MENGAPA ORANG BERPUTUS ASA?
Ada begitu banyak tekanan yang
terjadi dalam hidup ini. Siapa kuat, dia bertahan, siapa lemah, akan terbawa
arus zaman. Meski banyak cinta yang tumbu pada setiap umat manusia, tekanan
yang datang lebih kuat mengalahkan dan menyiksa hati kita hingga putus asa yang
selalu kita rasakan. Hidup pada masa-masa kritis yang sulit dihadapi dapat membuat
akal sehat jadi tersesat, bahkan dapat membawa kita pada kekacauan untuk
berfikir mengakhiri hidup kita
Keputusasaan yang kita timbulkan
merupakan bagian dari perbuatan kita. Kegagalan yang menjadi pemicu
keputusasaan adalah akibat dari keteledoran, kelemahan, dan kesalahan kita. Jadi
kita sendirilah yang harus mengendalikan diri. Bukan dengan menghindari
masalah, namun mencari penyelesaiannya
Sementara kita tidak menyadari
bahwa pertolongan Tuhan masih ada untuk kita. Namun ketika putus asa hadir
lebih dulu, tindakan di luar sadar bisa terjadi. Tak mengenal siapa. Tak memandang
usia. Oleh sebab itu perteguhlah iman
agar bisa terbebas.
Mengapa orang stres lebih suka memendam masalahnya?
Seperti
pepatah mengatakan, ungkapkan segala hal yang kamu rasakan agar kamu bisa
dapatkan solusi bila ada masalah berat yang kamu terima. Banyak orang yang
sungkan memberitahu masalahnya pada orang-orang di lingkungannya karena takut
mendapat cemooh bahkan tidak ingin diremehkan atas masalah itu. Padahal bisa
saja ada solusi dari orang lain atas masalah itu. Mereka cenderung menutup diri dan memendam
masalahnya sendiri hingga berakar dan membuatnya semakin tertekan.
Sebagian
orang mau membagi masalahnya dan mengungkapkan semua detailnya. Akan tetapi
sulit menerima masukan dari orang lain dengan anggapan kalau saran itu bisa
saja menjebak dirinya agar semakin jatuh pada keterpurukan. Alasan lain mengapa
orang lebih suka memendam masalahnya adalah karena ia selalu punya pikiran negatif dan menganggap orang
lain juga punya pikiran negatif terhadap dirinya.
Semua
orang akan menghadapi situasi pelik. Namun kita telah dibekali akal sehat oleh
sang pencipta. Sedapat mungkin kita sikapi dulu setiap masalah kita lalu cari
jalan keluar secepatnya. Siapa yang sanggup mengatasinya akan terbebas dari
keputusasaan. Jadi janganlah sekali-kali kita mudah berputus asa. Tuhan lebih
senang melihat usaha kita, lalu ia akan turunkan pertolongan. Dan kita juga
harus mau meminta bantuanNya sebagai tanda bahwa kita masih andalkan Tuhan
dalam hidup kita.
Kita tau bahwa
problem datang dan pergi selagi kita masih hidup. Ada yang tampaknya tak
tertanggulangi untuk saat ini. Tetapi bersabarlah. Situasi bisa berubah menjadi
lebih baik. Kadang-kadang problem bisa berkurang dengan cara yang tak diduga.
Atau kamu menemukan pemecahannya dari orang lain. Jarang sekali ada masalah
yang hilang dengan sendirinya hanya dengan membiarkannya. Malah, masalah itu akan membesar dan stresmu akan bertambah.
Jika kamu telah putuskan penanganan masalah tersebut, jangan tunda lagi.
Betindaklah segera. Ada kepuasan tersendiri jika masalah itu bisa selesai.
Akan terdengar
aneh jika dikatakan stres itu ada perlunya. Jika masih pernah kamu alami, itu
tandanya nuranimu belum tumpul. Seperti ketika si pemalas berdiam dalam
tidurnya. Tidak memikirkan tanggung jawab pekerjaan, berarti nuraninya telah
tumpul. Dia tidak bisa merasakan stres. Ia hanya terdiam tanpa usaha. Tapi
apakah dengan begitu hidupnya damai dan bahagia? Tentu saja tidak. Hidup harus
berjalan di dua sisi karena gelap dan terang selalu bergantian. Baik buruk,
sukar mudah atau bahkan sakit dan sehat. Oleh sebab itu syukurilah bila kamu
masih mengalami stres sebab itu bisa mengasah kualitas emosionalmu.
Yang perlu
dikendalikan dalam situasi ini adalah emosi. Kematangan emosional akan menjadi
kunci kita bisa menyelesaikan berbagai ragam tantangan yang menimbulkan stres.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar