PERASAAN
YANG KUPUNYA HANYA PANTAS UNTUK SEBUAH CERITA
“Dita........”
Feli
membangunkanku dari khayalan.
"Kenapa? Ada yang salah?"tanyaku.
"Bisa tidak kamu hentikan kalimat-kalimat aneh itu!"
"Aneh katamu? Kayak bukan anak sastra aja deh kamu, Fel"
"Ya, aneh" jawab Feli dengan wajah muram.
"Kenapa? Ada yang salah?"tanyaku.
"Bisa tidak kamu hentikan kalimat-kalimat aneh itu!"
"Aneh katamu? Kayak bukan anak sastra aja deh kamu, Fel"
"Ya, aneh" jawab Feli dengan wajah muram.
Feli tak pernah
suka dengan jimat puitisku itu. Kata-kata puitis itu dianggapnya mantra yang
tak pernah ada artinya. Padahal dia tidak tau berapa lama aku mempelajari
kalimat-kalimat itu.
"Fel,
kayaknya aku gak kuliah hari ini. Perutku lagi gak enak. Mungkin karna mi
instan tadi malam"
"Sakit
perut. Ujung-ujungnya bolos kuliah. Alasan klasik."
"Beneran sakit Fel" jawabku meyakinkan Feli.
"Dari subuh kamu asyik dengan kalimat-kalimat jimatmu itu, gak ada ngeluh sakit. Kenapa
sekarang jadi sakit?"tanya Feli
penuh selidik.
"Tau nih. Mulesnya gak karu-karuan"
"Gak. Gada bolos-bolosan hari ini. Kita ada kuliah
penting. Lagian mata kuliah Pak Bono kan digabung sama anak kelas B.
Upsssss...
Aku langsung beranjak dari ranjang. Aku baru ingat. Ryan ada di kelas kami hari ini. Persis seperti janji Pak Bono. Kelas A dan B dalam sebuah ruang kuliah.
"Eitsss, aku yang mandi duluan."ucap Feli.
"Aku."
"Kenapa? Kamu kan lagi malas-malasan. Kenapa tiba-tiba ngerasa sembuh?" tegas Feli
Aku punya pribadi yang aneh. Ada ultimatum tertentu yang
buat hidupku bisa berubah tiba-tiba. Selain kalimat-kalimat puitis, pria juga
bisa mengubah sakitku hanya dalam hitungan detik.
"Mana
anak kelas B nya Fel?"tanyaku.
"Ya sabar. Ini kan masih kepagian."
"Ya sabar. Ini kan masih kepagian."
Akhirnya dia yang kutunggu datang juga dan pak dosen mengikuti langkahnya dari
belakang.
Wah,
dia manis sekali......
Kelas
dimulai. Dosen galak itu tak memberi ruang buatku untuk memandang Ryan dari
kejauhan.
Aku hanya ingin kelas ini cepat selesai. Berharap terselip waktu untuk lihat dia dari dekat. Itu saja. Tapi harapanku musnah. Ia melangkah bersama Pak Bono. (Ada apa ini? Kenapa mereka saling membuntuti?)
Hanya ingin lihat dia dari dekat pun tak bisa.
"Ayo otakku, mikir!"gumamku.
"Dita?"
"Ya. Enggak...enggak... gak ada apa-apa..."
Aku hanya ingin kelas ini cepat selesai. Berharap terselip waktu untuk lihat dia dari dekat. Itu saja. Tapi harapanku musnah. Ia melangkah bersama Pak Bono. (Ada apa ini? Kenapa mereka saling membuntuti?)
Hanya ingin lihat dia dari dekat pun tak bisa.
"Ayo otakku, mikir!"gumamku.
"Dita?"
"Ya. Enggak...enggak... gak ada apa-apa..."
Kuraih
tangan Feli dan berlari ke arah Ryan dan pak Bono.
"Pak, penjelasan Bapak tadi belum saya mengerti. Bapak punya waktu untuk menjelaskan sama saya Pak?"arah pandangku tertuju pada Ryan.
"Oh...bagus sekali. Tak banyak
mahasiswa saya yang mau diskusi dengan saya. Silakan. Saya ada di ruang dosen
saat istirahat nanti. Saya tunggu kamu. Siapa nama kamu?"
"Dita Pak."kutelan air
liur tanda setuju dengan diskusi dadakan itu.
Mata
kuliah kedua jadi teramat membosankan. Biasanya aku menyukai topik filsafat
dari bapak berkumis tipis dengan senyumannya yang manis ini. Kali ini, khayalan
tentang Ryan yang paling menguasai akal sehatku. Ingin rasanya keluar dari
ruangan ini.
Jatah 2
mata kuliah sudah tuntas. Yang kulakukan biasanya adalah duduk di pelataran
kampus. Bermain-main dengan pena dan mulai merangkai kata. Tapi tiba-tiba aku tersentak
karna suara Feli.
"Dit,
ingat janjimu!"
"Janji?
(mencoba mengingat kembali), astagaaa Pak Bono."
"Okey aku gak punya waktu untuk
menunggu. Silakan bersenang-senang!" Feli
melambaikan tangan bernada meledek ke arahku.
Harusnya
janji itu tak pernah ada. Semua itu terjadi tiba-tiba. Ya, karena ingin melihat
Ryan dari dekat. Kukira hariku akan membaik setelah ceramah filsafat tadi.
Kusiapkan pertanyaanku sembari melangkah ke ruang dosen.
Kumulai mengintip dari jendela.
Perlahan. Memastikan si bapak kepala plontos itu ada di sana. Tepat. Dia
menunggu janji yang kubuat secara mendadak. Aku menunduk masuk lalu duduk di
depan meja Pak Bono
"Maaf saya mengganggu bapak!"
"Ohh
tidak masalah. Saya punya banyak waktu"
"Banyak????
Mampus aku"
Aku cuma punya 1 pertanyaan. Apa dia
akan ceramah sampai 1 jam? Kupalingkan
mukaku darinya.
"Kenapa?
"Ohh bukan Pak" jawabku sambil melirik ke arahnya kembali.
Apa?? Ryan ada tepat di samping Pak Bono. Wajah muramku merasa terpesona dengan pemandangan itu. Senyumnya merayu. Tak mau melewatkan momen terlalu cepat, pertanyaanku bertambah jadi 3.
"Kenapa?
"Ohh bukan Pak" jawabku sambil melirik ke arahnya kembali.
Apa?? Ryan ada tepat di samping Pak Bono. Wajah muramku merasa terpesona dengan pemandangan itu. Senyumnya merayu. Tak mau melewatkan momen terlalu cepat, pertanyaanku bertambah jadi 3.
Ryan teramat asyik dengan
tulisannya. Tak sedikitpun pandangannya berpindah ke sekitar. Ahh, dia sungguh
tak bersahabat. Aku butuh senyum itu lagi.
Ayolah
Ryan! Setelah ini aku akan beranjak pulang, gumamku dalam hati.
Tak
sedikitpun penjelasan Pak Bono yang tertinggal di memoriku. Otak, mata, dan
tanganku tak sinkron lagi. Perlahan kulepas jam tanganku. Di akhir ceramah Pak
Bono, aku iseng tanyakan jam pada Ryan untuk sebuah alasan palsu mengembalikan
buku ke perpustakaan. Dia menjawabnya dengan senyum tipis. Alangkah lucunya aku
dengan semua kekonyolan yang tercipta hari ini.
Sudah
waktunya keluar dari ruang kekacauan itu. Benar-benar di luar dugaan. Setelah
menutup pintu, aku berlari tak beraturan menuju Feli. Nyatanya dia tak kutemui
di sana. Kupakaikan kembali arlojiku sebab dia tak bisa lepas dari pergelangan
tangan mungilku ini.
Langkahku terhuyung menuju rumah kos
"Kenapa
begitu lama Dit?"
"Kamu tau beliau kan?"aku balik bertanya untuk memastikan kalau aku baru saja selesai dengan ceramah-ceramah kuno itu.
"Feli, ada sesuatu yang pastinya di luar dugaanmu."
"Apa? Pak Bono kasih nilai tambahan? Atau malah jadiin kamu sekretaris pribadinya? Atau ada kontrak privat? Apa Ta?"desaknya.
"Bukan. Bukan semua itu. Dan harus kamu tau, Ryan ada di situ. Di meja yang sama dengan kami. Kebayang gak rasanya ada di situ?"
"Enggak."
"Feliiiii"
"Kamu tau beliau kan?"aku balik bertanya untuk memastikan kalau aku baru saja selesai dengan ceramah-ceramah kuno itu.
"Feli, ada sesuatu yang pastinya di luar dugaanmu."
"Apa? Pak Bono kasih nilai tambahan? Atau malah jadiin kamu sekretaris pribadinya? Atau ada kontrak privat? Apa Ta?"desaknya.
"Bukan. Bukan semua itu. Dan harus kamu tau, Ryan ada di situ. Di meja yang sama dengan kami. Kebayang gak rasanya ada di situ?"
"Enggak."
"Feliiiii"
Feli nggak
pernah mau tau rasanya mengagumi seseorang. Benar-benar indah dan bikin
hari-hari makin mudah. Nanti juga dia bakal alami hal yang sama atau bahkan
lebih heboh dariku. Ah...lupakan saja. Ini kisahku. Aku yang bertanggung jawab
sepenuhnya. Biarkan Feli bertanya kalau dia mau. Mungkin saja dia nggak mood
hari ini.
*******
Pagi ini
cuaca lagi tak mendukung. Dari subuh hujan udah turun. Menciptakan gejolak
kemalasan untuk beranjak ke kampus. Tapi Feli dengan sabarnya membujuk-bujukku
untuk bangun. Dia memang sahabat dan teman sekamar yang baik.
Kusiapkan payung
andalanku. Seingatku mama yang membelikannya. Ya dia memberangkatkanku bersama
payung merah muda itu. Cuaca sedingin ini harusnya ada di weekend besok. Biar
bisa malas-malasan di kasur. Tapi dia terlanjur datang membasahi jumat yang
harusnya cerah karna hari ini perkuliahan favoritku.
Kelas
masih sepi. Pasti anak-anak yang lain masih bergelayut mimpi. Aku dan Feli
memilih duduk di depan kelas. Feli lebih suka bermain-main dengan ponselnya.
Satu-satunya teman yang tak mau melewatkan kolom komentar. Bertaruh dengan waktu
mengikuti setiap info mulai dari yang penting, lumayan penting sampai yang tak
punya faedah. Rasa ngantukku masih sulit terkalahkan. Kursi kayu ini beraroma
kasur. Mengajakku beradu bersama guling. Kusenderkan kepalaku ke bahu Feli.
Memejamkan mata walau sesaat akan membayar ngantuk yang tersisa.
"Yuk Dit, kita masuk aja. Anak-anak udah pada rame" ucap Feli menyentak tidurku.
Ku kucek mataku pelan sambil melangkah masuk mengikuti Feli dan kami memilih duduk dekat pintu.
Pak dosen
pun masuk. Kupandang ke sekeliling. Kali ini kelas sudah terlihat rame. Mataku
tertuju ke segala arah. Kupastikan pandanganku nggak salah. Ada Ryan di pojokan
kelas.
"Kelasnya gabung ya
Dit?"tanya Feli.
Aku nggak punya jawaban untuk itu. Tapi
mungkin aja kami berdua gak dengar pengumuman dari Pak Sandry.
"Saya mau umumkan pemenang
lomba karya tulis antar mahasiswa bulan lalu. Kelas ini sengaja saya gabung.
Biar pengumumannya bisa sekaligus. Karna pemenangnya ada di dua kelas
ini."
Nggak yakin sih bisa menang, tapi
semoga aja artikelku masuk dalam daftar pilihan terbaik.
"Sebenarnya saya berharap ada
tulisan yang lebih cemerlang. Tapi untuk mahasiswa baru, karya kalian cukup
memuaskan. Jadi yang bapak pilih ini
sudah saya pertimbangkan baik-baik. Untuk karya terbaik ketiga jatuh kepada
kelas B atas nama Reina."
Riuh tepuk tangan membahana. Reina berhasil unjuk kemampuan bersastranya. Mengalahkan puluhan karya yang lain.
"Di
posisi kedua..."beliau menahan kalimat cukup lama.
"Masih
di nominasi oleh mahasiswa wanita. Berasal dari kelas A atas nama Dita."
Pak Sandry menghentikan kalimatnya.
Semua orang menoleh ke arahku. Seakan ada yang salah dengan capaian itu. Ada
yang menganggap ini mengagumkan dan tak sedikit yang nyinyir mempertanyakan
kualitas sastraku. Meskipun semua tulisanku berkutat pada kisah teman yang
sering curhat padaku.
"Dan saya memilih Ryan jadi
pemegang peringkat pertama karna tulisannya yang natural dan kata-kata yang
halus"lanjutnya.
Semua
orang bertepuk tangan. Euforia kelas pun bertambah riuh. Kami bertiga maju ke
depan. Pak Sandry menjanjikan akan memberi hadiah bagi pemenang dan kami
mendapatkannya. Prestasi awal di semester awal. Tak pernah menduga akan sehebat
ini. Kami berdiri sejajar jadi aku
tak punya banyak waktu untuk memandang senyuman Ryan. Momen bersalaman yang
kami punya hanya 3 detik.
Kulayangkan senyumku pada Feli. Tak terlihat raut wajahnya
iri. Feli selalu tersenyum apapun yang terjadi.
Kubuka lembaran pertama buku itu. Tanda tangan Pak Sandry melengkapi kebahagiaanku. Pak Sandry lalu melanjutkan topik kuliah hingga selesai di jam 10.00 WIB.
"Dit, gimana rasanya?"
"Rasa apa?"
"Salaman sama Ryan."
Aku jawab dengan senyuman saja. Mencoba mengingat-ingat kembali peristiwa itu.
"Nggak salah ya kamu idolain Ryan. Ternyata dia pintar. Cocok dong"
"Cocok apanya?"tanyaku sambil tersipu.
Kubuka lembaran pertama buku itu. Tanda tangan Pak Sandry melengkapi kebahagiaanku. Pak Sandry lalu melanjutkan topik kuliah hingga selesai di jam 10.00 WIB.
"Dit, gimana rasanya?"
"Rasa apa?"
"Salaman sama Ryan."
Aku jawab dengan senyuman saja. Mencoba mengingat-ingat kembali peristiwa itu.
"Nggak salah ya kamu idolain Ryan. Ternyata dia pintar. Cocok dong"
"Cocok apanya?"tanyaku sambil tersipu.
Cepat-cepat kami melangkah ke ruang kuliah kedua. Melewati
ruang dosen. Aku melihat Ryan dan Pak
Bono sedang ngobrol.
"Aku dapat hadiah dari Pak Sandry pah."ucap Ryan.
"Bagus dong. Belajar lebih giat lagi ya nak!"
Percakapan singkat itu menyiratkan sebuah simpulan yang cukup meyakinkan kami kalau pak dosen killer itu ayahnya Ryan. Andai kenyataannya tak seperti itu, petualangan cintaku pasti akan berlanjut. Namun kini kuurungkan niatku setelah tau faktanya.
"Aku dapat hadiah dari Pak Sandry pah."ucap Ryan.
"Bagus dong. Belajar lebih giat lagi ya nak!"
Percakapan singkat itu menyiratkan sebuah simpulan yang cukup meyakinkan kami kalau pak dosen killer itu ayahnya Ryan. Andai kenyataannya tak seperti itu, petualangan cintaku pasti akan berlanjut. Namun kini kuurungkan niatku setelah tau faktanya.
“Masa iya
aku harus curi perhatian Pak Bono terus supaya bisa dekat dengan Ryan?”
"Kok mereka gak mirip ya Dit?"tanya Feli
"Iya. Gak mirip sama sekali" tambahku menegaskan.
"Kok mereka gak mirip ya Dit?"tanya Feli
"Iya. Gak mirip sama sekali" tambahku menegaskan.
Kuakhiri
hari ini dengan pertanyaan seputar Ryan. Kuputuskan untuk menjalani hari-hari
sebagaimana adanya aku. Orang sederhana yang punya impian tinggi. Mana mungkin Ryan
kagum padaku dengan penampilanku yang seadanya ini? Orang tuanya pasti punya
ekspektasi yang tinggi pada anaknya. Aku menyadari keadaanku. Membiarkan
semuanya masuk dalam cerita pendek yang selalu kubuat di sela kesibukanku. Ryan
tetaplah Ryan. Anak seorang dosen. Dan aku hanya seorang gadis dari kalangan
biasa. Dan aku harus melanjutkan bakat menulisku tanpa mengacaukan perasaanku.
Selesai
