KEBERHASILAN PENDIDIKAN ANAK DI
TANGAN KELUARGA
Keluarga
itu surga kehidupan kita.
Setiap
orang di dunia ini tentunya punya keluarga. Keluarga akan jadi harta termahal
yang kita miliki. Keluarga akan mengikat kita di kondisi apapun, yang tak akan
membiarkan kita jatuh. Di dalam keluarga, peran ibu berada di posisi tertinggi.
Salah satu alasan psikologisnya adalah karena ibu yang mengandung dan
melahirkan kita. Ibu yang lebih banyak mendampingi seorang anak. Ibu lah yang
mempunyai kekuatan batin terhadap anaknya.
Begitu pula dengan ayah yang akan
menjadi figur utama dalam kesuksesan anaknya, sehingga ia akan dituntut memberi
contoh keteladanan yang baik. Bila ibu menuntun, maka ayah memberi teladan. Anak
yang tidak mendapatkan keteladanan dari seorang ayah, akan mencari-cari
kedewasaannya dari orang di sekelilingnya yang bisa saja menimbulkan masalah
baru.
Seberapa kuatkah peran keluarga bagi
kehidupan anak-anaknya? Jawabnya sekuat akar mempertahankan batang pohon yang
meski dihalau badai, ia tetap bertahan kokoh. Yang menjadi pokok persoalan yang
sering mengemuka adalah mengapa banyak anak yang mengalami penyimpangan sosial?
Apakah keluarganya goyah? Ada banyak sekali faktor penyebabnya. Fondasi
keluarga itu kurang kokoh atau mungkin mengalami pergeseran akibat konflik
tertentu.
Kemungkinan lain adalah sistem
pengajaran anak di rumah, hanya dilakukan oleh salah satu dari orang tua, jadi
prosesnya hanya searah. Apabila kedua-duanya menjalankan perannya dengan baik
secara bersama-sama, hasilnya akan maksimal karena kasih sayang yang tercipta
akan utuh jumlahnya. Proteksi yang baik pada anak harus dilakukan oleh keduanya
bila keduanya masih lengkap.
Ketika banyak orang tua yang kehilangan
kepercayaan dirinya dalam mengendalikan keluarganya di era teknologi yang menantang ini, sudah sepantasnya orang tua
belajar lebih banyak agar mampu mengimbangi anak-anaknya. Seyogianya, anak
dalam pengawasan orang tua akan menunjukkan etika yang baik di masyarakat. Anak
yang baik juga berusaha menunjukkan
kepada orang banyak, bagaimana ia beretika, berpola pikir dan berinteraksi yang
baik bagi sesamanya.
Memperlakukan anak harus sesuai
dengan kebutuhnnnya. Pengaruhnya akan sangat besar jika perlakuan orang tua
tersebut kurang atau bahkan berlebihan. Orang tua itu harus punya pengetahuan
yang lebih banyak daripada anaknya. Keadaan keluarga memang tidak selalu sama.
Taraf hidup pastilah berbeda. Sehingga pembinaan kepada anak juga berbeda-beda.
Namun biarpun berbeda, tujuan orang tua pastilah sama-sama untuk kebaikan.
Cerminan keluarga sejahtera adalah
anaknya. Tolak ukurnya adalah kualitas anak. Sehingga banyak orang tua
mati-matian mencari cara untuk membangun komunikasi pada anaknya agar anaknya
mendapat hasil dari komunikasi yang baik itu. Seorang anak yang jarang
berkomunikasi dengan orang tuanya akan sulit menemukan kasih sayang bahkan tak
sedikit yang mengalami kegagalan. Anak yang berhasil dengan kerja kerasnya
tanpa keterlibatan orang tuanya memiliki kecenderungan sifat yang egois sebab
ia merasa dirinya sanggup melakukan segala hal. Ia akan mudah beranggapan kalau
keberhasilannya mutlak dari dirinya sendiri. Namun bila si anak berhasil karena
sokongan orang tuanya, maka ia tau cara berterima kasih dan akan lebih rendah
hati.
Keluarga bak kapal. Keluarga dipandu
oleh sang nakhoda. Ia yang akan menentukan ke mana kapal akan berlabuh. Jika ia
lalai, segala kemungkinan bisa terjadi. Namun di balik semua kemungkinan itu,
tujuanlah yang tetap menjadi fokus. Tujuan itu yang harus dicapai, diikuti
dengan pengendalian dari orang tua. Mereka yang akan berada di depan jika
gelombang dan cuaca buruk mencoba menghadang dengan garang. Dalam hal ini dituntut
kecakapan dari orang tua untuk menentukan arah dan tujuan keluarganya.
Mungkin sudah banyak orang tua yang
kurang menyadari perannya. Banyak orang tua merasa acuh karena lebih fokus
mengurus keuangan keluarga. Dengan tidak menyadari bahwa pendidikan moral dari
orang tua pada anak adalah satu-satunya faktor pembentuk ahlak anak. Pendidikan
moral ini berada pada terminal utama yang tak bisa dianggap sepele. Anak yang
mendapatkan pengajaran moral akan dengan mudah menghargai kehidupannya.
Karena pendidikan itu dimulai dari
keluarga, maka orang tua akan menjadi guru pertama bagi anak sebelum ia
mengenal dunia luar. Orang tua yang membentuk karakter pribadi anak dalam rangka
menyiapkan mental mereka terjun ke masyarakat.
Orang
tua bertugas menerapkan aturan-aturan yang jadi patron dalam kegiatan sehari-hari.
Tujuannya adalah agar ada yang mengatur kegiatan anak. Aturan ini tentunya
diikat dengan sanksi yang berfungsi mengawasi
anak agar tidak bertindak di luar tata tertib yang ditetapkan.
Mendidik anak dengan keteladanan,
wibawa, dan penuh kasih sayang akan memberi pengaruh baik yang tidak membiarkan
anak mencari sosok orang tua lain di luar sana. Berikanlah teladan yang baik
bagi anak! Anak sangat mudah meniru segala tindak-tanduk orang tuanya. Makanya
orang tua wajib memberi perilaku panutan.
Rumah
adalah tempat perlindungan setiap orang. Yang menciptakan kenyamanan adalah
kita sendiri. Cara ciptakan kenyamanan itu adalah dengan berperilaku dan
berbicara sopan agar kondisi rumah tetap kondusif, jauh dari perselisihan, jauh
dari sifat egois satu sama lain. Nyaman di rumah (termasuk hubungan anak pada
orang tuanya) akan jadi dasar anak dalam sosialisasinya di lingkungan luar
rumah. Kondisi rumah yang baik juga mendukung orang tua dalam memberi
pengajaran pada anak. Itu artinya anak telah punya wadah belajar yang tepat.
Jadi, suasana rumah yang nyaman sangatlah diperlukan. Bilakah anak merasa tidak
betah bermain dan belajar dalam rumah? Adalah ketika terjadi konflik antara
orang tua, konflik antara anak, dan konflik pada anak dengan orang tua.
Pendidikan
yang menjadi satu-satunya yang wajib terpenuhi sebagai modal anak di masa
depannya. Membekali anak dengan pendidikan adalah peran orang tua. Pendidikan
merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang
dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Hanya
pendidikan yang mampu memanusiawikan manusia. Dewasa ini, pendidikan menjadi
sorotan utama dari pemerintah karena dari pendidikanlah dibentuk moral,
karakter, etika, sikap, dan nilai-nilai sesuai norma kehidupan.
Di
dalam proses belajarlah si anak dibina serta dituntun menciptakan dasar atas
masa depannya kelak. Tak jarang kita temui pertanyaan berbunyikan; “Apa
cita-citamu?”. Guru akan berkali-kali menanyakan itu agar guru dapat menentukan
langkah apa yang akan ditempuhnya dalam mengarahkan dan mendukung si anak
bertemu dengan gerbang cita-citanya. Jalur yang dilewati anak harus mengarah
pada impian masa depannya tanpa memaksa dan mengikat. Salah jika anak dituntut
mengikuti keinginan orang tuanya hanya untuk kebutuhan gengsi sosial. Biarkan
anak mencari jati dirinya. Orang tua hanya menuntun dan memberi alarm jika anak
menyimpang. Proses mendidik anak adalah tugas berat. Terutama bagi orang tua.
Jika tidak sesuai maka akan berakibat buruk. Tak jarang kita temui pembiaran.
Beberapa orang tua menganggap bahwa belajar itu terjadi secara alamiah.
Terutama orang tua yang sibuk dengan pekerjaan, yang memberikan keleluasaan
pada anak untuk mencari bahan belajarnya. Apalagi orang tua yang sepenuhnya
melibatkan asisten rumah tangga dalam pengawasan anaknya. Untuk inilah perlu
penyeimbangan. Orang tua yang sibuk harus menyisihkan waktunya buat anak agar
anak tidak kehilangan figur pelindungnya. Setidaknya terlibatlah dalam
mengikuti perkembangan anak.
Orang
tua yang berhasil membentuk keluarga dengan kondisi yang baik, tentu akan mudah
memberi pengajaran pada anaknya. Setiap kita terlahir dari sebuah keluarga. Jadi
sumber utamanya adalah keluarga. Sehingga perlulah penguatan peran keluarga
yang di dalamnya ada orang tua dalam menyukseskan keberhasilan pendidikan anak.
Orang tua harus benar-benar merasa siap
dalam bertanggung jawap pada anak-anaknya. Kedua orang tua harus rela
meninggalkan ego nya agar tidak jadi penghalang semangat kebersamaannya dalam
membimbing anak. Ciptakan keluarga harmonis agar anak merasa terlindungi di
dalam rumah. Dengan rasa aman, anak akan belajar maksimal. Jadi penguatan peran
keluarga ini sangatlah penting dalam pendidikan anak.
SINDIRAN UNTUK KEHIDUPAN MODERN
Saya
banyak bertemu dengan fakta-fakta unik seputar kehidupan modern yang mengusung
jiwa glamour. Demi mencari keindahan hidup, kita sering melupakan apa tujuan
sesuatu hal yang kita kerjakan. Semua orang terlampau sibuk lalu-lalang mencari
keinginan dan kebutuhannya. Bumi ini telah dipusingkan dengan aktivitas manusia
yag beragam. Semakin lama semakin aneh dan tak terkendali lah hasrat dan
tingkah manusia. semua beradu tampang berusaha menunjukkan kebisaannya di depan
banyak orang. Ini terjadi di dunia maya maupun kehidupan nyata.
Memang benar. Manusia telah diperhamba
oleh zaman yang bergulir begitu cepat. Memaksa manusia untuk berkejar-kejaran
mengikutinya. Kita sudah sangat dipermainkan zaman dan tak sedikitpun kita
pedulikan alam tempat kita berjuang. Tali persaudaraan seringkali terlupakan
akibat hasrat besar ingin menguasai dunia. Mampu menyingkirkan orang lain sudah
menjadi prestasi manusia padahal hal itu sudah bertentangan dengan karakteristik
bangsa kita.
Kehidupan
baru-baru ini bergerak sangat dinamis. Semua harus serba cepat. Sekali langkah
kita lemah, kita akan jauh tertinggal. Setiap orang harus membentengi diri agar
terhindar dari pengaruh buruk yang dapat menghambat langkah.
Banyak
cara yang orang lakukan untuk memenuhi gengsi sosialnya. Ada yang masih peduli
sekeliling dan ada pula yang mengabaikan orang lain asalkan ia bisa tunjukkan
keberadaannya. Dipandang berada dan terkesan luar biasa itu adalah impian
siapapun di zaman ini. Bila ingin tunjukkan status sosial yang tinggi, pada
umumnya kita mulai menunjukkan barang kepunyaan bahkan banyak yang mengumbar
lewat kata-kata kebohongan.
Berapa lama lagikah kita terus
bepura-pura tak melihat sekeliling kita? Berapa banyak keinginan daging yang
harus kita penuhi? Haruskah dunia ini menertawakan kita untuk waktu yang cukup
lama? Lihat dan dengarlah sindiran dunia ini untuk gengsi yang sudah kita
kumpulkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar