Rabu, 08 April 2020

PERASAAN YANG KUPUNYA HANYA PANTAS UNTUK SEBUAH CERITA



PERASAAN YANG KUPUNYA HANYA PANTAS UNTUK SEBUAH CERITA

Dita........”
Feli membangunkanku dari khayalan.
"Kenapa? Ada yang salah?"tanyaku.
"Bisa tidak kamu hentikan kalimat-kalimat aneh itu!"
"Aneh katamu? Kayak bukan anak sastra aja deh kamu, Fel"
"Ya, aneh" jawab Feli dengan wajah muram.

Feli tak pernah suka dengan jimat puitisku itu. Kata-kata puitis itu dianggapnya mantra yang tak pernah ada artinya. Padahal dia tidak tau berapa lama aku mempelajari kalimat-kalimat itu.
"Fel, kayaknya aku gak kuliah hari ini. Perutku lagi gak enak. Mungkin karna mi instan tadi malam"
"Sakit perut. Ujung-ujungnya bolos kuliah. Alasan klasik."
"Beneran sakit Fel" jawabku meyakinkan Feli.
"Dari subuh kamu asyik dengan kalimat-kalimat  jimatmu itu, gak ada ngeluh sakit. Kenapa sekarang  jadi sakit?"tanya Feli penuh selidik.
"Tau nih. Mulesnya gak karu-karuan"
"Gak. Gada bolos-bolosan hari ini. Kita ada kuliah penting. Lagian mata kuliah Pak Bono kan digabung sama anak kelas B.

Upsssss...

         Aku langsung beranjak dari ranjang. Aku baru ingat. Ryan ada di kelas kami hari ini. Persis seperti janji Pak Bono. Kelas A dan B dalam sebuah ruang kuliah.
"Eitsss, aku yang mandi duluan."ucap Feli.
"Aku."
"Kenapa? Kamu kan lagi malas-malasan. Kenapa tiba-tiba ngerasa sembuh?" tegas Feli

Aku punya pribadi yang aneh. Ada ultimatum tertentu yang buat hidupku bisa berubah tiba-tiba. Selain kalimat-kalimat puitis, pria juga bisa mengubah sakitku hanya dalam hitungan detik.

"Mana anak kelas B nya Fel?"tanyaku.
"Ya sabar. Ini kan masih kepagian."

Akhirnya dia yang kutunggu datang  juga dan pak dosen mengikuti langkahnya dari belakang.
Wah, dia manis sekali......
Kelas dimulai. Dosen galak itu tak memberi ruang buatku untuk memandang Ryan dari kejauhan.
Aku hanya ingin kelas ini cepat selesai. Berharap terselip waktu untuk lihat dia dari dekat. Itu saja. Tapi harapanku musnah. Ia melangkah bersama Pak Bono. (Ada apa ini? Kenapa mereka saling membuntuti?)
Hanya ingin lihat dia dari dekat pun tak bisa.
"Ayo otakku, mikir!"gumamku.
"Dita?"
"Ya. Enggak...enggak... gak ada apa-apa..."

Kuraih tangan Feli dan berlari ke arah Ryan dan pak Bono.

"Pak, penjelasan Bapak tadi belum saya mengerti. Bapak punya waktu untuk menjelaskan sama saya Pak?"arah pandangku tertuju pada Ryan.
"Oh...bagus sekali. Tak banyak mahasiswa saya yang mau diskusi dengan saya. Silakan. Saya ada di ruang dosen saat istirahat nanti. Saya tunggu kamu. Siapa nama kamu?"
"Dita Pak."kutelan air liur tanda setuju dengan diskusi dadakan itu.

Mata kuliah kedua jadi teramat membosankan. Biasanya aku menyukai topik filsafat dari bapak berkumis tipis dengan senyumannya yang manis ini. Kali ini, khayalan tentang Ryan yang paling menguasai akal sehatku. Ingin rasanya keluar dari ruangan ini.
Jatah 2 mata kuliah sudah tuntas. Yang kulakukan biasanya adalah duduk di pelataran kampus. Bermain-main dengan pena dan mulai merangkai kata. Tapi tiba-tiba aku tersentak karna suara Feli.
"Dit, ingat janjimu!"
"Janji? (mencoba mengingat kembali), astagaaa Pak Bono."
"Okey aku gak punya waktu untuk menunggu. Silakan bersenang-senang!" Feli melambaikan tangan bernada meledek ke arahku.

Harusnya janji itu tak pernah ada. Semua itu terjadi tiba-tiba. Ya, karena ingin melihat Ryan dari dekat. Kukira hariku akan membaik setelah ceramah filsafat tadi. Kusiapkan pertanyaanku sembari melangkah ke ruang dosen.
Kumulai mengintip dari jendela. Perlahan. Memastikan si bapak kepala plontos itu ada di sana. Tepat. Dia menunggu janji yang kubuat secara mendadak. Aku menunduk masuk lalu duduk di depan meja Pak Bono

"Maaf saya mengganggu bapak!"
"Ohh tidak masalah. Saya punya banyak waktu"
"Banyak???? Mampus aku"

Aku cuma punya 1 pertanyaan. Apa dia akan ceramah sampai 1 jam? Kupalingkan mukaku darinya.
"Kenapa?
"Ohh bukan Pak" jawabku sambil melirik ke arahnya kembali.

Apa?? Ryan ada tepat di samping Pak Bono.  Wajah muramku merasa terpesona dengan pemandangan itu. Senyumnya merayu. Tak mau melewatkan momen terlalu cepat, pertanyaanku bertambah jadi 3.
Ryan teramat asyik dengan tulisannya. Tak sedikitpun pandangannya berpindah ke sekitar. Ahh, dia sungguh tak bersahabat. Aku butuh senyum itu lagi.
Ayolah Ryan! Setelah ini aku akan beranjak pulang, gumamku dalam hati.
Tak sedikitpun penjelasan Pak Bono yang tertinggal di memoriku. Otak, mata, dan tanganku tak sinkron lagi. Perlahan kulepas jam tanganku. Di akhir ceramah Pak Bono, aku iseng tanyakan jam pada Ryan untuk sebuah alasan palsu mengembalikan buku ke perpustakaan. Dia menjawabnya dengan senyum tipis. Alangkah lucunya aku dengan semua kekonyolan yang tercipta hari ini.
Sudah waktunya keluar dari ruang kekacauan itu. Benar-benar di luar dugaan. Setelah menutup pintu, aku berlari tak beraturan menuju Feli. Nyatanya dia tak kutemui di sana. Kupakaikan kembali arlojiku sebab dia tak bisa lepas dari pergelangan tangan mungilku ini.

Langkahku terhuyung menuju rumah kos
"Kenapa begitu lama Dit?"
"Kamu tau beliau kan?"aku balik bertanya untuk memastikan kalau aku baru saja selesai dengan ceramah-ceramah kuno itu.
"Feli, ada sesuatu yang pastinya di luar dugaanmu."
"Apa? Pak Bono kasih nilai tambahan? Atau malah jadiin kamu sekretaris pribadinya? Atau ada kontrak privat? Apa Ta?"desaknya.
"Bukan. Bukan semua itu. Dan harus kamu tau, Ryan ada di situ. Di meja yang sama dengan kami. Kebayang gak rasanya ada di situ?"
"Enggak."
"Feliiiii"

Feli nggak pernah mau tau rasanya mengagumi seseorang. Benar-benar indah dan bikin hari-hari makin mudah. Nanti juga dia bakal alami hal yang sama atau bahkan lebih heboh dariku. Ah...lupakan saja. Ini kisahku. Aku yang bertanggung jawab sepenuhnya. Biarkan Feli bertanya kalau dia mau. Mungkin saja dia nggak mood hari ini.
*******
Pagi ini cuaca lagi tak mendukung. Dari subuh hujan udah turun. Menciptakan gejolak kemalasan untuk beranjak ke kampus. Tapi Feli dengan sabarnya membujuk-bujukku untuk bangun. Dia memang sahabat dan teman sekamar yang baik.
Kusiapkan payung andalanku. Seingatku mama yang membelikannya. Ya dia memberangkatkanku bersama payung merah muda itu. Cuaca sedingin ini harusnya ada di weekend besok. Biar bisa malas-malasan di kasur. Tapi dia terlanjur datang membasahi jumat yang harusnya cerah karna hari ini perkuliahan favoritku.
Kelas masih sepi. Pasti anak-anak yang lain masih bergelayut mimpi. Aku dan Feli memilih duduk di depan kelas. Feli lebih suka bermain-main dengan ponselnya. Satu-satunya teman yang tak mau melewatkan kolom komentar. Bertaruh dengan waktu mengikuti setiap info mulai dari yang penting, lumayan penting sampai yang tak punya faedah. Rasa ngantukku masih sulit terkalahkan. Kursi kayu ini beraroma kasur. Mengajakku beradu bersama guling. Kusenderkan kepalaku ke bahu Feli. Memejamkan mata walau sesaat akan membayar ngantuk yang tersisa.

"Yuk Dit, kita masuk aja. Anak-anak udah pada rame" ucap Feli menyentak tidurku.
Ku kucek mataku pelan sambil melangkah masuk mengikuti Feli dan kami memilih duduk dekat pintu.
Pak dosen pun masuk. Kupandang ke sekeliling. Kali ini kelas sudah terlihat rame. Mataku tertuju ke segala arah. Kupastikan pandanganku nggak salah. Ada Ryan di pojokan kelas.
"Kelasnya gabung ya Dit?"tanya Feli.
Aku nggak punya jawaban untuk itu. Tapi mungkin aja kami berdua gak dengar pengumuman dari Pak Sandry.
"Saya mau umumkan pemenang lomba karya tulis antar mahasiswa bulan lalu. Kelas ini sengaja saya gabung. Biar pengumumannya bisa sekaligus. Karna pemenangnya ada di dua kelas ini."
Nggak yakin sih bisa menang, tapi semoga aja artikelku masuk dalam daftar pilihan terbaik.
"Sebenarnya saya berharap ada tulisan yang lebih cemerlang. Tapi untuk mahasiswa baru, karya kalian cukup memuaskan.  Jadi yang bapak pilih ini sudah saya pertimbangkan baik-baik. Untuk karya terbaik ketiga jatuh kepada kelas B atas nama Reina."

Riuh tepuk tangan membahana. Reina berhasil unjuk kemampuan bersastranya. Mengalahkan puluhan karya yang lain.
"Di posisi kedua..."beliau menahan kalimat cukup lama.
"Masih di nominasi oleh mahasiswa wanita. Berasal dari kelas A atas nama Dita."
Pak Sandry menghentikan kalimatnya. Semua orang menoleh ke arahku. Seakan ada yang salah dengan capaian itu. Ada yang menganggap ini mengagumkan dan tak sedikit yang nyinyir mempertanyakan kualitas sastraku. Meskipun semua tulisanku berkutat pada kisah teman yang sering curhat padaku.

"Dan saya memilih Ryan jadi pemegang peringkat pertama karna tulisannya yang natural dan kata-kata yang halus"lanjutnya.
Semua orang bertepuk tangan. Euforia kelas pun bertambah riuh. Kami bertiga maju ke depan. Pak Sandry menjanjikan akan memberi hadiah bagi pemenang dan kami mendapatkannya. Prestasi awal di semester awal. Tak pernah menduga akan sehebat ini.  Kami berdiri sejajar  jadi aku tak punya banyak waktu untuk memandang senyuman Ryan. Momen bersalaman yang kami punya hanya 3 detik.
Kulayangkan senyumku pada Feli. Tak terlihat raut wajahnya iri. Feli selalu tersenyum apapun yang terjadi.
Kubuka lembaran pertama buku itu. Tanda tangan Pak Sandry melengkapi kebahagiaanku. Pak Sandry lalu melanjutkan topik kuliah hingga selesai di jam 10.00 WIB.

"Dit, gimana rasanya?"
"Rasa apa?"
"Salaman sama Ryan."
 Aku jawab dengan senyuman saja. Mencoba mengingat-ingat kembali peristiwa itu.
"Nggak salah ya kamu idolain Ryan. Ternyata dia pintar. Cocok dong"
"Cocok apanya?"tanyaku sambil tersipu.

Cepat-cepat kami melangkah ke ruang kuliah kedua. Melewati ruang dosen.  Aku melihat Ryan dan Pak Bono sedang ngobrol.
"Aku dapat hadiah dari Pak Sandry pah."ucap Ryan.
"Bagus dong. Belajar lebih giat lagi ya nak!"

Percakapan singkat itu menyiratkan sebuah simpulan yang cukup meyakinkan kami kalau pak dosen killer itu ayahnya Ryan. Andai kenyataannya tak seperti itu, petualangan cintaku pasti akan berlanjut. Namun kini kuurungkan niatku setelah tau faktanya.
“Masa iya aku harus curi perhatian Pak Bono terus supaya bisa dekat dengan Ryan?”
"Kok mereka gak mirip ya Dit?"tanya Feli
"Iya. Gak mirip sama sekali" tambahku menegaskan.

Kuakhiri hari ini dengan pertanyaan seputar Ryan. Kuputuskan untuk menjalani hari-hari sebagaimana adanya aku. Orang sederhana yang punya impian tinggi. Mana mungkin Ryan kagum padaku dengan penampilanku yang seadanya ini? Orang tuanya pasti punya ekspektasi yang tinggi pada anaknya. Aku menyadari keadaanku. Membiarkan semuanya masuk dalam cerita pendek yang selalu kubuat di sela kesibukanku. Ryan tetaplah Ryan. Anak seorang dosen. Dan aku hanya seorang gadis dari kalangan biasa. Dan aku harus melanjutkan bakat menulisku tanpa mengacaukan perasaanku.


Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar