar, commen sense dan science dapat dibedakan menjadi lima, yakni:
1.        Penggunaan teori dan konsep-konsep tertentu
Cara yang dilakukan Commen sense hingga pengetahuan itu muncul, tentu tidak mementingkan keberadaan teori atau konsep-konsep tertentu. Dalam pengetahuan, commen sense berangkat dari hal-hal yang umumnya terjadi, kemudian dibuat menjadi suatu simpulan tertentu. Sementara science, dalam merumuskan suatu pengetahuan atau pernyataan, senantiasa berdasarkan kepada suatu teori atau konsep tertentu.
2.        Pengujian terhadap hipotesis
Pada tahap ini commen sense hanya melihat gejala yang umumnya terjadi kemudian langsung melakukan penyimpulan tanpa memperhatikan dugaan tersebut akurat atau tidak. Sementara science, sebelum suatu dugaan dikukuhkan menjadi suatu pengetahuan baru, dugaan tersebut haruslah diuji terlebih dahulu.
3.        Ada tidaknya kontrol
Yang dimaksud dengan kontrol adalah peniadaan atau penjagaan variabel lain yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian. Perhatian terhadap kontrol ini hanya dilakukan oleh science dalam memperoleh pengetahuan, sementara pada commen sense, pengontrolan variabel tidak dilakukan.
4.        Pengujian secara sistematis
Dalam tahap ini science melakukan berbagai pengujian dan penyusunan pengetahuan secara sistematis dan prosedural. Lain halnya dengan commen sense yang tanpa melakukan pengujian terlebih dahulu, secara langsung membuat kesimpulan sebagai suatu pengetahuan.
5.        Mengamati hal-hal yang teramati
Sciense senantiasa merumuskan pengetahuan pada hal-hal yang teramati, sementara pada commen sense, tidak jarang merumuskan pengetahuan pada hal-hal yang bersifat abstrak dan sulit diidentifikasi.

B.       PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN (SCIENCE)
Pada perkembangannya, awalnya manusia memahami sesuatu berdasarkan hal-hal mistis/magis yang dipercayainya. Hal-hal ini bersifat amat abstrak dan terkesan tidak ilmiah. Kemudian, manusia mulai melakukan penalaran dan dugaan-dugaan sebagai cara memahami sesuatu. Namun dugaan-dugaan ini tidak berdasarkan fakta-fakta yang menunjang dugaan tersebut. Dugaan-dugaan yang hanya berdasarkan nalar manusia semata ini, dapat kita sebut sebagai knowledge. Dugaan yang berdasarkan fakta ini disebut sebagai hipotesis dan upaya pencarian pengetahuan melalui dugaan yang faktual kita sebut sebagai science.

Metode memperoleh pengetahuan
Dalam upaya memperoleh pengetahuan dan memahami sesuatu, umumnya manusia melakukan satu atau lebih metode untuk memperoleh pengetahuan.
Ada empat metode ini yang biasa disebut sebagai metode pengetahuan atau methods of knowing, yaitu:
1.        Tenacity, yang dimaksud dengan metode tenacity adalah cara memperoleh pengetahuan yang dilakukan dengan sangat meyakini sesuatu, meski bisa jadi apa yang diyakininya belum tentu benar.
2.        Authority yaitu metode memperoleh pengetahuan dengan mempercayakan pada pihak yang dianggap kompeten.
3.        Apriori, metode memperoleh pengetahuan dengan mempercayakan pada pihak yang dianggap kompeten.
4.        Science, cara memperoleh pengetahuan dengan melakukan serangkaian cara-cara ilmiah, seperti mengajukan dugaan, pengujian dugaan, pengontrolan variabel, hinya penyimpulan.

C.      PENGAMATAN DAN OBJEKTIVITAS
Sikap berhati-hati sangat diperlukan di dalam menyatakan suatu klaim ilmu pengetahuan. Disini, saya akan mengutip pernyataan Neil Turok pada 1998 di dalam sebuah artikel di surat kabar Daily Telegraph, ketika ia sedang melakukan penelitian tentang asal-usul alam semesta bersama Stephen Hawking.
“Pertama-tama, suatu penemuan (tentang asal-usul alam semesta) adalah sistematis secara esensial, dan penemuan tersebut diformulasikan dengan bahasa teori relativitas umum yang ditemukan oleh Albert Einstein untuk menggambarkan gravitasi, sesuatu kegiatan yang membentuk struktur alam semesta. Sangatlah sulit untuk menggambarkan hal semacam itu dengan bahasa sehari-hari tanpa mengalami kesalahan di beberapa aspek. Asal-usul alam semesta kita jelas bukanlah kejadian sehari-hari.
Hal penting kedua yang ingin saya sampaikan adalah bahwa teori tentang asal-usul alam semesta sebelum terjadinya Big Bang belum didukung oleh bukti-bukti eksperimental. Kita sering membicarakannya seolah-olah hal tersebut nyata karena kita menganggapnya dengan sangat serius, tetapi kita tidak mempunyai wawasan langsung pada kebenaran. Yang kita lakukan adalah merumuskan hipotesis yang memenuhi standar keketatan fisik teoritis. Sampai teori kami didukung oleh eksperimen yang detil dan pengamatan maka teori tersebut tetap spekulatif.”
Ada dua hal penting yang dapat disimpulkan dari kutipan diatas. Tidaklah selalu mudah bagi seorang ilmuwan untuk mendeskripsikan penelitiannya dalam bahasa. Beberapa hal, karena tingkat kerumitannya, hanyalah masuk akal jika dikatakan dalam bentuk formulasi matematis. Ada waktunya, ketika seorang ilmuwan mengklaim bahwa mereka sudah mengetahui sesuatu sebelum mereka menggambarkannya dalam term-term ilmiah.

D.      PENGALAMAN PENGETAHUAN
John Locke (1632-1704), seorang filsuf empiris dari Inggris berpendapat bahwa semua yang kita ketahui didasarkan dari pengalaman. Menurutnya, ketika kita melihat suatu obyek, kita menangkap beberapa kualitas dari obyek tersebut. Ia kemudian menggolongkan kualitas tersebut dalam dua kategori. Yang pertama adalah kualitas primer, yakni kualitas yang dimiliki obyek itu sendiri, termasuk ukurannya, beratnya, dan massanya. Bagi Locke, kualitas primer ini akan tetap siapapun yang mengukurnya. Yang kedua adalah kualitas sekunder, yakni kualitas dari suatu obyek yang sangat tergantung pada cara peneliti melihat obyek yang sangat tergantung pada cara peneliti melihat obyek tersebut sehingga dapat terus berubah sesuai dengan kondisi.
Problematika Induksi
Penalaran deduktif adalah suatu prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketaui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Sedangkan penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum.



BAB IX
HUBUNGAN ANTARA BAHASA, BUDAYA, DAN ILMU

Istilah bahasa dalam bahasa indonesia, sama dengan language, dalam bahasa inggris, taal dalam bahasa belanda, sprache dalam bahasa jerman, lughatum dalam bahasa arab, dan bahasa dalam bahasa sansekerta. Istilah-istilah tersebut, masing-masing mempunyai aspek tersendiri, sesuai dengan pemakainya, untuk menyebutkan suatu unsur kebudayaan yang mempunyai aspek yang sangat luas, sehingga merupakan konseep yang tidak mudah didenifisikan.
Menurut Strurtevent berpendapat bahwa bahasa adalah suatu lambang sewenang-wenang, berupa bunyi yang digunakan oleh anggota-anggota suatu kelompok sosial untuk kerjasama dan saling berhubungan. Menurut Chomsky language is a set of sentence, each finite length and contructed out of a finite set of elements. Dan menurut Keraf, bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat, berupa lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi III (2002:88) disebutkan bahwa: bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota satu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri; bahasa merupakan percakapan (perkataan) yang baik.
Budaya adalah pikiran, akal budi, yang di dalamnya juga termasuk adat istiadat (KBBI,2005:169). Dengan demikian, budaya dapat diartikan sebagai suatu yang dihasilkan dari pikiran atau pemikiran. Maka tatkala ada ahli menyebutkan bahwa bahasa dan pikiran memiliki hubungan timbal-balik dapat dipahami bahwa pikiran disini dimaksudkan sebagai sebuat perwujudan kebuadayaan.
Kebudayan menurut Clifford Geertz sebagaimana disebutkan oleh Fedyani Syaifuddin dalam bukunya Antropologi Kontemporer yaitu sistem simbol yang terdiri dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diindentifikasi, dan bersifat publik. Senada dengan pendapat di atas Claud Levi-Strauss memandang kebudayaan sebagai sistem struktur dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diindentifikasi, dan bersifat publik.
Adapun menurut Canadian Commision for UNESCO seperti yang dikutip oleh Nur Syam mengatakan kebuadayaan adalah sebuah sistem nilai yang dinamik dari elemen-elemen pembelajaran yang berisi asumsi, kesepakatan, keyakinan dan aturan-aturan yang memperolehkkan anggota kelompok untuk berhubungan dengan yang lain serta mengadakan komunikasi dan membangun potensi kreatif mereka.
Definisi-definisi di atas dan pendapat para ahli lainnya dapat dikelompokkan menjadi 6 golongan menurut Abdul Chaer yaitu:
a.         Definisi deskriptif yakni definisi yang menerangkan pada unsur-unsur kebudayan.
b.        Definisi historis yakni definisi yang menekankan bahwa kebudayaan itu diwarisi secara kemasyaraktan
c.         Definisi normatif yakni definisi yang menekankan hakekat kebudayaan sebagai aturan hidup dan tingkah laku.
d.        Definisi psikologis yakni definisi yang menekankan pada kegunaan kebudayaan dalam menyesuiaikan diri kepada lingkungan, pemecahan persoalan dan belajar hidup.
e.         Definisi struktural definisi yang menekankan sifat kebudayaan sebagai suatu sistem yang berpola teratur.
f.         Definisi genetik yang menekankan pada terjadinya kebudayaan sebagi hasil karya manusia.

Setelah para ahli sepakat menyatakan bahwa bahasa adalah “alat” dalam bekomunikasi, sebagai alat tentunya ada yang menggunakan alat tersebut sehingga ia dapat dimanfaatkan (sebagai komunikasi). Dalam hal ini pengguna atau pemanfaat bahaa adalah manusia (terlepas kajian ada tidaknya bahasa juga digunakan oleh hewan) yang selanjutnya disebut penutur. Orang atau manusia yang mendengar atau menjadi lawan pentur disebut dengan “lawan tutur” atau “pendengar” atau “lawan bicara”. Dalam interaksi antara penutur dan lawan tutur inilah timbul beberapa perilaku berdasarkan pemikiran masing-masing sehingga lahirlah kebiasaan atau budaya. Budaya dan kebiasaan ini akan berbeda tergantung siapa dan di mana bahasa atau pengguna bahasa itu berada.

A.      SEJARAH PENGKAJIAN BAHASA
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan konvensional yang digunakan oleh manusia dalam berkomunikasi. Pengertian bahasa tersebut, sepertinya sudah menunjukkan ciri-ciri bahasa yang bersifat universal
Sebelum abad ke-19 pengkajian bahasa hanya dilakukan dalam studi filsafat, hal ini dilakukan karena bahasa sebelumnya diposisikan sebagai obejk filsafat. Sekalipun Zaman Renaisance berkembang di Eropa pada abad ke-16 dengan munculnya tokoh bernama Descrates (Saya selalu teringat, Cogitu Ergu Sum, aku berpikir maka itu aku ada), bahasa tetap jadikan sebagai objek filsafat, itu berarti ada kurunb waktu yang cukup lama antara pengakajian bahasa yang ada sejak Zaman Yunani sampai zaman Renaissance.
Hingga munculnya seorang tokoh bahasa bernama Ferdinan De Sausure, ia merupakan bapak inguistik yang mengkaji bahasa secara modern, ia memposisikan bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai objek penegtahuan. Jos Daniel Parera (Kajian Linguistik umum Historis Kompratif dan Tipologi Struktural, hal 4) menyebutkan, seandainya kita hendak mempelajari sesuatu, entah itu imu. Maka kita akan dihadapkan pada tiga pertanyaan besar, pertama ialah apakah objek itu, kedua bagaimanakah kita mempelajari objek itu, dan yang ketiga apa manfaat studi itu.
Linguistik adalah suatu studi ilmu yang mempelajari bahasa. Penyebutan linguistik sebagai suatu studi ilmu, bukan hanya soal penyebutan secara spontan, tetapi ada semacam pertanggungjawaban. Pertama sebuah studi harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, kedua sebuah studi ilmu harus mempunyai nilai ekonomis dan manfaat dan yang ketiga sebuah studi harus objektif atau tidak memihak.
Pengkajian bahasa tersebut, jika dikelompokan akan berbentuk tiga zaman yang mengkaji bahasa, pengelompokan zaman tersebut merupakan usaha manusia dalam mempelajari bahasa. Diantaranya :
a.        Tahap Device Origin
Tahap ini merupakan tahap “kuno” dalam mempelajari bahasa, disebut kuno karena orang-orang pada zaman tersebut, masih mengelompokan bahasa dalam suatu tahap kealamian bahasa. Pengkajian ini masih berkaitan dengan asal-usul bahasa.
Berikut adalah contoh tahap manusia menemukan kebenaran bahasa.
1)        Bangsa Mesir menganggap bahwa bahasa pertama adalah bahasa yang diturunkan oleh Tuhan pada Bangsanya. Percobaan ini dilakukan dengan memasukan seorang bayi ke dalm sebuah bangunan tertutup. Bayi tersebut diisolasi dari kehidupan sosial, dan yang terpenting jangan sampai bayi tersebut mendengar bunyi bahasa. Setelah beberapa waktu bayi tersebut tinggal, ia kemudian dibawa keluar dan kata pertama yang diucapkan bayi tersebut adalah “becos” atau roti.
2)        Bangsa jepang mengatakan bahwa bahasa pertama dibawa amaterazu sang dewa matahari.
3)        Bangsa cina mengatakan bahwa bahasa pertama dibawa oleh kura-kura.
4)        Orang jerman mengatakan bahwa Tuhan memakai bahasa Swedia.

b.        Tahap Organic
Pada tahap ini pengkajian bahasa sudah tidak melibatkan unsur ketuhanan dan dewa-dewa, sehingga bahasa pada tahap ini digolongkan dalam objek kajian filsafat.

c.         Tahap Modern
Kemunculan tahap modern ini, diawali dengan lahienya buku Course “The Linguistic General” oleh Ferdinan De Saussure dinamakan juga kajian linguistik karena sudah disebut studi ilmiah. Pengkajian bahasa oleh Saussure menghasilkan suatu teori bahasa dan ciri dari bahasa yang diposisikan sebagai objek pengkajian linguistik. Dari tiga tahap pengkajian tersebut, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1)        Tahap device origin = dari mana bahasa berasal?
2)        Tahap organic = bagaimana manusia bisa berbahasa?
3)        Tahap modern = apa dan bagaimana bahasa itu?

B.       ANTARA BAHASA DAN BUDAYA
Komunikasi selalu diiringi oleh interpretasi yang di dalamnya terkandung makna. Dari sudut pandang wacana, makna tidak pernah bersifat absolut; selalu ditentukan oleh berbagai konteks yang selalu mengacu kepada tanda-tanda yang terdapat dalam kehidupan manusia yang di dalamnya ada  budaya.
Dalam analisis semantik, Abdul Chaer mengatakan bahwa bahasa itu bersifat unik dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya, maka analisis suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain.


BAB X
KONSEP RASIO DAN RASA BAGI MANUSIA

Rasio dan rasa merupakan alat yang di ciptakan Tuhan dalam diri manusia untuk memperhatikan dan mengetahui alam semesta kebesaran Tuhan serta mengenal dirinya sendiri. Dengan kata lain rasio dan rasa merupakan alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.
Ilmu rasio sering disebut sebagai ilmu nomotetikal yang berlandaskan hukum sebab akibat (kausalitas). Dalam nomotetikal segala sesuatu yang berwujud pasti ada penyebabnya. Kuasilitas pada hakekatnya adalah ketaatan Tuhan tentang keperilakuan jagad raya dan keperilakuan manusia.
 Rasa dan istilah lain kalbu, memiliki kemampuan dalam hal kreativitas yang merupakan keagaiban. Kreativitas inilah yang merupakan pemula (intuisi) bagi segala bidang nalar, ilmu, etika dan estetika. Rasa memiliki kemampuan afektif kemampuan untuk merasakan apa yang diketahui oleh akal. Rasa tidak memiliki patokan, bersifat polar dan bekerja diantara cinta dan benci, indah dan buruk, keagungan dan kelemahan. Rasa yang murni akan merupakan media kontak antara manusia dengan tuhan.
Dalam memobolisir kemampuan rasio dan rasa tersebut, dapat dibedakan beberapa golongan sebagai berikut:

A.      IMPLIKASI KEKUATAN RASIO DAN RASA BAGI MANUSIA
Perbedaan yang mencolok antara Filsafat Islam dan Filsafat Barat terletak pada rasio dan rasa. Pada perjalanannya filsafat Islam mengedepankan Rasionalitas dan Perasaan dalam berfikir, bertindak, dan mengeluarkan keputusan yang menyebabkan terjadinya keseimbangan. Rasional sebagai hal yang dapat diterima oleh akal, Perasaan sebagai kontrol dari akal atau ada nilai-nilai teologis yang bersemayan.
Berdasarkan perspektif penulis, wajah dunia dalam konteks makro ditentukan oleh keputusan masyarakatnya dalam mengimplikasikan kekuatan rasa dan rasio. Bagian dunia yang masyarakatnya menjadikan rasio sebagai panglima memiliki wajah berbeda dengan bagian dunia yang masyarakatnya menjadikan rasa sebagai panglima. Semnetara itu pada bagian lain terdapt tampilan yang merupakan perpaduan antara keduanya. Tentang ketiga golongan tersebut, masing-masing dijelaskan di bawaah ini.

1.        Rasio dalam Kehidupan Manusia
Puncak perkembangan IPTEK terjadi mulai awal abad 20 yang ditandai dengan munculnya Teori Relativitas Einstein (1905). Teori ini menyatakan bahwa empat komponen mekanistis yakni zat, gerak, ruang dan waktu (yang diasumsikan bersifat absolut oleh Newton) merupakan sesuatu yang bersifat relatif.
Rasio seolah-olah menjadi tumpuan dan harahap utama dalam pengembangan kehidupan manusia di dunia Barat maupun dikalangan masyarakat lain yang berkiblat ke dunia Barat. Tahta kejayaan rasio Barat mulai tergetar saat bom atom yang dianggap merupakan salah satu “produk gemilang” IPTEK, menelan korban ratusan ribu jiwa manusia di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.
2.        Rasa dalam Kehidupan Manusia
Selo Soemardjan dalam bukunya “The Social Change in Rural Indonesiai” menyatakan bahwa kultur masyarakat Timur umumnya bersifat sartgat mengagungkan harmoni yang tidak lain adalah bersumber dari rasa menghargai dan rasa cinta. Keadaan ini menyebabkan menculnya suatu masyarakat yang sangat menjunjung tinggi rasa kekeluargaan, kegotongroyongan, kebersamaan, nilai-nilai adat serta nilai-nilai spiritual. Ciri semacam ini banyak dijumpai pada sistem masyarakat pedesaan di negara-negara berkembang, baik di Asia maupun Afrika.
Masyarakat yang menjunjung tinggi rasa cinta dan harmoni umumnya dapat bertahan dalam kondisi tenteram, jauh dari konflik, serta memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alat dan Penciptanya. Namun demikian, dalam perkembangan selanjutnya terlihat bahwa masyarakat yang mengandalkan rasa cenderung selalu tertinggal dibanding dengan masyarakat yang mengandalkan rasio.



3.        Keseimbangan Rasio dan Rasa dalam Kehidupan Manusia
Rasio dan rasa tidak dapat berjalan dengan sendiri-sendiri dalam penyelesaian masalah kehidupan manusia atau dalam pencapaian keberhasilan atau kesuksesan hidup. Bila masing-masing berjalan sendiri maka kegagalan pasti terjadi. Keseimbangan rasio dan rasa akan memberikan arah yang benar dan pencapaian hasil optimal, apabila rasa dituntun oleh Wahyu Tuhan melalui ajaran agama. Kita perlu terus belajar dari pengalaman perjalanan rasio dan rasa di masa lalu, dan terus belajar menumbuhkan sinergi antara rasio dan rasa, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa, agar dapat selamat menapaki kehidupan di era global.



BAB III
PEMBAHASAN BUKU/KRITISI BUKU

3.1 STRUKTUR BUKU
Buku karangan Muhammad Surip berjudul Filsafat Ilmu Pengembang Wawasan Keilmuan dalam Berpikir Kristis ini menggunakan cover yang  menarik dan gambaran ilustrasi yang mereflesikan judul maupun isi buku. Halaman sampul ditulis sangat sederhana, tidak banyak tulisan di sampul depan dan di bagian sampul belakang hanya memuat judul buku dan sinopsis buku dan identitas penerbit buku. Di halaman pertama hanya memuat judul buku yang sebenarnya tidak terlalu perlu. Halaman kedua memuat judul buku, pengarang buku dan penerbit buku. Dan di halaman selanjutnya memuat identitas buku secara lengkap yang meliputi judul, penulis, hak cipta, penerbit, dan distributor.
Buku ini memuat kata pengantar kemudian di ikuti daftar isi yang mudah dibaca. Sebelum memasuki pembahasan bab 1 di berikan halaman kosong sebagai penanda pemisah daftar isi dengan pembahasan buku. Buku menggunakan huruf yang besar pada tiap bab. Buku ini terdiri dari 9 bab yang tiap babnya memliki beberapa bab. Daftar pustaka buku ini memiliki banyak refrensi yang menggunakan jenis penulisan apa style.
Buku karangan Harold Titus dkk yg berjudul Persoalan-Persoalan Filsafat, memuat cover yang menarik dengan sedikit kombinasi warna dan diberikan gambar ilustrasi untuk mempercantik buku, sampul belakang tidak berikan sinopsis tentang buku tersebut. Halaman pertama hanya memuat judul yang tidak terlalu diperlukan. Di halaman selanjutnya memuat pengarang, judul buku, penerjemah buku, dan penerbit buku. Kemudian di sajikan identitas buku secara rinci tetapi tidak memuat undang-undang tentang hak cipta. Terdapat filosof-filosof yang termuat dalam buku dan tahun eksis para filsuf tersebut. Dalam daftar isi tidak diberikan nomor halaman pada setiap sub bab, sehingga sulit untuk mencari materi buku secara cepat. Buku ini juga memuat sumber-sumber foto. Buku persoalan-persoalan filsafat terdiri dari 20 bab yang dibagi ke dalam 5 bagian besar. Terdapat pendahuluan, tidak terdapat pertanyaan dalam buku. Buku ini terdiri dari 256 halaman, dan dibagian akhir terdapat indeks buku. Dalam buku ini terdapat daftar kata-kata yang memuat istilah asing sekaligus memuat daftar pustaka. Buku Titus menggunakan ukuran huruf yang kecil dan padat sehingga sulit untuk dibaca.



4.2  KATA PENGANTAR DAN PENDAHULUAN BUKU
Buku filsafat ilmu karangan Muhammad surip memuat kata pengantar tapi tidak memuat pendahuluan pada buku ini. Kata pengantar buku karangan Surip menjelaskan sedikti pesan tekait filsafat . Sementara buku persoalan filsafat karangan Titus memuat kata pengantar dan pendahuluan. Kata pengantar buku ini sedikit banyaknya memuat pesan sebagai arahan bagi pembaca untuk menguasai isi bacaan. Buku ini juga mengandung kata pengantar yang baik karena menjelaskan perbaikan perbaikan atas kesalahan dan atau kekurangan buku pada edisi sebelumnya. 

4.3  ISI KONSEP DAN CONTOH-CONTOH
Buku filsafat ilmu karangan Muhammad Surip memuat banyak filosof-filosof namun tidak menjelaskan dengan gambar sebagaimana buku persoalan-persoalan filsafat karangan Titus memuat begitu banyak gambar tokoh filsafat.
Secara isi kedua buku memuat konsep dasar filsafat. Buku Muhammad Surip pada bab 2 membahas tentang filsafat dan sains demikian pula buku Titus membahas sains dan filsafat pada bab 12 dengan pembahasan yang lebih luas. Buku Muhammad Surip membahas filsafat pendidikan sementara buku Titus tidak demikian.
Buku Muhammad Surip membahas manusia pada bab yang berlaianan atau terpisah sementara buku Titus manusia secara keseluruhan pada satu bagian. Aliran filsafat pada buku Surip tidak disatukan dalam satu pembahasan melainkan terpisah-pisah. Tidak demikian pada buku Titus yang mengklasifikasikan pandangan-pandangan dalam filsafat dalam satu bagian besar. Namun demikian pembahasan tentang aliran filsafat lebih lengkap dan bervariasi.

Glosarium
Dilihat dari segi struktur, terdapat beberapa perbedaan dari kedua buku yang dikritisi atau dibandingkan salah satunya pada bagian Indeks atau Glosarium. Indeks memuat istilah istilah penting yang terdapat pada buku yang tersusun secara alfabetis. Indeks sebaiknya dibuat untuk buku yang memuat banyak  istilah serapan, istilah asing, tokoh penting ataupun kata kata kunci yang penting. Buku karangan Surip tidak memuat daftar indeks. Sementara buku karangan Titus dkk memuat Glosarium atau daftar indeks yang ditempatkan di bagian belakang buku.

Pertanyaan
Dalam sebuah buku yang bersifat pengetahuan ada kecenderungan memberikan soal-soal sebagai benntuk latihan bagi pembaca. Namun hal tersebut bukanlah sebuah keharusan. Buku Surip maupun Titus tidak memuat pertanyaan baik tiap bab ataupun seluruh buku sebab kedua buku ini merupakan panduan bacaan atau modul untuk belajar tetapi tidak diperuntukkan bagi kalangan pelajar, namun lebih kepada pembaca secara umum.

Setelah melakukan perbandingan kedua buku maka dapat disimpulkan bahwa
a.       Buku karangan Muhammad Surip lebih menarik apabila dilihat dari segi desain sampul dan lebih sederhana kalimat maupun penulisannya.
b.      Buku karangan Muhammad Surip memberikan daftar isi yang jauh lebih mudah dibaca dibandingkan buku pembanding.
c.       Buku karangan Muhammad Surip lebih baik dalam hal cara penulisan karena menggunakan ukuran font yang besar dan jenis huruf yang lebih variatif.
d.      Buku karangan Muhammad Surip menggunakan lebih banyak referensi dalam penyusunannya sehingga isi bacaan juga lebih reliabel
e.       Buku karangan Muhammad Surip lebih tipis dan ringan jika dibandingkan dengan buku pembanding
f.       Buku karangan Titus dkk lebih unggul karena memuat daftar filsuf dan tokoh filsafat yang mana mempermudah pembaca mengatahui tokoh filsafat.
g.      Buku karangan Titus dkk memuat sumber foto yang dapat menegaskan posisi  originalitas penulisan dan izin pemakain gambar.
h.      Buku karangan Titus dkk membagi bacaan menjadi bagian bagian besar yang disatukan menurut kesamaan topik bahasan yang mempermudah pembaca mempelajari satu aspek pembelajaran secara runtut.
i.        Buku karangan Titus dkk memuat banyak catatan kaki dan lebih unggul dalam penyajian tokoh filsafat.
j.        Buku Titus cenderung sulit dibaca karena terdapat selingan berupa biografi tokoh diantara isi bacaan.
k.      Buku Titus memuat glosarium dan daftar kata-kata atau kamus tentang istilah istilah  yang memiliki arti khusus.



BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
Buku karangan Muhammad Surip dari segi konten dan tampilan lebih segar dan lebih baru karena tahun terbit yang lebih baru serta cara penulisan yang lebih menarik karena kombinasi berbagai jenis huruf hanya saja buku ini minus Indeks. Sedangkan baku karangan Titus lebih uggul karena pengklasifikasian materi bacaan menjadi bagian-bagian besar dan pemberian indeks, kamus, serta catatan kaki.

4.2  Saran
Kedua buku sama-sama memiliki kelemahan, baik dari segi tampilan maupun struktur peulisan, untuk itu disarankan untuk melakukan perbaikan dalam penccetakan edisi selanjutnya. Buku yang ada memiliki segmen pembaca yang berbeda, untuk itu kelebihan yang ada pada buku harus ditingkatkan dan sebaliknya kelemahan harus diminimalisir sehingga dapat merangkul pembaca secara multi segmen.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar