BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Membaca adalah kegiatan yang sangat mendatangkan banyak manfaat. Mereka
yang gemar membaca buku akan mendapatkan banyak informasi sehingga memperluas wawasan dan pengetahuan
mereka serta mempunyai kecenderungan bijak untuk menghadapi permasalahan.
Selain membaca, pembaca juga seharusnya memiliki kemampuan atau keterampilan
dalam mengulas buku baik secara sederhana hingga secara utuh dan kompleks.
Resensi
buku berasal dari bahasa Latin yaitu revidere yang artinya pertimbangan atau
pembicaraan tentang buku. Dalam KBBI disebutkan bahwa resensi merupakan ulasan
buku. Jadi resensi adalah uraian singkat mengenai isi suatu buku, majalah,
novel, drama atau film. Adapun tindakan meresensi adalah memberikan suatu
penilaian, membahas, mengkritik atau mengungkapkan kembali isi di dalamnya.
Menulis resensi berarti menyampaikan informasi mengenai ketepatan buku bagi
pembaca. Ulasan dikaitkan dengan selera pembaca dalam upaya memenuhi kebutuhan
akan bacaan yang dapat dijadikan acuan bagi kepentingannya.
Tujuan meresensi adalah untuk memberikan suatu pemahaman dan informasi
secara komprehensif kepada masyarakat atau pembaca tentang isi buku yang
diresensi dan mengajak pembaca untuk mendiskusikan lebih jauh tentang masalah
yang ada dalam buku.
Resensi memberikan gambaran
umum bagi pembaca terkait dengan buku dan memuat deskripsi buku baik judul
hingga sistematika penyusunan buku. Resensi dapat juga berupa sinopsis atau
cuplikan dari keseluruhan buku yang dapat mempermudah pembaca dalam mengetahui
dan memahami buku secara utuh.
Dalam sebuah buku sudah pasti
memiliki kelebihan dan kekurangan didalamnya. Untuk itu diperlukan resensi
sebagai perbandingan buku untuk melihat kelebihan dan kekurangan tersebut serta
memperbaikinya. Buku yang dibandingkan
adalah buku berjudul Filsafat Ilmu
Pengembang Wawasan Keilmuan Dalam Berpikir Kritis karangan Muhammad Surip,
S.Pd. M.Si dan Dra. Mursini, M.Pd yang diterbitkan pada tahun 2010 dan buku
berjudul Persoalan-Persoalan Filsafat karangan
Harold H. Titus dari Denison University, Marilyn S.Smith dari University Of
Hartford, dan Richard T. Nolan dari Mattatuck Community College yang
diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Prof.Dr.H.M. Rasjidi dan diterbitkan
pada tahun 1984.
Kita bisa melihat bahwa kedua
buku tersebut diterbitkan pada tahun yang berbeda. Apakah dengan perbedaan
tahun terbit tersebut menjadi pengaruh perbandingan signifikan dalam kualitas
penulisan maupun kualitas isi. Penulisan
perbandingan tidak sebatas pada isi buku saja, tetapi sistematika penulisan,
gaya bahasa, bahkan ilustrasi hal-hal intrinsik buku.
2.
Rumusan Masalah
1.
Berapa pertanyaan tentang bagaimana struktur penyusunan
buku tersebut?
2.
Bagaimana penyusunan kata pengantar dan pendahuluan buku
tersebut? Apakah kata pengantar ada pesan yang mengantar pembaca untuk
menguasai isi buku?
3.
Apakah dalam pendahuluan memberikan latar belakang dan
gambaran konsep tentang kompetensi/tujuan yang harus dikuasai pembaca?
4.
Bagaimana isi konsep dan contoh-contoh dimuat dalam
menjelaskan pandangan atau teori yang dimuat pada buku tersebut?
5.
Apakah ada pertanyaan setelah siap bab?
6.
Apakah ada indeksnya/glosarium pada buku tersebut?
7.
Apakah ada informasi tentang pengarang?
3.
Tujuan
1.
Untuk melihat bagaimana struktur penyusunan buku.
2.
Untuk melihat bagaimana penyusunan kata pengantar dan
pendahuluan buku dan pesan pada kata pengantar.
3.
Untuk melihat apakah pendahuluan mengandung latar
belakang dan gambaran konsep.
4.
Untuk mengetahui isi konsep dan contoh-contoh serta
pandangaan.
5.
Untuk melihat adakah pertanyaan dalam buku.
6.
Untuk melihat apakah ada indeks dalam buku.
7.
Untuk melihat informasi pengarang buku.
4.
Manfaat
Dengan melakukan resensi pada
buku maka dapat dilihat kelebihan maupun kelemahan buku, juga melakukan ulasan
terhadap buku agar pembaca dapat mengetahui isi buku tanpa harus membaca buku
secara keseluruhan. Dengan menggunakan resensi juga dapat diketahui bagaimana
cara mengatasi atau memperbaiki kelemahan yang terdapat dalam buku sebaliknya,
meningkatkan kualitas buku melalui perbaikan-perbaikan. Dengan melakukan
resensi, selain dapat diketahui kelebihan dan kelemahan namun juga dapat
dilihat buku secara deskriptif dan informatif.kumm
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
RINGKASAN BUKU DIKRITISI
BAB I
KONSEP DASAR
ILMU FILSAFAT
A.
FILSAFAT DAN HIKMAH
Secara Epistimologi, filsafat berasal
dari bahasa Yunani yaitu Philosophia,
yang terdiri dari kata Philos yang
berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Secara harafiah, filsafat diartikan
sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan (kecenderungan untuk menyenangi
kebijaksanaan).
Berdasarkan definisi ini kajian filsafat itu sendiri adalah realitas hidup
manusia yang dijelaskan secara ilmiah guna memperoleh pemaknaan menuju “hakikat
kebenaran”.
Pengertian pokok tentang filsafat
menurut kalangan filosof adalah:
a.
Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta
lengkap tentang seluruh realitas.
b.
Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata.
c.
Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan:sumbernya,
hakikatnya, keabsahannya dan nilainya.
d.
Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan
pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.
e.
Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu anda melihat apa yang anda
katakan dan untuk mengatakan apa yang anda lihat.
Immanuel Kant
(1724-1804 M), mengatakan bahwa: Filsafat ilmu dasar segala pengetahuan, yang
mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:
a.
Apakah yang
dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)
b.
Apakah yang boleh kita kerjakan? (dijawab oleh etika/norma)
c.
Sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh agama)
d.
Apakah yang dinamakan manusia? (dijawab oleh antropolog)
Pandang Sidi
Gazalba filsafat adalah berpikir secara mendalam, sistematik, radikal dan
universal dalam rangka mencari kebenaran, inti atau hakikat mengenai segala
sesuatu yang ada. Pendapat Sidi Gazalba ini memperlihatkan adanya tiga ciri
pokok dalam filsafat, yaitu:
a.
Adanya unsur berpikir yang dalam hal ini menggunakan akal.
b.
Adanya unsur tujuan yang ingin dicapai melalui berpikir tersebut.
c.
Adanya unsur ciri yang terdapat dalam pikiran tersebut, yaitu mendalam.
B.
PENGERTIAN ILMU
Pengertian ilmu menurut KBBI adalah
pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut
metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala
tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Ciri-ciri utama ilmu menurut terminology
antara lain adalah:
a.
Ilmu adalah sebagian pengetahuan bersifat koheren, empiris, sistematis,
dapat diukur dan dibuktikan.
b.
Berbeda dengan pengetahuan, ilmu tidak pernah mengartikan kepingan
pengetahuan satu utusan tersendiri, sebaliknya ilmu menandakan seluruh kesatuan
ide yang mengacu ke objek (alam objek) yang sama dan saling berkaitan secara
logis.
c.
Ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing-masing
penalaran perorangan, sebab ilmu dapat memuat di dalamnya dirinya sendiri
hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang belum sepenuhnya dimantapkan.
d.
Di pihak lain,yang seringkali berkaitan dengan konsep ilmu (pengetahuan
ilmiah) adalah ide bahwa metode-metode yang berhasil dan hasil-hasil yang terbukti pada dasarnya harus terbuka
pada semua pencari ilmu.
e.
Ciri hakiki lainnya dari ilmu adalah metodologi, sebab kaitan logis yang
dicari ilmu tidak dicapai dengan penggabungan tidak teratur dan tidak terarah
dari pengamatan dan ide yang terpisah-pisah.
f.
Kesatuan setiap ilmu bersumber di dalam kesatuan objeknya.
Ilmu
adalah sebagian pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu yaitu
sistematik,rasional, empiris, universal, objektif, dapat diukur, terbuka dan
kumulatif (bersusun timbun).
C.
PERSAMAAN DAN PERBEDAAN
FILSAFAT DAN ILMU
Persamaan filsafat dan ilmu adalah sebagai berikut:
a.
Keduanya
mencari ilmu yang sebaik-baiknya menyelidiki objek selengkap-lengkapnya sampai
ke akar-akarnya.
b.
Keduanya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada
antara kejadian-kejadian yang kita alami dan mencoba menunjukkan
sebab-sebabnya.
c.
Keduanya hendak memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan yang
bergandengan.
d.
Keduanya mempunyai metode dan sistem.
e.
Keduanya
hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari hasrat
manusia (objektivitas), akan pengetahuna yang lebih mendasar.
Perbedaan
filsafat dan ilmu adalah sebagai berikut:
a.
Objek material (lapangan) filsafat itu bersifat universal (umum), yaitu
segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan objek material (pengetahuan ilmiah)
itu bersifat khusus dan empiris.
b.
Objek formal(sudut pandang) filsafat itu bersifat nonfragmentaris,
karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas,
mendalam dan mendasar.
c.
Filsafat dilaksanakan dalam suatu suasana pengetahuan yang menonjolkan
daya spekulasi, kritis dan pengawasan sednagkan, ilmu haruslah diadakan riset
lewat pendekatan trial and error.
d.
Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan
pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskurtif, yaitu
menguraikan secara logis, yang dimulai dari tidak tahu menjadi tahu.
e.
Filsafat memberikan penjelasan yang terakhir, yang mutlak dan mendalam
samapai mendasar (primary cause)
sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih
dekat, yang sekunder(secondary cause).
D.
PENGERTIAN FILSAFAT ILMU
Filsafat ilmu pengetahuan itu mampu
memberikan kejelasan mutlak dan menentukan kaedah-kaedah definitive bagi metode
ilmiah adalah pada umumnya dan bagi metode-metode khusus. Berfilsafat terhadap
ilmu ialah pemikiran lebih lanjut tentang ilmi itu sendiri. Suatu proses
berpikir secara ilmiah yang memiliki kekhususan mengenai ilmu pengetahuan.
E.
TUJUAN FILSAFAT ILMU
Penjelasan tentang tujuan filsafat
ilmu oleh Bakhtiar (2004:20) dijelaskan sebagai berikut:
a.
Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat
memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
b.
Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu di berbagai
bidang, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara
histosris.
c.
Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di
perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan
nonilmiah.
d.
Mendorong para calon ilmuwan dan
ilmuwan konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya.
e.
Mempertegas bahwa persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama
tidak ada pertentangan.
BAB II
PERKEMBANGAN FILSAFAT DAN SAINS
A.
SAINS DAN FILSAFAT
Tuhan, itulah sumber sejati, darimana
segala sesuatu itu berasal. Menurut Muhammad Iqbal, alam tak lain adalah medan
kreativitas Tuhan. Oleh karena itu barang siapa yang meneliti dan mengadakan
kajian terhadap alam semesta, maka sesungguhnya dia sedang melakukan penelitian
terhadap cara kerja Tuhan bekerja dalam penciptaan atau dalam bahasa yang lebih
popular, maka sesungguhnya orang (sains) tersebut sedang melakukan penelitian
tentang sunnatullah.
Selain sebagai basis metafisik ilmu
(sains), filsafat juga bisa dijadikan sebagai basis moral bagi ilmu dengan
alasan bahwa tujuan menuntut ilmu dari sudut aksiologis adalah untuk memperoleh
kebahagiaan bagi siapa saja yang menuntutnya.
B.
PERKEMBANGAN ILMU MASA
MODERN DAN KONTEMPORER
Pengetahuan mempunyai peran penting
dalam membentuk peradaban dan kebudayaan manusia,dan dengan ini pula tampaknya,
muncul semacam kecenderungan yang terjalin pada jantung setiap ilmu pengetahuan
dan juga para ilmuwan untuk lebih berinovasi untuk penemuan dan perumusan
berikutnya.
Dengan demikian, ilmu pengetahuan
harus bernilai praktis bagi manusia, di antaranya dalam bentuk teknologi.
Akibatnya, menaklukkan alam dan mengeksploitasinya habis-habisan tidaklah dapat
dianggap sebagai kesalahan. Tentang tujuan ilmu pengetahuan dalam ilmu
pengetahuan modern ialah bahwa ilmu pengetahuan bertujuan menundukkan alam,
alam dipandangnya sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan dan dinikmati semaksimal
mungkin.
Descartes mewariskan suatu metode berpikir
yang menjadi landasan berpikir dalam ilmu pengetahuan modern. Langkah-langkah
tersebut adalah:
1.
Tidak menerima apa pun sebagai hal yang benar, kecuali kalu diyakini
sendiri bahwa itu memang benar.
2.
Memilah-milah masalah menjadi bagian-bagian terkecil untuk mempermudah
penyelesaian.
3.
Berpikir runtut dengan mulai dari hal yang sederhana sedikit untuk
mencapai ke hal yang paling rumit.
BAB III
MANUSIA DAN
PENGETAHUAN
Pengetahuan
adalah suatu gambaran objek-objek eksternal yang hadir dalam pikiran manusia.
Pengetahuan juga sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran
seseorang karena adanya reaksi, persentuhan, dan hubungan dengan lingkungan dan
alam sekitarnya. Pengetahuan yang dimaksud pada tulisan ini adalah pengetahuan
yang dibicarakan dalam ranah filsafat, mengingat bahasan mengenai pengetahuan
manusia secara umum menjadi konsentrasi kajian pada tulisan ini. Oleh
karenanya, kajian yang dipaparkan pada tulisan ini secara umum akan
menggambarkan pengetahuan dalam pendekatan filsafat pengetahuan (epistemology)
sebagai bagian yang banyak dibicarakan pada kajian filsafat ilmu.
A.
PENGETAHUAN MANUSIA
Manusia ingin lebih tahu siapa dirinya
dan bagaimana dunia. Dua jenis pengetahuan ini menentukan evolusi, kemajuan dan
kabahagiaannya. Ilmu pengetahuan adalah sarana untuk mengenali dunia, sedangkan
agama adlah produk dari kenal, tahu atau sadar diri. Jika manusia mengenal
dirinya melalui ilmu pengetahuan, maka kenal diri seperti ini menjemukan dan
tidak hidup.
Namun kalau manusia mengenal dirinya
melalui agama, maka kenal diri seperti ini menbuatnya mengetahui realitasnya,
menghilangkan apatinya, membakar jiwanya dan membuatnya memiliki rasa kasih
sayang dan simpati. Bukan saja itu, ilmu pengetahuan dan filsafat terkadang
justru membuat manusia tidak sensitive dan lupa akan dirinya. Mereka lupa kan
dirinya, sedangkan banyak orang tak berpendidikan sadar akan dirinya.
B.
CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN
Cara manusia memperoleh pengetahuan
antara lain: akal sehat (common sense), trial and error (metode mencoba-coba),
dan metode eksperimen sebagai paradigm
ilmiah, maka berdasarkan pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui
pula cara lain manusia memperoleh pengetahuan, yaitu: filsafat dan agama.
Filsafat tidak menawarkan jawaban yang
pasti dan jalan keluar yang aman, justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari
yang sama sekali tidak dipersoalkan. Sebaliknya, agama kerap dipersepsi sebagai
rumusan yang telah sipertanyakan lagi kebenarannya. Selain filsafat dan agama
sebagai cara lain memperoleh pengetahuan, beberapa tokoh filsafat juga
menyebutkan “intuisi” sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan.
Intuisi adlah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiab tanpa melalui proses
penalaran tertentu.
Perkembangan pengetahuan manusia dari
pengetahuan biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan sebagaimana gejala
tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat, yaitu: pertama, tidak dari
permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia ingin mengetahui sesuatu tentang
dirinya; kedua, lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna
menemukan jawaban yang memuaskan; ketiga, sasaran atau objek yang ingin
diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu merangsang
keingintahuan manusia; dan keempat, hasil dari gejala mengetahui adalah manusia
secara sadar tahu bahwa ia tahu.
C.
JENIS PENGETAHUAN MANUSIA
Pada umumnya pengetahuan dibagi menjadi beberapa jenis di
antaranya:
1.
Pengetahuan Langsung (Immediate)
Pengetahuan Immediate adalah pengetahuan langsung yang
hadir dalam jiwa melalui proses penafsiran dan pikiran.
2.
Pengetahuan Tak Langsung (Mediated)
Pengetahuan Mediated adalah hasil dari pengaruh
interpretasi dan proses berpikir serta pengalaman-pengalaman yang lalu.
3.
Pengetahuan Indrawi (Perceptual)
Pengetahuan indrawi adlah sesuatu yang dicapai dan diraih
melalui indra-indra lahiriah.
4.
Pengetahuan Konseptual (Conceptual)
Pikiran manusia secara langsung dan tidak langsung tidak
dapat membentuk suatu konsepsi-konsepsi tentang objek-objek dan perkara-perkara
eksternal tanpa berhubungan dengan alam eksternal.
5.
Pengetahuan Partikular (Particular)
Pengetahuan particular berkaitan dengan satu individu ,
objek-objek tertentu atau realitas-realitas khusus.
6.
Pengetahuan Universal (Universal)
Pengetahuan universal mencakup individu-individu yang
berbeda.
D.
HAKIKAT PENGETAHUAN MANUSIA
Definisi ilmu pengetahuan lebih
menyoroti kenyataan tertentu yang menjadi kompetensi bidang ilmu pengetahuan
masing-masing, sedangkan filsafat lebih merefleksikan kenyataan secara umum
yang belum dibicarakan di dalam ilmu pengetahuan. Walaupun demikian, ilmu
pengetahuan tetap berasal dari filsafat sebagai induk dari semua ilmu
pengetahuan yang berdasarkan kekaguman atau keheranan yang mendorong rasa ingin
tahu untuk menyelidikinya, kesangsian dan kesadaran akan keterbatasan.
Ciri-ciri hakiki pengetahuan manusia
adalah (J. Sudarminta):
a.
Kepastian mutlak tentang kebenaran segala pengetahuan kita memang tidak
mungkin, sebab manusia adalah makhluk contingent
dan fallible.
b.
Subjek berperan aktif dalam kegiatan mengetahui dan tidak hanya bersifat
pasif menerima serta melaporkan objek apa adanya.
c.
Pengetahuan manusia memang bersifat relasional dan kontekstual, tetapi
itu tidak berarti bahwa objektivitas dan universalitas pengetahuan menjadi
tidak mungkin.
BAB IV
FILSAFAT
PENDIDIKAN
A.
TEORI NILAI
Teori nilai merupakan kerangka ketiga
dalam tiga kerangka besar filsafat: teori pengalaman, teori hakikat dan teori
nilai. Teori nilai mencakup dua cabang filsafat yang cukup terkenal: Etika dan
Estetika. Nilai artinya harga. Sesuatu mempunyai nilai bagi seseorang karena ia
berharga bagi dirinya. Pada umumnya orang mengatakan bahwa nilai sesuatu
melekat pada benda dan bukan di luar benda.
Ilmu agama harus terbuka pada
konteksnya dan agamalah yang menjadi konteks itu. Agama mengarahkan ilmu
pengetahuan pada tujuan hakikinya, yakni memahami realitas alam, dan memahami
eksistensi Allah, agar manusia menjadi sadar akan hakikat penciptaan dirinya,
dan tidak mengarahkan ilmu pengetahuan “melulu” pada praxis, pada
kemudahan-kemudahan material dunaiwi.
B.
ETIKA
Etika merupakan penyelidikan filsafat
mengenai kewajiban-kewajiban manusia serta tingkah laku manusia dilihat dari
segi baik dan buruknya tingkah laku tersebut. etika keilmuan merupakan etika
normative yang merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggungjawabkan
secara rasional dan dapat diterapkan dalam ilmu pengetahuan.
Tujuan etika keilmuan adalah agar
seorang ilmuan dapat menerapkan prinsip-prinsip moral, yaitu yang baik dan
menghindarkan dari yang buruk ke dalam perilaku keilmuannya, sehingga ia dapat
menjadi ilmuan yang mempertanggungjawabkan perilaku ilmiahnya. Etika normative
menetapkan kaidah-kaidah yang mendasari pemberian penilaian terhadap
perbuatan-perbuatan apa yang seharusnya dikerjakan dan apa yang seharusnya
terjadi serta menetapkan apa yang bertentangan dengan yang seharusnya terjadi.
1.
Sifat Dasar Etika
Etika mempunyai sifat yang mendasar yaitu sifat
kritis. Etika mempersoalkan norma-norma
yang dianggap berlaku; menyelidiki dasar norma-norma itu; mempersoalkan hak
dari setiap lembaga untuk memberi perintah atau larangan yang harus
ditaati.Etika dibutuhkan sebagai pengantar pemikiran kritis yang dapat
membedakan antara apa yang sah dan apa yang tidak benar.
2.
Objek Etika
Objek penyelidikan etika adalah pernyataan-pernyataan
moral yang merupakan perwujudan dari pandangan-pandangan dan
persoalan-persoalan dalam bidang moral. Pada dasarnya hanya ada dua macam
pernyataan: pertama, pernyataan
tentang tindakan manusia. Kedua,
pernyataan tentang tindakan manusia itu sendiri atau tentang unsur-unsur
kepribadian manusia, seperti motif-motif, maksud dan watak.
3.
Metode Etika
Ada 4 macam pendekatan dalam menilai suatu pendapat
moral, yaitu:
a.
Pendekatan empiris deskriptif dapat menyelidiki.
b.
Pendekatan fenomenologis memperlihatkan bagaimana kiranya kesadaran
seseorang yang sependapat bahwa ia berkewajiban untuk pernikahannya.
c.
Pendekatan nornatif. Melalui pendekatan ini dipersoalkan apakah suatu
norma moral yang diterima umum atau dalam masyarakat tertentu memang tepat
ataukah sebetulnya tidak berlaku atau malah harus ditolak.
d.
Pendekatan metaetika. Pendekatan ini berupa analisis Bahasa Moral.
Metaetika berusaha untuk mencegah kekeliruan dan kekaburan dalam penyelidikan
fenomenologis dan normative dengan cara mempersoalkan arti tepat dari
istilah-istilah moral dan mengatur pernyataan-pernyataan moral menurut macamnya
serta mempersoalkan bagaiamana suatu pernyataan
moral dapat diberikan.
4.
Etika Normative
Dikemukakan ada beberapa teori, yaitu:
a.
Teori dentologis, menagtakan bahwa betul-salahnya sesuatu tindakan tidak
dapat ditentukan dari akibat-akibat tindakan itu, melainkan ada cara bertindak
yang begitu saja terlarang, atau begitu saja wajib.
b.
Teori teleologis, mengatakan bahwa betul-tidaknya tindakan justru
tergantung dari akibat-akibatnya.
c.
Teori egoism etis, menyoroti tentang akibat dari perbuatan bagi
kepentingan pribadi, bukan kepentingan orang banyak.
Untuk mendalami teori egoisme etis, mari kita
bicarakan bidang-bidang khusus bahasan teori tersebut.
a.
Hedonisme
Aliran ini berpendapat bahwa yang dinilai
baik itu ialah sesuatu yang dapat memberikan rasa nikmat bagi manusia.
b.
Eudemonisme
Mengajrakan bahwa segala tindakan
manusia adan tujuannya. Ada tujuang yang dicari demi suatu tujuan selanjutnya
da nada tujuan yang dicari demi dirinya sendiri.
5.
Etika Utilitarisme
Utilitarisme adalah teori menilai
betul-salahnya tindakan manusia ditinaju dari segi manfaat akubatnya. Sifat
utilitarisme adalah sifat universalis karena yang jadi penilaian norma-norma
bukanlah akibat-akibat baik bagi dirinya sendiri, melainkan juga baik bagi
seluruh manusia.
a.
Utilitarisme Tindakan
Mengajarkan bahwa manusia mesti
bertindak sedemikian rupa sehingga setiap tindakannya itu menghasilkan suatu
kelebihan akibat-akibat baik di dunia yang sebesar mungkin disbanding dengan
akibat-akibat buruk.
b.
Utilitarisme Peraturan
Mempunyai kaidah utama ajarannya
sebagai berikut,” bertindaklah selalu sesuai dengan kaidah-kaidah yang
penetapannya menghasilkan kelebihan-kelebihan akaibat-akibat baik di dunia yang
sebesar mungkin dibandingkan dengan akibat-akibat buruk”.
6.
Etika Teonom Murni
Etika ini mengajarkan bahwa tindakan
dikatakan benar bila sesuai dengan denga kehendak Allah dan dikatakan salah
apabila tidak sesuai, suatu tindakan wajib dikerjakan jika diperintahkan Allah.
7.
Teori Hukum Kodrat
Teori ini mengatakan bahwa baik buruk
ditentukan oleh Allah seakan-akan secara sewenang-wenang. Sesuatu dikatakan
benar jika seuai dengan tujuan manusia atau sesuai dengan kodrat manusia.
C.
ETIKA SEBAGAI BAGIAN DARI
FILSAFAT
Filsafat pada umumnya didefinisikan
sebagai suatu tindakan pemikiran yang logis, kritis, mendasar hingga ke
akar-akar permasalahan. Etika bisa
disebut juga sebagai filsafat praktis, karena ia membahas “ yang harus
dilakukan”. Etima merefleksikan tema-tema yang menyangkut perilaku manusia.
Tema-tema yang dianalisis seperti, hati nurani, kebebasan, tanggung jawab,
nilai, norma, hak, kewajiban dan keutamaan. Nilai dan norma etis dalam
moralitas yang terdapat dalam agama, kebudayaan, nasionalime, pergaulan anak
muda dan lain-lain, menjadi objek kajian intelektual etika yang langsung
dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
D.
ESTETIKA
Nilai baik dan buruk sering diterapkan
orang kepada perbuatan atau tindakan manusia, sedangkan nilai indah dan tidak
indah lebih cenderung untuk diterapkan kepada soal seni. Estetika berusaha
untuk menemukan nilai indah secar umum. Sehingga tidak mustahil kalu akhirnya
timbul beberapa teori yang membicarakan hal itu.
E.
KEBENARAN ILMIAH DAN KONSEP
FILSAFAT ILMU
Dalam filsafat pendidikan, kebenaran
ilmiah sebagai entitas struktur komponen ilmu pendidikan, dimana hakikat
pelaksanaan pendidikan yang bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang, cara
dan hasilnya akan dipraktekkan berdasarkan analisis kritis terhadap struktur
dan kegunaannya. Adapaun aliran-aliran dalam filsafat pendidikan adalah sebaga
berikut:
1.
Progresivisme
Progresivisme mempunyai konsep yang
didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai
kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi dan mengatasi
masalah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam adanya manusia itu
sendiri.
Hal ini progresivisme memandang
manusia sebagai makhluk yang bebas, aktif, dinamis dan kreatif. Kedudukan
manusia penting dalm perkembangan kebudayaan dan peradaban.
2.
Esensialisme
Esensialisme dalam memandang
kebudayaan dan pendidikan berbeda dengan progresivisme, esensialime menganggap
bahwa dasar pijak ini kurang tepat karena fleksibiltas dalam segala bentuk
dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang
kurang stabil dan tidak menentu.
Di samping itu esensialime memandang
manusia sebagai makhkuk budaya,artinya keberadaan manusia mempunyai peranan
sebagai penghayat, pelaksana dan sebagai pengembang kebudayaan. Disinilah
fungsi pendidikan dalam berbagai bentuk dan manifestasinya yang senantiasa
berkembang dan berubah, merupakan refleksi dari kebudayaan mengantarkan manusia
ke dalam fikiran dan alam modern yang ditandai perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
3.
Perenialisme
Perenialisme dalam memandang keadaan
sekarang adalah sebagai zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh
kekacauan, kebingungan dan kesimpangsiuran. Perenialisme mengikuti tradisi
perkembangan intelektual akademik yang ada pada dua zaman, Yunani dan abad
pertengahan.
Memandang pengetahuan, perenialisme
berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan
adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. Kebenaran adalah sesuatu yang
menunjukkan kesesuaian antara piker dan benda-benda.
4.
Rekonstruksionisme
Aliran ini memandang manusia sebagai makhluk sosial.
Manusia tumbuh dan berkembang dalam
keterkaitannya dengan proses sosial dan sejarah dari pada masyarakat. Pendidkan
mempunyai peranan untuk menandakan pembaharuan dan pembangunan masyarakat.
Perkembangan ilmu dan teknologi tidak memberikan sumbangan yang sangat
berarti bagi masyarakat, namun juga membawa dampak negative.
Hal tersebut yang menyebabkan
tumbuhnya pikiran kritis rekonstruksionisme yang terjadi dalam masyarakat, sehingga
dapat dikatakan rekonstruksi sebagai tujuan mencari titik kebenaran melalui
lembaga pendidikan.
BAB V
FONDASI
PENGKAJIAN ILMU
A.
ONTOLOGI
Ontologi membahas keberadaan sesuatu
yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat
ontologis dikenal seperti Thales, Plato, Ariestoteles.
Hakikat kenyataan
atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang :
1.
Kuantitatif, apakah kenyataan jamak atau tunggal
2.
Kualitatif, apakah realitas tersebut memiliki kualitas tertentu.
Secara
sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau
kenyataan konkret secara kritis.
Ontologi ini
pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang
dunia ini dan berguna bagi studi ilmu – ilmu empiris. Pemahaman ontologik
meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhirnya
akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagiamana yang
ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya.
Secara
etimologi Bakhtiar (2004:132) menjelaskan kata ontologi berasal dari perkataan
Yunani: On = being dan logos = logic. Sejalan dengan Bakhtiar Noeng Muhajir
dalam bukunya filsafat ilmu mengatakan, ontologi membahas tenteng yang ada, dan
tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu.
1.
Monoisme
Aliran monoisme memandanag bahwa asal
mula sesuatu atau hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanya satu. Ada
pencipta dan ada ciptaan, berarti ada dua eksisten, tetapi yang kedua berasal
dari yang pertama. Lalu siapakah keberadaan yang pertama itu? Keberadaan yang
hakiki, yang darinya bersumber keberadaan yang lain? Ia mampu mengadakan
mahkluk hidup berarti maha menghidupi. Ia penyebab keteraturan di alam semesta
berarti ia maha pengatur. Paham ini terbagi dalam dua aliran :
a.
Materialisme
Materialisme adalah paham dalam
filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapata dikatakan benar-benar ada adalah
materi. Materialisme tidak mengakui entitas-entitas non material seperti: roh,
hantu, setan, malaikat. Tidak ada Allah atau dunia adikodrati/supranatural.
Secara etimologis kata materialisme
terdiri dari kata materi dan isme. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia materi
adalah bahan;benda;segala sesuatu yang tampak.
Masih dari kamus yang sama disebutkan bahwa materialis
adalah pengikut paham materialisme yang mementingkan kebendaan.
Setidaknya ada lima dasar ideologi yang dijadikan dasar
keyakinan paham ini.
1.
Segala yang ada berasal dari satu sumber yang materi
2.
Tidak meyakini alam ghaib
3.
Menjadikan panca-indera sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu
4.
Memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakan hukum
5.
Menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlak.
b.
Idealisme
Menurut sejarah, orang yang pertama
kali mengemukakan pemikiran tentang idealisme adalah George Barkeley. Idealisme
adalah sebuah teori tentang realitas dan pengetahuan yang menjelaskan tentang
kesadaran atau pemikiran yang immaterial dan mempunyai fungsi utama dalam
aturan dunia.
Idealisme diambil dari kata “idea”
yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Alasan aliran ini menyatakan bahwa hakikat
benda adalah rohani, spirit atau sebangsanya adalah:
a.
Nilai ruh lebih tinggi dari badan
b.
Manusia lebih memahami dalam dirinya daripada luar dirinya
c.
Materi adalah kumpula energi yang menempati ruang. Sebenarnya bagi penganut
idelisme tidak ada materi. Segala kenyataan manusia adalah ruh.
2.
Dualisme
Dualisme adalah konsep filsafat yang meyatakan ada dua
substansi
a.
Gagasan tentang dualisme jiwa dan raga berawal sejak zaman Plato dan
Arietoteles dan berhubungan dengan spekulasi tentang eksistensi jiwa
b.
René Descartes (1641) berpendapat bahwa pikiran adalah substansi
nonfisik.
Desacartes
meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan. Dia meragukan badannya sendiri. Keraguan itu menjadi
mungkin karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi dan pengalaman pada ruh
halus ada yang sebenarnya itu tidak jelas. Tidak ada batasan mimpi dan jaga.
Umumnya manusia tidak akan
mengalami kesulitan untuk menerima prinsip ini, karena setiap kenyataan dapat
segera ditangkap panca indera kita, sedang kenyataan batin dapat segera diakui
adanya oleh akal dan perasaan hidup.
3.
Pluralisme
Pluralisme adalah sebuah kerangka
adanya interaksi beberapa kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormati
satu sama lain. Pluralisme dapat dikatakan salah satu ciri masyarakat modern
dan kelompok sosial yang paling penting.
Bisa diargumentasikan bahwa sifat pluralisme adalah
faktor pertumbuhan pesat ilmu pengetahuan.
Menurut Bakhtiar (2007:143)
berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Tokoh aliran ini
pada masa Yunani kuno adalah Anaxa Goras dan Empledocles yang menyatakan bahwa
substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri atas 4 unsur, yaitu tanah, air,
api dan udara.
4.
Nihilisme
Nihilisme adalah suatu paham, kata
kerjanya adalah Annihilate, meniadakan, membasmi, memusnahkan, menghapuskan,
melenyapkan segala eksistensi. Nihilisme mengatakan bahwa keberadaan manusia di
dunia, tidak memiliki suatu tujuan.
Pemikiran – pemikiran Nihilisme dapat dilihat pada
karya-karya pendukung mahsyurnya seperti Jean Paul Sartre, Franz Kafka, Arbert
K, samuel B, Arthur A.
Nihilisme merupakan kecenderungan baru
di dunia modern. Pesimisme di masa kontemporer menjadi nihilisme sekarang.
Bunuh diri, lari dari tanggung jawab, dan memandang hidup ini sebagi canda
gurau belaka adalah merupakan tanda bahwa manusia masa kini memandang rendah kehidupan dan terjabak dalam dunia
nihilisme.
Dibawah ini akan disebutkan beberapa
kondisi yang manusia abad kini cenderung pada Nihilisme, antara lain:
1.
Pasca revolusi industri, dunia Barat mengandalkan ilmu dan industri
sebagai Tuhan, saat perang, terjadi perubahan ekonomi yang tidak dapat
diselesaikan, akhirnya mereka putus asa dan kehilangan kepercayaan.
2.
Dua perang dunia dan revolusi berdarah yang terjadi membuat manusia
semakin terjepit dan gelap.
3.
Ribuan manusia mengalami kemiskinan dan sebgain mewah dan berlebihan
menjadikan mereka memandang rendah kehidupan
4.
Banyak penganut Materialisme yang menjauhkan diri dari Tuhan
5.
Nilai-nilai manusia mengalami perubahan.
Dalam
perjalanan sejarah, manusia senatiasa ingin mengetahui dari mana dia berasal ,
untuk apa dia hadir di muka bumi, dan kemana ia akan pergi setelah kematian.
Sebagian manusia tidak mampu memberikan solusi atas persoalan tersebut.
Filosof agama
bersentuhan dengan sistem filsafat yang sempurna dan pengetahuan mereka yang
lengkap tentang agama, sehinngga mereka tidak jatuh ke lembah nihilisme dan
pesimisme.
Fenomena
kematian merupakan salah satu faktor kecenderungan manusia kepada pesimisme dan
nihilisme. Hakikat kematian yang tidak terungkap menarik banyak para pemikir ke
arah pesimisme.
Keberadaan
tujuan, cita-cita dan harapan dalam kehidupan pada beberapa aspek bisa
mengantisipasipesimisme dan nihilisme.
5.
Agnotisme
Agnotisme adalah suatu pandangan filosofis bahwa suatu nilai kebenaran dari suatu klaim
tertentu umumnya yang berkaitan dengan theologi, metafisika, keberadaan Tuhan,
dewa, dan sejenisnya. Agnostik adalah paham tentang bahwa di dunia ini memang
benar ada suatu kekuatan besar lainnya selain kekuatan manusia.
Menurut Bakhtiar (2004:146) mengatakan
bahwa aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan
tokoh-tokohnya seperti Soren Kierkeegar, Heidegeer , Sarter, Jaspers.
Agnotisme dapat disimpulkan adalah
faham pengingkaran atau penyangkalan terhadap kemampuan manusia mengetahui
hakikat baik materi maupun ruhani.
B.
EPISTOMOLOGI
Epistomologi adalah cabang filsafat
yang berkaitan dengan asal , sifat dan jenis pengetahuan. Epistomologi atau
teori pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan,
pengandaian-pengandaian dan
dasar-dasarnya.
Pengetahuan merupakan daerah
persinggungan antara benar dan dapat dipercaya. Pengetahuan bisa diperoleh dari
dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat
sporadis dan kebetulan sehingga
cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan.
Pengetahuan yang diperoleh manusia melalui akal, indera dan lain-lain
mempunyai metode tersendiri dalam metode pengetahuan diantaranya :
1.
Metode Induktif
Induksi adalah cara mempelajari sesuatu
yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang
umum. Jalan induksi mengambil jalan tengah, yakni diantara jalan yang memeriksa
cuma satu bukti saja dan jalan yang menghitung lebih dari satu, tetapi boleh
dihitung semuanya satu persatu.
Dalam induksi, setelah diperoleh
pengetahuan, maka akan dipergunakan hal lain, sperti ilmu mengajarkan kita
bahwa kalau logam dipanasi ia mengembang, bertolak dari teori ini, kita akan
tau bahawa logam lain yang kalau dipanasi juga akan mengembang.
2.
Metode deduktif
Deduksi adalah cara berpikir dari
pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang khusus. Penarikan
kesimpulan secara deduktif dinamakan Silogismus. Metode berpikir deduktif
adalah metode berpikir yang menerapkan hal- hal yang umum terlebih dahulu untuk
seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
3.
Metode Postivisme
Auguste Comte berpendapat, postivisme
adalah cara pandang dalam memahami dunia
dengan berdasarkan sains. Penganut paham Positivisme meyakini bahwa hanya ada
sedikit perbedaan antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan
kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan demikian juga alam.
Psitivisme logis adalah filsafat yang harus dapat memebrikan kriteria yang
ketat untuk menetapkan sebuah pernyataan
benar atau tidak mempuanyai arti sama sekali. Tokoh-tokoh yang menganut paham
positivisme logis antara lain Moritz Schilck, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan
A.J Ayer.
Salah satu teori Positivisme logis
yang paling dikenal antar lain teori tentang makna yang dapat dibuktikan yang
menyatakan bahwa sebuah pernyataan dapat disebut sebagai bermakna jika dan
hanya jika pernyataan tersebut dapat diverivikasi secara empiris.
Para pengkritik postivisme logis berpendapat bahwa
landasan dasar yang digunakan oleh positivisme logis sendiri tidak
dinyatakan dalam bentuk yang konsisten.
Karl Popper, salah satu kritikus
positivisme logis menyajikan alternatif
dari teori syarat pembuktian makna yaitu membedakan pernyataan ilmiah
dan metafisik.
4.
Metode Kontemplatif
Tentang metode kontemplatif Bakhtiar
(2004:155) mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk
memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda
harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut intuisi.
5.
Metode Dialektis
Metode dialektika dapat diartikan
sebagai metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Dalam kehidupan
sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melakukan perdebatan.Hegel dalam Bakhtiar (2004:156) menggunakan metode dialektis
untuk menjelaskan filsafatnya.
C.
AKSIOLOGI
Aksiologi merupakan cabang filsafat
ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia mempergunakan ilmunya. Rasa
keingintahuan manusia ternyata menjadi titik-titik perjalanan manusia yang tak
akan pernah usai. Hal inilah yang pada akhirnya melahirkan beragam penelitian
dan hiotesa awal manusia terhadap inti dari keanekaragaman realitas. Kemudian
dirumuskanlah sebuah teori pengetahuan dimana pengetahuan terklasifikasi
menjadi beberapa bagian.
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani axios yang berarti sesuai atau wajar.
Aksiologi dipahami sebagai teori nilai.
Ilmu adalah istilah yang berasal dari
kata Yunani yaitu scientia yang
berarti ilmu. Fungsi ilmu menurut Ahmad Tafsir, teori mempunyai tiga fungsi
dilihat dari kegunaan teori dalam menyelesaikan masalah. Pertama, teori sebagai
alat eksplanasi. Kedua, teori sebagai alat peramal. Ketiga, teori sebagai alat
pengontrol.
Perkembangan dan kemajuan ilmu
pengetahuan telah menciptakan berbagai bentuk kemudahan bagi manusia. Namun
apakah hal iru selalu demikian? Memang dengan mempelajari teknologi seperti
pembuatan bom atom, manusia bisa memanfaatkan sebagai sumber energi bagi
keselamatan manusia, tetapi di pihak lain hal ini bisa juga berakibat sebaliknya
yang menimbulkan malapetaka.
Dihadapkan dengan masalah moral dalam
ekses ilmu dan teknologi yang besifat merusak, para ilmuwan terbagi kedalam dua golongan pendapat.
Pertama, berpendapat bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai. Golongan kedua berpendapat
bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik
keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya haruslah berlandaskan nilai-nilai
moral.
Dari dua pendapat golongan diatas,
kelihatannya netralitas ilmu terletak pada epistemologisnya saja, artinya tanpa
berpihak kepada siapapun, selain kepada
kebenaran yang nyata.
BAB VI
FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
Defenisi kata filsafat adalah studi
yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara
kritis. Sebetulnya pemikiran-pemikiran barat lahir di Yunani kuno dan dimajukan
sebagai pangkal sejarah filsafat Barat.
Pemikiran filsafat di Eropa diwarnai dengan unsur-unsur baru ( agama
Khatolik). Dengan kata lain pemikiran filsafat didasarkan pada firman Tuhan. Pada abad 12 dimana
perkembangan filsafat mengalami peningkatan yang luar biasa, yang ditandai dengan adanya universitas-universitas disamping
ordo-ordo. Abad 14-17 pemikiran filsafat ditandai dengan munculnya
aliran-aliran filsafat. Ini adalah masa dimana menuju pada filsafat modern.
Masa ini dikenal dengan Renaisance.
Dalam situasi macam ini hubungan
antara agama dan filsafat menjadi cair, dalam artian agama ditinggalkan oleh
filsafat. Masing-masing kembali pada dasarnya sendiri., artinya agama mendasarkan diri pada iman dan
kepercayaan pada firman Tuhan, sedangkan filsafat mendasarkan diri pada akal
dan pengalaman. Pada masa ini pemikiran filsafat mampu membentuk kepribadian
terhadap masing-masing bangsa dengan
pemikiran dan caranya sendiri.
A.
PEMIKIRAN-PEMIKIRAN
FILSAFAT
1.
Humanisme
Humanisme berasal dari Barat dan mengalami perkembangan
dalam lingkungan pemikiran filsafat Barat. Karena itu, untuk mengkaji dan
menganalisis gerakan humanisme pada dasar-dasar epistomologi barat sudah
seharusnya merujuk ke berbagai ensiklopedia barat yang akurat. Humanisme adalah paham
filsafat yang menjungjung tinggi nilai dan kedudukan manusia serta menjadikannya
sebagai kriteria segala sesuatu. Kaum humanis menggiring perhatian rakyat dari agama ke filsafat dan
dari langit ke bumi.
Ideologi dibawah ini adalah
ajaran-ajaran yangg terbentuk dari paham humanisme:
1.
Komunisme
2.
Pragmatisme
3.
Eksistensialisme
Dengan
demikian sebagian besar ajaran filsafat pasca Renaisans secara mendasar telah
dipengaruhi oleh humanistik.
2.
Rasionalisme
Aliran Rasionalisme dipelopori
oleh Rene Descartes. Descartes menerima
3 realitas atau substansi bawaan yang sudah ada sejak lahir yaitu (1) Realitas
pikiran (2) realitas perluasan (3) Tuhan.
Pikiran yang sesungguhnya adalah
kesadaran, tidak mengambil ruang dan tidak dapat dibagi-bagi menjadi bagian
yang lebih kecil.
3.
Positivisme
Aliran Positisme dibangun oleh Saint
Simon dan dikembangkan oleh aguste Comte. Ia mennyatakan bahwa pengetahuan
manusia berkembang secara evolusi dalam tiga tahap, yaitu teologis, metafisik
dan positif.
Aguste Comte mencoa mengembangkan
Positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama. Terbukti dengan
didirikannya Positivisme Societies di
berbagai tempat yang memuja kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan.
4.
Empirisme
Aliran empirisme nyata dalam pemikiran
David Hume (1711-1776), yang memilih pengalaman sebagai sumber utama
pengetahuan. Pengalaman itu dapat bersifat lahiriah (yang menyangkut dunia)
atau batiniah (yang menyangkut pribadi manusia)..olehkarena itu pengenalan
indrawi merupakan bentuk pengenalan yang
paling jelas dan sempurna. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang
bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita.
B.
SCIENCE/ILMU PENGETAHUAN
‘Science’ merupakan bagian dari himpunan
informasi yang termasuk dalam pengetahuan ilmiah, dan berisikan informasi yang memberikan gambaran tentang struktur
dari sistem-sistem serta penjelasan menganai pola-laku sistem-sistem tersebut.
Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan
sederhana menuju pada pembenaran ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu
pengetahuan diperluka landasan dan proses
sehingga ilmu pengetahuan dapat dibangun. Dalalm pembangunan ilmu
pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga. Beberapa tiang penyangga
itu adalah berupa penilaian yang terdiri dari ontologi, epistomologi, dan
aksiologi.
Perlunya penilaian dalam pembangunan
ilmu pengetahuan alasannya adalah agar
pembenaran yang dilakukan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum. Oleh
karena itu, proses berpikir ilmiah mempunyai cara-cara tersendiri sehingga
dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah.
C.
PERAN FILSAFAT ILMU DALAM
ILMU PENGETAHUAN
Menurut Didi (1997) ilmru pengetahuan
harus diperoleh dengan cara sadar, melakukan sesuatu terhadap objek, didasarkan
pada suatu sistem, peosesnya menggunakan cara yang lazim, mengikuti metode
serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan
verivikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilmiahnya..
Pada kenyataannya filsafat ilmu
mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai
manusia. Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang
dapakai dalam pembangunan ilmu pengetahuan, tokoh pemikir dalam filsafat ilmu
yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (Aliran
Rasionalistas) dan John Locke (aliran empirikal).Kalau sebelumnya terdapat
berpikir secara rasional, maka dengan meningkatnya intensitas penelitian maka
kecenderungan memilih berpikir rasional ini akan beralih pada kevenderungan
berpikir secara empiris.
Dengan demikian penggabungan cara
berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam
penelitian ilmiah hakikatnya meupakan implikasi dari metode ilmiah (Jujun
1990).
Berdasarkan terminologi , empiris
mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau eksperimen,bukan
teori (Kamus Dewan 1994:336)atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman.
Rasional mempunyai pengertian sesuatu
yang berdasarkan taakulan, menurut pertimbangan atau pikiran yang wajar, waras
(Kamus Dewan 1994:1107).
Kematangan berpikir ilmiah sangat
ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan empiris yang didasarkan pada
fakta (objektif), karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu
pengetahuan. Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme,
empirisme, dan objektivitas maka bepikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses
berpikir ilmiah.
D.
NILAI-NILAI YANG DITIMBULKAN
SCIENCE.
1.
Teknologi, teknologi merupakan bagian dari himpunan informasi yang termasuk dala pengetahuan ilmiah yang
berisikan informasi preskriptif mengenai penciptaan sistem-sistem dan
pengoperasian sistem tersebut. Orang sering memandang sisten yang tercipta
sebagai teknologi juga, pandangan demikian sebaiknya tak diikuti, karena
menimbulkan kerancuan dalam pengembangan pemikiran selanjutnya. Lebih tepat
bila sistem yang tercipta itu disebut fenomena teknologis.
2.
Materialis, Materialisme adalah paham dalam melihat filsafat yang
menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benat adalah materi. Pada
dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua hal adalah hasil interaksi
material materialisme berbeda dengan dualisme atau pluralisme. Dalam memeberikan
penjelasan tunggal tentang realitas, materialisme berseberangan dengan
idelasime. Materialisme adalah ajaran yang menekankan keunggulan faktor-faktor
material atas yang spiritual dalam metafisika, teori nilai, fisiologi,
epistomologi.
Ada beberapa macam materialisme, yaitu materialisme
biologis, materialisme parsial, materialisme antropolgis, materialisme
dialektis dan materialisme historis
3.
Refleksi/reifikasi, Reifikasi adalah kecenderungan untuk mewujudkan
segala kebudayaan dalam bentuk-bentuk, angka-angka dan kuantitas dan bentuk
lahiriah. Kepuasan pekerjaan dinilai dari segi material, , tingkah laku
lahiriah, rupa, suara, dan bahasa yang dapat ditangkap oleh panca indera. Hal
ini tampak pada laporan pembangunan yang memperlihatkan keberhasilan-keberhasilan
dengan angka, dalam bentuk kuantitas, dan statistik perkembangan. Kecenderungan
ini seringkali berlebihan misalnya dengan mengukur perasaan cinta, kesenangan,
keindahan atau kebahagiaan dengan materi.
4.
Manipulasi, Manipulasi adalah kegiatan yang menyalahgunakan proses dan
barang kebudayaan untuk kepentingan yang
rendah, misalnya demi keuntungan. Manipulasi ini tampak pada iklan yang
mengelabui orang tentang suatu produk,
misalya melebih-lebihkan khasiat obat atau mengubah informasi dampak negatif suatu barang
konsumsi menjadi sesuatu yang bermsnfsst.
5.
Pragmatisme, Pragmatisme adalah
aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya sutau ucapan,
dalil, atau teori semata-mata tergantung kepada fedah atau tidaknya ucapan,
dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannnya.
Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S Pierce (1839-1942) yang
kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan Jhon Dewey
(1859-1952). Pragmatisme tidak dapat dipisahkan dari keberadaan dan
perkembangan ide-ide di Eropa.
Pragmatisme tak diingkari telah menjadi semacam ruh yang
menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme yang telah disebarkan Barat
ke seluruh dunia melalui penjajahan gaya lama maupun baru. Pragmatisme dapat
dipandang berbahaya karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus
kepada dunia—yakni standar kebenaran dan pemikiran dan standar perbuatan
manusia.
6.
Individualisme , Individualisme adalah kecenderungan memecah masyarakat menjadi individu-individu
yang dikemudikan oleh kepentingan pribadi.yang sempat. Individualisme adalah
paham yang menghargai individu dan
menghormati diri pribadi seseorang yang otonom yang memiliki hak-hak asasi.
Individualisme melahirkan penghargaan pada diri sendiri, tetapi juga harus
menghargai individu lain. Oleh karena itu individualisme menghasilkan kebebasan
dan otonomi individu tetapi juga sekaligus kewajiban-kewajiban asasi individu
terhadap masyarakat.
Dampak lain dari individualisasi
adalah egoisme, yaitu sikap yang mementingkan diri sendiri tetapi mengabaikan
kepentingan orang lain. Jika dipahami secara benar, individualisme memuliakan
dan memberikan penghargaan kepada manusia sebagai individu. Namun
individualisme ini bisa kebablasan menjadi egoisme karena melepaskan dirinya
dari masyarakat. Dengan itu maka individualisme harus diimbangi dengan
prinsip-prinsip komunitarian.
E.
FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
DAN ILMU PENGETAHUAN
Ilmu adalah penyempadanan (pembatasan)
prosedur-prosedur yang dapat membimbing penelitian menurut arah tertentu. Ilmu
berubah sesuai lingkungan budaya dan konstelasi tertentu. Ilmu merupakan
keseimbangan yang berharga menghadapi ideologi.
Menerapkan ilmu pada kejuruan dan
teknik mempengaruhi kegiatan ilmiah, akan tetapi penerapan yag lebih merupakan
akibat penggunaan metode yang tepat dalam ilmu sendiri.
Bahasa ilmu sebagai bagian bahasa
pergaulan dan sistem bahasa ilmiah yang baru yang sasarannya adalah pendidikan
bahasa suatu ilmu yang sudah ada
“metabahasa”. Pada bahasa sehari-hari
bersifat evaluatif tidak merupakan sistem tertutup, sedangkan bahasa
ilmiah mempunyai ciri-ciri bebas nilai yang membentuk sistem tertutup.
Ilmu mempunyai ciri khas sebagai
sistem yang terbuka, tetapi ilmu sering dianggap sebagai sistem tertutup.
Menurut A. Comte setiap ilmu terdiri atas koordinasi fakta dan makin maju ilmu,
fakta makin bergayut pada metode. Ciri ilmu yang merupakan sistem terbuka
adalah ilmu merupakan kebudayaan manusiawi, ilmu berbentuk dinamis, dan yang menanggapi dunia sekelilingnya.
Menurut ahli filsafat klasik, seperti
B. Spinoza dan G. W. Leibniz, tetapi juga menurut angapan sehari-hari, yang
kadang bersifat intuitif dalam banyak ilmu, hukum sebab akibat berlaku di
seluruh alam semesta. Kausalitas merupakan bawaan (innate) budi manusia sendiri.
Kausalitas dalam teori ilmu modern makin menjadi bagian prosedur penjabaran.
Peranan kausaliatas diambil alih oleh model deduktif-nomologis. Dengan demikian
pembatasan sistem ilmu akan jelas.
Psikologisme mendasarkan kepastian
logis pada kontingensi berfungsinya psikis budi manusia. Metodologi ilmu tak
lain dan tak bukan menjadi psikologi. Ilmu merupakan gejala sosial yang disebut
sosiologi ilmu. Ilmu hanya dilihat sebagai ilmu terapan. Tiada lagi ilmu murni
dan segala teori hanya pegangan unutk mengubah masyarakat.
Pada sistem ilmiah selalu ada pengaruh
dari luar. Suatu sistem ilmiah ialah
berdasarkan struktur objektif yang mendasari pengetahuan ilmiah, meneliti
apakah isi, susunan dan batasan-batasan ilmu tertentu. Metodologi ilmu
menghadapi masalah yaitu (1) kreativitas dalam ilmu, (2) ilmu bersama anak
kendungnya, tenik, makin berperan dalam mewujudkan masyarakat dan budaya.
Dalam dunia harian etika biasanya terdiri atas susunan kaidah
dan banyak putusan evaluatif dalam kawasan dunia teratur tertampung dalam
kaidah etis itu.
Ilmu terapan merupakan bagian terbesar ilmu-ilmu. Ilmu
terapan artinya lebih luas dari hanya penerapan ilmu. Ciri khas ilmu terapan
adalah bersifat mutlak.
a.
Tujuan Dari Ilmu
Pengetahuan.
Menurut Braithwaite, ilmu pengetahuan
bertujuan mentapkan hukum-hukum umum yang
meliputi perilaku kejadian dan objek yang dikaji oleh ilmu yang
bersangkutan. Secara sederhana tujuan ilmu pengetahuan adalah merumuskan teori
atas suatu hal yang menjadi objek ilmu tersebut.
Sementara itu
tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk
mendeskripsikan, mejelaskan, dan memprediksikan suatu kejadian (Wattimena).
F.
KRITERIA ILMU PENGETAHUAN
Wattimena (2008:111) juga mengatakan
setidaknya ada lima kriteria.
1.
Suatu teori dapat diuji secara intersubyektif
2.
Suatu imu pengetahuan dapat dipercaya
3.
Penjelasan dan ketepatan
4.
Koheren dan sistematik
5.
Cakupan yang terbatas dan komprehensibilitas.
Simpulannya
suatu teori layak disebut sebagai ilmu pengetahuan jika teori tersebut mampu
memenuhi kelima kriteria tersebut.
BAB VII
SARANA BERPIKIR ILMIAH
Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara
baik diperlukan sarana berpikir. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat
yang membentu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya.
Dengan jalan ini maka kita akan sampai pada hakikakt sarana yang sebenarnya
sebab sarana merupakan alat yang membantu dalam mencapai suatu tujuan.
Sarana ilmiah bukan merupakan kumpulan
ilmu, dalam pengertian bahwa sarana ilmiah merupakan pengetahuan yang
didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir
ilmiah maka diperlukan sarana berupa bahasa, logika, matematika dan statistika.
Dilihat dari pola berpikirnya maka
ilmu merupakan gabungan berpikir deduktif dan induktif. Matematika berperan
penting pada berpikir deduktif, dan statistika berpikir induktif.
Sebenarnya, setiap orang memiliki
tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak menyadarinya.
Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemmapuan berpikirnya.
Banyak yang beranggapan bahwa untuk
berpikir secara mendalam, seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak
tangannya, dan menyendiri di ruangan yang sunyi. Mereka telah menganggap
berpikir sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan.
A.
PEMBAGIAN BERPIKIR
Akal merupakan salah satu unsur
kejiwaan disamping rasa. Berpikir dapat dilihat secara alamiah dan ilmiah.
Berpikir alamiah adalah pola penalaran berdasarkan kebiasaan sehari-hari dari
pengaruh alam sekelilingnya. Berpikir ilmiah adalah landasan atau kerangka
berpikir penelitian ilmiah. Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik
diperlukan sarana berpikir.
B.
SARANA BERPIKIR ILMIAH MANUSIA
Sarana berpikir ilmiah merupakan alat
yang membentu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada
langkah tertentu biasanya juga diperlukan sarana tertentu juga. Untuk dapat
berpikir ilniah dengan baik diperlukan sarana berupa : a) Bahasa Ilmiah b)
Logika dan Matematika, c) Logika dan Statistika.
Kemampuan berpikir ilmiah yang baik
sangat didukung oleh penguasaan sarana berpikir dengan baik pula. Berpikir
ilmiah menyandarkan diri pada proses metode ilmiah baik logika deduktif maupun
logika induktif.
C.
HAKIKAT SARANA BERPIKIR ILMIAH
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah
dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Pada langkah tertentu biasanya
diperlukan sarana yang tertentu pula. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir
ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika,
matematika, dan statistika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang
dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dan untuk menyampaikan jalan
pikiran tersebut kepada orang lain.
D.
FUNGSI SARANA BERPIKIR
ILMIAH
Sarana ilmiah mempunyai fungsi yang
khas, pada dasarnya ada tiga :
a.
Bahasa Ilmiah
Bahasa berfungsi sebagai alat
komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran
seluruh proses berpikir ilmiah, syarat-syarat :
1.
Bebas dari unsur emotif
2.
Reproduktif
3.
Obyektif
4.
Eksplisit
Bahasa pada
hakikatnya mempunyai dua fungsi utama yakni, pertama, sebagai sarana komunikasi
antar manusia. Kedua, sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok
manusia.
Perkembangan
kebudayaan Indonesia ke arah peradaban modern sejalan dengan kemajuan dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan tekologi menuntut adanya perkembangan cara
berpikir yang ditandai oleh kecermatan, ketepatan, dan kesanggupan menyatakan
isi pikiran eksplisit.
b.
Matematika dan Logika
Mempunyai peranan penting dalam
berpikir deduktif sehinga mudah diikuti dan dilacak kembali kebenarannya.
Matematika adalah pengetahuan sebagai sarana berpikir deduktif sifat :
1.
Jelas, spesifik, dan informatif
2.
Tidak mudah menimbulkan konotasi emosional
3.
Kuantitatif
Menurut jujun,
matematika adalah bahasa yang melambnagkan serangkaian makna dari pernyataan
yang ingin kita sampaikan. Lambang matematika bersifat artifisial. Matematika
merupakan alat yang memungkinkan ditemukannya serta dikomunikasikannya
kebenaran ilmiah lewat berbagai disiplin keilmuan.
c.
Statistika
Mempunyai peranan penting dalam
berpikir induktif untuk mencari konsep-konsep yang berlaku umum, sifatnya :
1.
Dapat digunakan untuk mengiju tingkat ketelitian
2.
Untuk menentukan hubungan kausalitas antar faktor terkait.
Statistika
sangat berperan dalam perkembangan ilmu penetahuan tertutama dalam
penelitian. Bicara statistik dan
pembangunan sangat relevan. Melalui angka statistik kita bisa lihat
keberhasilan pembangunan.
Sebagaimana
diketahui peranan statistik sangat banyak dalam penelitian, mulai dari tahap
pegambilan sampel sampai dengan tahapan pengujian hipotesis. Dengan demikian
dapat dikatakan statistik merupakan pengetahuan untuk melakukan penarikan
kesimpulan induktif secara lebih seksama.
BAB
VIII
METODE
SAINTIFIK
A. DUNIA ILMU PENGETAHUAN
Pengetahuan
pertama misalnya, tidak lain pengetahuan tersebut dikemukakan oleh kalangan
awam yang menyimpulkan segala sesuatunya dengan cepat. Penyimpulan ini tentu
saja bukan berasal dari kalangan akademisi atau ilmuwan yang mendasarkan
pernyataan-pernyataan mereka dengan dasar-dasar yang logis dan ilmiah.
Secara
garis besar, commen sense dan science dapat dibedakan menjadi lima,
yakni:
1.
Penggunaan teori dan konsep-konsep tertentu
Cara yang dilakukan Commen sense hingga pengetahuan itu muncul, tentu tidak
mementingkan keberadaan teori atau konsep-konsep tertentu. Dalam pengetahuan, commen sense berangkat dari hal-hal yang
umumnya terjadi, kemudian dibuat menjadi suatu simpulan tertentu. Sementara science, dalam merumuskan suatu
pengetahuan atau pernyataan, senantiasa berdasarkan kepada suatu teori atau
konsep tertentu.
2.
Pengujian terhadap hipotesis
Pada tahap ini commen
sense hanya melihat gejala yang umumnya terjadi kemudian langsung melakukan
penyimpulan tanpa memperhatikan dugaan tersebut akurat atau tidak. Sementara science, sebelum suatu dugaan dikukuhkan
menjadi suatu pengetahuan baru, dugaan tersebut haruslah diuji terlebih dahulu.
3.
Ada tidaknya kontrol
Yang dimaksud dengan kontrol adalah peniadaan atau
penjagaan variabel lain yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian. Perhatian
terhadap kontrol ini hanya dilakukan oleh science
dalam memperoleh pengetahuan, sementara pada commen sense, pengontrolan variabel tidak dilakukan.
4.
Pengujian secara sistematis
Dalam tahap ini science
melakukan berbagai pengujian dan penyusunan pengetahuan secara sistematis dan
prosedural. Lain halnya dengan commen
sense yang tanpa melakukan pengujian terlebih dahulu, secara langsung
membuat kesimpulan sebagai suatu pengetahuan.
5.
Mengamati hal-hal yang teramati
Sciense senantiasa
merumuskan pengetahuan pada hal-hal yang teramati, sementara pada commen sense, tidak jarang merumuskan
pengetahuan pada hal-hal yang bersifat abstrak dan sulit diidentifikasi.
B. PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN (SCIENCE)
Pada perkembangannya, awalnya
manusia memahami sesuatu berdasarkan hal-hal mistis/magis yang dipercayainya.
Hal-hal ini bersifat amat abstrak dan terkesan tidak ilmiah. Kemudian, manusia
mulai melakukan penalaran dan dugaan-dugaan sebagai cara memahami sesuatu.
Namun dugaan-dugaan ini tidak berdasarkan fakta-fakta yang menunjang dugaan
tersebut. Dugaan-dugaan yang hanya berdasarkan nalar manusia semata ini, dapat
kita sebut sebagai knowledge. Dugaan
yang berdasarkan fakta ini disebut sebagai hipotesis dan upaya pencarian
pengetahuan melalui dugaan yang faktual kita sebut sebagai science.
Metode memperoleh pengetahuan
Dalam
upaya memperoleh pengetahuan dan memahami sesuatu, umumnya manusia melakukan
satu atau lebih metode untuk memperoleh pengetahuan.
Ada empat metode
ini yang biasa disebut sebagai metode pengetahuan atau methods of knowing, yaitu:
1.
Tenacity, yang dimaksud
dengan metode tenacity adalah cara
memperoleh pengetahuan yang dilakukan dengan sangat meyakini sesuatu, meski
bisa jadi apa yang diyakininya belum tentu benar.
2.
Authority yaitu metode
memperoleh pengetahuan dengan mempercayakan pada pihak yang dianggap kompeten.
3.
Apriori, metode memperoleh
pengetahuan dengan mempercayakan pada pihak yang dianggap kompeten.
4.
Science, cara memperoleh
pengetahuan dengan melakukan serangkaian cara-cara ilmiah, seperti mengajukan
dugaan, pengujian dugaan, pengontrolan variabel, hinya penyimpulan.
C. PENGAMATAN DAN OBJEKTIVITAS
Sikap
berhati-hati sangat diperlukan di dalam menyatakan suatu klaim ilmu
pengetahuan. Disini, saya akan mengutip pernyataan Neil Turok pada 1998 di
dalam sebuah artikel di surat kabar Daily
Telegraph, ketika ia sedang melakukan penelitian tentang asal-usul alam
semesta bersama Stephen Hawking.
“Pertama-tama,
suatu penemuan (tentang asal-usul alam semesta) adalah sistematis secara
esensial, dan penemuan tersebut diformulasikan dengan bahasa teori relativitas
umum yang ditemukan oleh Albert Einstein untuk menggambarkan gravitasi, sesuatu
kegiatan yang membentuk struktur alam semesta. Sangatlah sulit untuk
menggambarkan hal semacam itu dengan bahasa sehari-hari tanpa mengalami
kesalahan di beberapa aspek. Asal-usul alam semesta kita jelas bukanlah
kejadian sehari-hari.
Hal
penting kedua yang ingin saya sampaikan adalah bahwa teori tentang asal-usul
alam semesta sebelum terjadinya Big Bang
belum didukung oleh bukti-bukti eksperimental. Kita sering membicarakannya
seolah-olah hal tersebut nyata karena kita menganggapnya dengan sangat serius,
tetapi kita tidak mempunyai wawasan langsung pada kebenaran. Yang kita lakukan
adalah merumuskan hipotesis yang memenuhi standar keketatan fisik teoritis.
Sampai teori kami didukung oleh eksperimen yang detil dan pengamatan maka teori
tersebut tetap spekulatif.”
Ada
dua hal penting yang dapat disimpulkan dari kutipan diatas. Tidaklah selalu
mudah bagi seorang ilmuwan untuk mendeskripsikan penelitiannya dalam bahasa.
Beberapa hal, karena tingkat kerumitannya, hanyalah masuk akal jika dikatakan
dalam bentuk formulasi matematis. Ada waktunya, ketika seorang ilmuwan
mengklaim bahwa mereka sudah mengetahui sesuatu sebelum mereka menggambarkannya
dalam term-term ilmiah.
D. PENGALAMAN PENGETAHUAN
John Locke (1632-1704),
seorang filsuf empiris dari Inggris berpendapat bahwa semua yang kita ketahui
didasarkan dari pengalaman. Menurutnya, ketika kita melihat suatu obyek, kita
menangkap beberapa kualitas dari obyek tersebut. Ia kemudian menggolongkan
kualitas tersebut dalam dua kategori. Yang pertama adalah kualitas primer,
yakni kualitas yang dimiliki obyek itu sendiri, termasuk ukurannya, beratnya,
dan massanya. Bagi Locke, kualitas primer ini akan tetap siapapun yang
mengukurnya. Yang kedua adalah kualitas sekunder, yakni kualitas dari suatu
obyek yang sangat tergantung pada cara peneliti melihat obyek yang sangat
tergantung pada cara peneliti melihat obyek tersebut sehingga dapat terus
berubah sesuai dengan kondisi.
Problematika Induksi
Penalaran
deduktif adalah suatu prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang
kebenarannya telah diketaui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan
atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Sedangkan penalaran induktif
merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil
pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru
yang bersifat umum.
BAB
IX
HUBUNGAN
ANTARA BAHASA, BUDAYA, DAN ILMU
Istilah
bahasa dalam bahasa indonesia, sama dengan language, dalam bahasa inggris, taal
dalam bahasa belanda, sprache dalam bahasa jerman, lughatum dalam bahasa arab,
dan bahasa dalam bahasa sansekerta. Istilah-istilah tersebut, masing-masing
mempunyai aspek tersendiri, sesuai dengan pemakainya, untuk menyebutkan suatu
unsur kebudayaan yang mempunyai aspek yang sangat luas, sehingga merupakan
konseep yang tidak mudah didenifisikan.
Menurut
Strurtevent berpendapat bahwa bahasa adalah suatu lambang sewenang-wenang,
berupa bunyi yang digunakan oleh anggota-anggota suatu kelompok sosial untuk
kerjasama dan saling berhubungan. Menurut Chomsky language is a set of sentence, each finite length and contructed out of
a finite set of elements. Dan menurut Keraf, bahasa adalah alat komunikasi
antara anggota masyarakat, berupa lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat
ucap manusia.
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi III (2002:88) disebutkan bahwa:
bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh
anggota satu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi
diri; bahasa merupakan percakapan (perkataan) yang baik.
Budaya
adalah pikiran, akal budi, yang di dalamnya juga termasuk adat istiadat
(KBBI,2005:169). Dengan demikian, budaya dapat diartikan sebagai suatu yang
dihasilkan dari pikiran atau pemikiran. Maka tatkala ada ahli menyebutkan bahwa
bahasa dan pikiran memiliki hubungan timbal-balik dapat dipahami bahwa pikiran
disini dimaksudkan sebagai sebuat perwujudan kebuadayaan.
Kebudayan
menurut Clifford Geertz sebagaimana disebutkan oleh Fedyani Syaifuddin dalam
bukunya Antropologi Kontemporer yaitu sistem simbol yang terdiri dari
simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat
diindentifikasi, dan bersifat publik. Senada dengan pendapat di atas Claud
Levi-Strauss memandang kebudayaan sebagai sistem struktur dari simbol-simbol
dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diindentifikasi, dan bersifat
publik.
Adapun
menurut Canadian Commision for UNESCO seperti yang dikutip oleh Nur Syam
mengatakan kebuadayaan adalah sebuah sistem nilai yang dinamik dari
elemen-elemen pembelajaran yang berisi asumsi, kesepakatan, keyakinan dan
aturan-aturan yang memperolehkkan anggota kelompok untuk berhubungan dengan
yang lain serta mengadakan komunikasi dan membangun potensi kreatif mereka.
Definisi-definisi
di atas dan pendapat para ahli lainnya dapat dikelompokkan menjadi 6 golongan
menurut Abdul Chaer yaitu:
a.
Definisi deskriptif yakni definisi yang menerangkan pada
unsur-unsur kebudayan.
b.
Definisi historis yakni definisi yang menekankan bahwa
kebudayaan itu diwarisi secara kemasyaraktan
c.
Definisi normatif yakni definisi yang menekankan hakekat
kebudayaan sebagai aturan hidup dan tingkah laku.
d.
Definisi psikologis yakni definisi yang menekankan pada
kegunaan kebudayaan dalam menyesuiaikan diri kepada lingkungan, pemecahan
persoalan dan belajar hidup.
e.
Definisi struktural definisi yang menekankan sifat
kebudayaan sebagai suatu sistem yang berpola teratur.
f.
Definisi genetik yang menekankan pada terjadinya
kebudayaan sebagi hasil karya manusia.
Setelah
para ahli sepakat menyatakan bahwa bahasa adalah “alat” dalam bekomunikasi,
sebagai alat tentunya ada yang menggunakan alat tersebut sehingga ia dapat
dimanfaatkan (sebagai komunikasi). Dalam hal ini pengguna atau pemanfaat bahaa
adalah manusia (terlepas kajian ada tidaknya bahasa juga digunakan oleh hewan)
yang selanjutnya disebut penutur. Orang atau manusia yang mendengar atau
menjadi lawan pentur disebut dengan “lawan tutur” atau “pendengar” atau “lawan
bicara”. Dalam interaksi antara penutur dan lawan tutur inilah timbul beberapa
perilaku berdasarkan pemikiran masing-masing sehingga lahirlah kebiasaan atau
budaya. Budaya dan kebiasaan ini akan berbeda tergantung siapa dan di mana
bahasa atau pengguna bahasa itu berada.
A. SEJARAH PENGKAJIAN BAHASA
Bahasa adalah sistem lambang
bunyi yang bersifat arbitrer dan konvensional yang digunakan oleh manusia dalam
berkomunikasi. Pengertian bahasa tersebut, sepertinya sudah menunjukkan
ciri-ciri bahasa yang bersifat universal
Sebelum abad ke-19 pengkajian
bahasa hanya dilakukan dalam studi filsafat, hal ini dilakukan karena bahasa
sebelumnya diposisikan sebagai obejk filsafat. Sekalipun Zaman Renaisance
berkembang di Eropa pada abad ke-16 dengan munculnya tokoh bernama Descrates
(Saya selalu teringat, Cogitu Ergu Sum, aku berpikir maka itu aku ada), bahasa
tetap jadikan sebagai objek filsafat, itu berarti ada kurunb waktu yang cukup
lama antara pengakajian bahasa yang ada sejak Zaman Yunani sampai zaman
Renaissance.
Hingga munculnya seorang tokoh
bahasa bernama Ferdinan De Sausure, ia merupakan bapak inguistik yang mengkaji
bahasa secara modern, ia memposisikan bahasa bukan hanya sebagai alat
komunikasi, tetapi sebagai objek penegtahuan. Jos Daniel Parera (Kajian
Linguistik umum Historis Kompratif dan Tipologi Struktural, hal 4) menyebutkan,
seandainya kita hendak mempelajari sesuatu, entah itu imu. Maka kita akan
dihadapkan pada tiga pertanyaan besar, pertama ialah apakah objek itu, kedua
bagaimanakah kita mempelajari objek itu, dan yang ketiga apa manfaat studi itu.
Linguistik adalah suatu studi
ilmu yang mempelajari bahasa. Penyebutan linguistik sebagai suatu studi ilmu,
bukan hanya soal penyebutan secara spontan, tetapi ada semacam
pertanggungjawaban. Pertama sebuah studi harus dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya, kedua sebuah studi ilmu harus mempunyai nilai ekonomis dan
manfaat dan yang ketiga sebuah studi harus objektif atau tidak memihak.
Pengkajian bahasa tersebut,
jika dikelompokan akan berbentuk tiga zaman yang mengkaji bahasa, pengelompokan
zaman tersebut merupakan usaha manusia dalam mempelajari bahasa. Diantaranya :
a.
Tahap Device
Origin
Tahap ini merupakan tahap
“kuno” dalam mempelajari bahasa, disebut kuno karena orang-orang pada zaman
tersebut, masih mengelompokan bahasa dalam suatu tahap kealamian bahasa.
Pengkajian ini masih berkaitan dengan asal-usul bahasa.
Berikut adalah contoh tahap
manusia menemukan kebenaran bahasa.
1)
Bangsa Mesir menganggap bahwa bahasa pertama adalah
bahasa yang diturunkan oleh Tuhan pada Bangsanya. Percobaan ini dilakukan
dengan memasukan seorang bayi ke dalm sebuah bangunan tertutup. Bayi tersebut
diisolasi dari kehidupan sosial, dan yang terpenting jangan sampai bayi
tersebut mendengar bunyi bahasa. Setelah beberapa waktu bayi tersebut tinggal,
ia kemudian dibawa keluar dan kata pertama yang diucapkan bayi tersebut adalah
“becos” atau roti.
2)
Bangsa jepang mengatakan bahwa bahasa pertama dibawa
amaterazu sang dewa matahari.
3)
Bangsa cina mengatakan bahwa bahasa pertama dibawa oleh
kura-kura.
4)
Orang jerman mengatakan bahwa Tuhan memakai bahasa Swedia.
b.
Tahap Organic
Pada
tahap ini pengkajian bahasa sudah tidak melibatkan unsur ketuhanan dan
dewa-dewa, sehingga bahasa pada tahap ini digolongkan dalam objek kajian
filsafat.
c.
Tahap Modern
Kemunculan tahap modern ini,
diawali dengan lahienya buku Course “The Linguistic General” oleh Ferdinan De
Saussure dinamakan juga kajian linguistik karena sudah disebut studi ilmiah.
Pengkajian bahasa oleh Saussure menghasilkan suatu teori bahasa dan ciri dari
bahasa yang diposisikan sebagai objek pengkajian linguistik. Dari tiga tahap
pengkajian tersebut, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1)
Tahap device origin = dari mana bahasa berasal?
2)
Tahap organic = bagaimana manusia bisa berbahasa?
3)
Tahap modern = apa dan bagaimana bahasa itu?
B. ANTARA BAHASA DAN BUDAYA
Komunikasi selalu diiringi
oleh interpretasi yang di dalamnya terkandung makna. Dari sudut pandang wacana,
makna tidak pernah bersifat absolut; selalu ditentukan oleh berbagai konteks
yang selalu mengacu kepada tanda-tanda yang terdapat dalam kehidupan manusia
yang di dalamnya ada budaya.
Dalam analisis semantik, Abdul
Chaer mengatakan bahwa bahasa itu bersifat unik dan mempunyai hubungan yang
sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya, maka analisis suatu bahasa
hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat digunakan untuk menganalisis
bahasa lain.
BAB X
KONSEP RASIO DAN
RASA BAGI MANUSIA
Rasio dan rasa merupakan alat
yang di ciptakan Tuhan dalam diri manusia untuk memperhatikan dan mengetahui
alam semesta kebesaran Tuhan serta mengenal dirinya sendiri. Dengan kata lain
rasio dan rasa merupakan alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.
Ilmu rasio sering disebut
sebagai ilmu nomotetikal yang berlandaskan hukum sebab akibat (kausalitas).
Dalam nomotetikal segala sesuatu yang berwujud pasti ada penyebabnya.
Kuasilitas pada hakekatnya adalah ketaatan Tuhan tentang keperilakuan jagad
raya dan keperilakuan manusia.
Rasa dan istilah lain kalbu, memiliki
kemampuan dalam hal kreativitas yang merupakan keagaiban. Kreativitas inilah
yang merupakan pemula (intuisi) bagi segala bidang nalar, ilmu, etika dan
estetika. Rasa memiliki kemampuan afektif kemampuan untuk merasakan apa yang
diketahui oleh akal. Rasa tidak memiliki patokan, bersifat polar dan bekerja
diantara cinta dan benci, indah dan buruk, keagungan dan kelemahan. Rasa yang murni
akan merupakan media kontak antara manusia dengan tuhan.
Dalam memobolisir kemampuan
rasio dan rasa tersebut, dapat dibedakan beberapa golongan sebagai berikut:
A. IMPLIKASI KEKUATAN RASIO DAN RASA BAGI MANUSIA
Perbedaan
yang mencolok antara Filsafat Islam dan Filsafat Barat terletak pada rasio dan
rasa. Pada perjalanannya filsafat Islam mengedepankan Rasionalitas dan Perasaan
dalam berfikir, bertindak, dan mengeluarkan keputusan yang menyebabkan
terjadinya keseimbangan. Rasional sebagai hal yang dapat diterima oleh akal,
Perasaan sebagai kontrol dari akal atau ada nilai-nilai teologis yang
bersemayan.
Berdasarkan
perspektif penulis, wajah dunia dalam
konteks makro ditentukan oleh keputusan masyarakatnya dalam mengimplikasikan
kekuatan rasa dan rasio. Bagian dunia yang masyarakatnya menjadikan rasio
sebagai panglima memiliki wajah berbeda dengan bagian dunia yang masyarakatnya
menjadikan rasa sebagai panglima. Semnetara itu pada bagian lain terdapt
tampilan yang merupakan perpaduan antara keduanya. Tentang ketiga golongan
tersebut, masing-masing dijelaskan di bawaah ini.
1.
Rasio dalam
Kehidupan Manusia
Puncak perkembangan IPTEK
terjadi mulai awal abad 20 yang ditandai dengan munculnya Teori Relativitas
Einstein (1905). Teori ini menyatakan bahwa empat komponen mekanistis yakni
zat, gerak, ruang dan waktu (yang diasumsikan bersifat absolut oleh Newton)
merupakan sesuatu yang bersifat relatif.
Rasio seolah-olah menjadi
tumpuan dan harahap utama dalam pengembangan kehidupan manusia di dunia Barat
maupun dikalangan masyarakat lain yang berkiblat ke dunia Barat. Tahta kejayaan
rasio Barat mulai tergetar saat bom atom yang dianggap merupakan salah satu
“produk gemilang” IPTEK, menelan korban ratusan ribu jiwa manusia di Hiroshima
dan Nagasaki pada tahun 1945.
2.
Rasa dalam
Kehidupan Manusia
Selo Soemardjan dalam bukunya
“The Social Change in Rural Indonesiai”
menyatakan bahwa kultur masyarakat Timur umumnya bersifat sartgat mengagungkan harmoni yang tidak lain adalah bersumber
dari rasa menghargai dan rasa cinta. Keadaan ini menyebabkan menculnya suatu
masyarakat yang sangat menjunjung tinggi rasa kekeluargaan, kegotongroyongan,
kebersamaan, nilai-nilai adat serta nilai-nilai spiritual. Ciri semacam ini
banyak dijumpai pada sistem masyarakat pedesaan di negara-negara berkembang,
baik di Asia maupun Afrika.
Masyarakat yang menjunjung
tinggi rasa cinta dan harmoni umumnya dapat bertahan dalam kondisi tenteram,
jauh dari konflik, serta memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alat dan
Penciptanya. Namun demikian, dalam perkembangan selanjutnya terlihat bahwa
masyarakat yang mengandalkan rasa cenderung selalu tertinggal dibanding dengan
masyarakat yang mengandalkan rasio.
3.
Keseimbangan
Rasio dan Rasa dalam Kehidupan Manusia
Rasio dan rasa tidak dapat
berjalan dengan sendiri-sendiri dalam penyelesaian masalah kehidupan manusia
atau dalam pencapaian keberhasilan atau kesuksesan hidup. Bila masing-masing
berjalan sendiri maka kegagalan pasti terjadi. Keseimbangan rasio dan rasa akan
memberikan arah yang benar dan pencapaian hasil optimal, apabila rasa dituntun
oleh Wahyu Tuhan melalui ajaran agama. Kita perlu terus belajar dari pengalaman
perjalanan rasio dan rasa di masa lalu, dan terus belajar menumbuhkan sinergi
antara rasio dan rasa, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa, agar dapat
selamat menapaki kehidupan di era global.
BAB III
PEMBAHASAN BUKU/KRITISI BUKU
3.1
STRUKTUR BUKU
Buku
karangan Muhammad Surip berjudul Filsafat Ilmu Pengembang Wawasan Keilmuan
dalam Berpikir Kristis ini menggunakan cover yang menarik dan gambaran ilustrasi yang
mereflesikan judul maupun isi buku. Halaman sampul ditulis sangat sederhana,
tidak banyak tulisan di sampul depan dan di bagian sampul belakang hanya memuat
judul buku dan sinopsis buku dan identitas penerbit buku. Di halaman pertama
hanya memuat judul buku yang sebenarnya tidak terlalu perlu. Halaman kedua
memuat judul buku, pengarang buku dan penerbit buku. Dan di halaman selanjutnya
memuat identitas buku secara lengkap yang meliputi judul, penulis, hak cipta,
penerbit, dan distributor.
Buku ini memuat kata pengantar
kemudian di ikuti daftar isi yang mudah dibaca. Sebelum memasuki pembahasan bab
1 di berikan halaman kosong sebagai penanda pemisah daftar isi dengan
pembahasan buku. Buku menggunakan huruf yang besar pada tiap bab. Buku ini
terdiri dari 9 bab yang tiap babnya memliki beberapa bab. Daftar pustaka buku
ini memiliki banyak refrensi yang menggunakan jenis penulisan apa style.
Buku
karangan Harold Titus dkk yg berjudul Persoalan-Persoalan Filsafat, memuat cover
yang menarik dengan sedikit kombinasi warna dan diberikan gambar ilustrasi
untuk mempercantik buku, sampul belakang tidak berikan sinopsis tentang buku
tersebut. Halaman pertama hanya memuat judul yang tidak terlalu diperlukan. Di
halaman selanjutnya memuat pengarang, judul buku, penerjemah buku, dan penerbit
buku. Kemudian di sajikan identitas buku secara rinci tetapi tidak memuat
undang-undang tentang hak cipta. Terdapat filosof-filosof yang termuat dalam
buku dan tahun eksis para filsuf tersebut. Dalam daftar isi tidak diberikan
nomor halaman pada setiap sub bab, sehingga sulit untuk mencari materi buku
secara cepat. Buku ini juga memuat sumber-sumber foto. Buku persoalan-persoalan
filsafat terdiri dari 20 bab yang dibagi ke dalam 5 bagian besar. Terdapat
pendahuluan, tidak terdapat pertanyaan dalam buku. Buku ini terdiri dari 256
halaman, dan dibagian akhir terdapat indeks buku. Dalam buku ini terdapat
daftar kata-kata yang memuat istilah asing sekaligus memuat daftar pustaka.
Buku Titus menggunakan ukuran huruf yang kecil dan padat sehingga sulit untuk
dibaca.
4.2 KATA PENGANTAR DAN PENDAHULUAN BUKU
Buku filsafat ilmu karangan Muhammad surip memuat
kata pengantar tapi tidak memuat pendahuluan pada buku ini. Kata pengantar buku
karangan Surip menjelaskan sedikti pesan tekait filsafat . Sementara buku
persoalan filsafat karangan Titus memuat kata pengantar dan pendahuluan. Kata
pengantar buku ini sedikit banyaknya memuat pesan sebagai arahan bagi pembaca
untuk menguasai isi bacaan. Buku ini juga mengandung kata pengantar yang baik
karena menjelaskan perbaikan perbaikan atas kesalahan dan atau kekurangan buku
pada edisi sebelumnya.
4.3 ISI KONSEP DAN CONTOH-CONTOH
Buku filsafat ilmu karangan Muhammad Surip memuat
banyak filosof-filosof namun tidak menjelaskan dengan gambar sebagaimana buku
persoalan-persoalan filsafat karangan Titus memuat begitu banyak gambar tokoh
filsafat.
Secara isi kedua buku memuat konsep dasar filsafat.
Buku Muhammad Surip pada bab 2 membahas tentang filsafat dan sains demikian
pula buku Titus membahas sains dan filsafat pada bab 12 dengan pembahasan yang
lebih luas. Buku Muhammad Surip membahas filsafat pendidikan sementara buku
Titus tidak demikian.
Buku Muhammad Surip membahas manusia pada bab yang
berlaianan atau terpisah sementara buku Titus manusia secara keseluruhan pada
satu bagian. Aliran filsafat pada buku Surip tidak disatukan dalam satu
pembahasan melainkan terpisah-pisah. Tidak demikian pada buku Titus yang
mengklasifikasikan pandangan-pandangan dalam filsafat dalam satu bagian besar.
Namun demikian pembahasan tentang aliran filsafat lebih lengkap dan bervariasi.
Glosarium
Dilihat dari segi struktur, terdapat beberapa
perbedaan dari kedua buku yang dikritisi atau dibandingkan salah satunya pada
bagian Indeks atau Glosarium. Indeks memuat istilah istilah penting yang terdapat
pada buku yang tersusun secara alfabetis. Indeks sebaiknya dibuat untuk buku
yang memuat banyak istilah serapan,
istilah asing, tokoh penting ataupun kata kata kunci yang penting. Buku
karangan Surip tidak memuat daftar indeks. Sementara buku karangan Titus dkk
memuat Glosarium atau daftar indeks yang ditempatkan di bagian belakang buku.
Pertanyaan
Dalam sebuah buku yang bersifat pengetahuan ada
kecenderungan memberikan soal-soal sebagai benntuk latihan bagi pembaca. Namun
hal tersebut bukanlah sebuah keharusan. Buku Surip maupun Titus tidak memuat
pertanyaan baik tiap bab ataupun seluruh buku sebab kedua buku ini merupakan
panduan bacaan atau modul untuk belajar tetapi tidak diperuntukkan bagi
kalangan pelajar, namun lebih kepada pembaca secara umum.
Setelah melakukan perbandingan kedua buku maka
dapat disimpulkan bahwa
a.
Buku karangan Muhammad Surip lebih menarik apabila
dilihat dari segi desain sampul dan lebih sederhana kalimat maupun
penulisannya.
b.
Buku karangan Muhammad Surip memberikan daftar isi yang
jauh lebih mudah dibaca dibandingkan buku pembanding.
c.
Buku karangan Muhammad Surip lebih baik dalam hal cara
penulisan karena menggunakan ukuran font yang besar dan jenis huruf yang lebih
variatif.
d.
Buku karangan Muhammad Surip menggunakan lebih banyak
referensi dalam penyusunannya sehingga isi bacaan juga lebih reliabel
e.
Buku karangan Muhammad Surip lebih tipis dan ringan jika
dibandingkan dengan buku pembanding
f.
Buku karangan Titus dkk lebih unggul karena memuat daftar
filsuf dan tokoh filsafat yang mana mempermudah pembaca mengatahui tokoh
filsafat.
g.
Buku karangan Titus dkk memuat sumber foto yang dapat
menegaskan posisi originalitas penulisan
dan izin pemakain gambar.
h.
Buku karangan Titus dkk membagi bacaan menjadi bagian
bagian besar yang disatukan menurut kesamaan topik bahasan yang mempermudah
pembaca mempelajari satu aspek pembelajaran secara runtut.
i.
Buku karangan Titus dkk memuat banyak catatan kaki dan
lebih unggul dalam penyajian tokoh filsafat.
j.
Buku Titus cenderung sulit dibaca karena terdapat
selingan berupa biografi tokoh diantara isi bacaan.
k.
Buku Titus memuat glosarium dan daftar kata-kata atau
kamus tentang istilah istilah yang
memiliki arti khusus.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Buku karangan
Muhammad Surip dari segi konten dan tampilan lebih segar dan lebih baru karena
tahun terbit yang lebih baru serta cara penulisan yang lebih menarik karena
kombinasi berbagai jenis huruf hanya saja buku ini minus Indeks. Sedangkan baku
karangan Titus lebih uggul karena pengklasifikasian materi bacaan menjadi
bagian-bagian besar dan pemberian indeks, kamus, serta catatan kaki.
4.2 Saran
Kedua buku
sama-sama memiliki kelemahan, baik dari segi tampilan maupun struktur peulisan,
untuk itu disarankan untuk melakukan perbaikan dalam penccetakan edisi
selanjutnya. Buku yang ada memiliki segmen pembaca yang berbeda, untuk itu
kelebihan yang ada pada buku harus ditingkatkan dan sebaliknya kelemahan harus
diminimalisir sehingga dapat merangkul pembaca secara multi segmen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar