Jemariku merasakan betapa menyakitkan pijatan dari langit sore ini.
Sesekali kusembunyikan jariku bergantian. Tak kuasa menahan besarnya
bulir yang datang. Sengatan si merah juga membuat nyaliku ciut. Aku
berkejar-kejaran dengan gemuruh.
Kualihkan pandangan ku dari
sorotan tajam takjil yang tersusun rapi dalam steling rupa-rupa itu.
Rasa lapar ku musnah. Dahaga seluruh insan tlah terobati.
Kufokuskan
arah pandangku jauh ke depan. Berharap tak akan lama lagi bulir air itu
menerpa jemariku yang telanjang. Jalanan penuh sesak. Air mulai
memenuhi badan jalan. Kupercepat laju arah. Sambil sesekali menoleh ke
segala arah, memastikan diriku aman dengan laju yang tak lagi beraturan.
Air semakin meninggi. Aku mulai khawatir si hitam akan menyerah sambil mulutku bergumam meyakinkan dia mampu bertahan.
Ya dia bertahan hingga tiba aku di tujuan. Membawaku pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar