Jumat, 16 Februari 2018

kumpulan artikel edukatif



KEBERHASILAN PENDIDIKAN ANAK DI TANGAN KELUARGA

Keluarga itu surga kehidupan kita.
Setiap orang di dunia ini tentunya punya keluarga. Keluarga akan jadi harta termahal yang kita miliki. Keluarga akan mengikat kita di kondisi apapun, yang tak akan membiarkan kita jatuh. Di dalam keluarga, peran ibu berada di posisi tertinggi. Salah satu alasan psikologisnya adalah karena ibu yang mengandung dan melahirkan kita. Ibu yang lebih banyak mendampingi seorang anak. Ibu lah yang mempunyai kekuatan batin terhadap anaknya.
            Begitu pula dengan ayah yang akan menjadi figur utama dalam kesuksesan anaknya, sehingga ia akan dituntut memberi contoh keteladanan yang baik. Bila ibu menuntun, maka ayah memberi teladan. Anak yang tidak mendapatkan keteladanan dari seorang ayah, akan mencari-cari kedewasaannya dari orang di sekelilingnya yang bisa saja menimbulkan masalah baru.
            Seberapa kuatkah peran keluarga bagi kehidupan anak-anaknya? Jawabnya sekuat akar mempertahankan batang pohon yang meski dihalau badai, ia tetap bertahan kokoh. Yang menjadi pokok persoalan yang sering mengemuka adalah mengapa banyak anak yang mengalami penyimpangan sosial? Apakah keluarganya goyah? Ada banyak sekali faktor penyebabnya. Fondasi keluarga itu kurang kokoh atau mungkin mengalami pergeseran akibat konflik tertentu.
            Kemungkinan lain adalah sistem pengajaran anak di rumah, hanya dilakukan oleh salah satu dari orang tua, jadi prosesnya hanya searah. Apabila kedua-duanya menjalankan perannya dengan baik secara bersama-sama, hasilnya akan maksimal karena kasih sayang yang tercipta akan utuh jumlahnya. Proteksi yang baik pada anak harus dilakukan oleh keduanya bila keduanya masih lengkap.

            Ketika banyak orang tua yang kehilangan kepercayaan dirinya dalam mengendalikan keluarganya di era teknologi yang  menantang ini, sudah sepantasnya orang tua belajar lebih banyak agar mampu mengimbangi anak-anaknya. Seyogianya, anak dalam pengawasan orang tua akan menunjukkan etika yang baik di masyarakat. Anak yang baik juga berusaha  menunjukkan kepada orang banyak, bagaimana ia beretika, berpola pikir dan berinteraksi yang baik bagi sesamanya.

            Memperlakukan anak harus sesuai dengan kebutuhnnnya. Pengaruhnya akan sangat besar jika perlakuan orang tua tersebut kurang atau bahkan berlebihan. Orang tua itu harus punya pengetahuan yang lebih banyak daripada anaknya. Keadaan keluarga memang tidak selalu sama. Taraf hidup pastilah berbeda. Sehingga pembinaan kepada anak juga berbeda-beda. Namun biarpun berbeda, tujuan orang tua pastilah sama-sama untuk kebaikan.

            Cerminan keluarga sejahtera adalah anaknya. Tolak ukurnya adalah kualitas anak. Sehingga banyak orang tua mati-matian mencari cara untuk membangun komunikasi pada anaknya agar anaknya mendapat hasil dari komunikasi yang baik itu. Seorang anak yang jarang berkomunikasi dengan orang tuanya akan sulit menemukan kasih sayang bahkan tak sedikit yang mengalami kegagalan. Anak yang berhasil dengan kerja kerasnya tanpa keterlibatan orang tuanya memiliki kecenderungan sifat yang egois sebab ia merasa dirinya sanggup melakukan segala hal. Ia akan mudah beranggapan kalau keberhasilannya mutlak dari dirinya sendiri. Namun bila si anak berhasil karena sokongan orang tuanya, maka ia tau cara berterima kasih dan akan lebih rendah hati.
            Keluarga bak kapal. Keluarga dipandu oleh sang nakhoda. Ia yang akan menentukan ke mana kapal akan berlabuh. Jika ia lalai, segala kemungkinan bisa terjadi. Namun di balik semua kemungkinan itu, tujuanlah yang tetap menjadi fokus. Tujuan itu yang harus dicapai, diikuti dengan pengendalian dari orang tua. Mereka yang akan berada di depan jika gelombang dan cuaca buruk mencoba menghadang dengan garang. Dalam hal ini dituntut kecakapan dari orang tua untuk menentukan arah dan tujuan keluarganya.
            Mungkin sudah banyak orang tua yang kurang menyadari perannya. Banyak orang tua merasa acuh karena lebih fokus mengurus keuangan keluarga. Dengan tidak menyadari bahwa pendidikan moral dari orang tua pada anak adalah satu-satunya faktor pembentuk ahlak anak. Pendidikan moral ini berada pada terminal utama yang tak bisa dianggap sepele. Anak yang mendapatkan pengajaran moral akan dengan mudah menghargai kehidupannya.
            Karena pendidikan itu dimulai dari keluarga, maka orang tua akan menjadi guru pertama bagi anak sebelum ia mengenal dunia luar. Orang tua yang membentuk karakter pribadi anak dalam rangka menyiapkan mental mereka terjun ke masyarakat.
Orang tua bertugas menerapkan aturan-aturan yang jadi patron dalam kegiatan sehari-hari. Tujuannya adalah agar ada yang mengatur kegiatan anak. Aturan ini tentunya diikat dengan sanksi yang berfungsi mengawasi  anak agar tidak bertindak di luar tata tertib yang ditetapkan.
            Mendidik anak dengan keteladanan, wibawa, dan penuh kasih sayang akan memberi pengaruh baik yang tidak membiarkan anak mencari sosok orang tua lain di luar sana. Berikanlah teladan yang baik bagi anak! Anak sangat mudah meniru segala tindak-tanduk orang tuanya. Makanya orang tua wajib memberi perilaku panutan.
Rumah adalah tempat perlindungan setiap orang. Yang menciptakan kenyamanan adalah kita sendiri. Cara ciptakan kenyamanan itu adalah dengan berperilaku dan berbicara sopan agar kondisi rumah tetap kondusif, jauh dari perselisihan, jauh dari sifat egois satu sama lain. Nyaman di rumah (termasuk hubungan anak pada orang tuanya) akan jadi dasar anak dalam sosialisasinya di lingkungan luar rumah. Kondisi rumah yang baik juga mendukung orang tua dalam memberi pengajaran pada anak. Itu artinya anak telah punya wadah belajar yang tepat. Jadi, suasana rumah yang nyaman sangatlah diperlukan. Bilakah anak merasa tidak betah bermain dan belajar dalam rumah? Adalah ketika terjadi konflik antara orang tua, konflik antara anak, dan konflik pada anak dengan orang tua.
Pendidikan yang menjadi satu-satunya yang wajib terpenuhi sebagai modal anak di masa depannya. Membekali anak dengan pendidikan adalah peran orang tua. Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Hanya pendidikan yang mampu memanusiawikan manusia. Dewasa ini, pendidikan menjadi sorotan utama dari pemerintah karena dari pendidikanlah dibentuk moral, karakter, etika, sikap, dan nilai-nilai sesuai norma kehidupan.
Di dalam proses belajarlah si anak dibina serta dituntun menciptakan dasar atas masa depannya kelak. Tak jarang kita temui pertanyaan berbunyikan; “Apa cita-citamu?”. Guru akan berkali-kali menanyakan itu agar guru dapat menentukan langkah apa yang akan ditempuhnya dalam mengarahkan dan mendukung si anak bertemu dengan gerbang cita-citanya. Jalur yang dilewati anak harus mengarah pada impian masa depannya tanpa memaksa dan mengikat. Salah jika anak dituntut mengikuti keinginan orang tuanya hanya untuk kebutuhan gengsi sosial. Biarkan anak mencari jati dirinya. Orang tua hanya menuntun dan memberi alarm jika anak menyimpang. Proses mendidik anak adalah tugas berat. Terutama bagi orang tua. Jika tidak sesuai maka akan berakibat buruk. Tak jarang kita temui pembiaran. Beberapa orang tua menganggap bahwa belajar itu terjadi secara alamiah. Terutama orang tua yang sibuk dengan pekerjaan, yang memberikan keleluasaan pada anak untuk mencari bahan belajarnya. Apalagi orang tua yang sepenuhnya melibatkan asisten rumah tangga dalam pengawasan anaknya. Untuk inilah perlu penyeimbangan. Orang tua yang sibuk harus menyisihkan waktunya buat anak agar anak tidak kehilangan figur pelindungnya. Setidaknya terlibatlah dalam mengikuti perkembangan anak.
Orang tua yang berhasil membentuk keluarga dengan kondisi yang baik, tentu akan mudah memberi pengajaran pada anaknya. Setiap kita terlahir dari sebuah keluarga. Jadi sumber utamanya adalah keluarga. Sehingga perlulah penguatan peran keluarga yang di dalamnya ada orang tua dalam menyukseskan keberhasilan pendidikan anak.  Orang tua harus benar-benar merasa siap dalam bertanggung jawap pada anak-anaknya. Kedua orang tua harus rela meninggalkan ego nya agar tidak jadi penghalang semangat kebersamaannya dalam membimbing anak. Ciptakan keluarga harmonis agar anak merasa terlindungi di dalam rumah. Dengan rasa aman, anak akan belajar maksimal. Jadi penguatan peran keluarga ini sangatlah penting dalam pendidikan anak.





SINDIRAN UNTUK KEHIDUPAN MODERN


Saya banyak bertemu dengan fakta-fakta unik seputar kehidupan modern yang mengusung jiwa glamour. Demi mencari keindahan hidup, kita sering melupakan apa tujuan sesuatu hal yang kita kerjakan. Semua orang terlampau sibuk lalu-lalang mencari keinginan dan kebutuhannya. Bumi ini telah dipusingkan dengan aktivitas manusia yag beragam. Semakin lama semakin aneh dan tak terkendali lah hasrat dan tingkah manusia. semua beradu tampang berusaha menunjukkan kebisaannya di depan banyak orang. Ini terjadi di dunia maya maupun kehidupan nyata.

          Memang benar. Manusia telah diperhamba oleh zaman yang bergulir begitu cepat. Memaksa manusia untuk berkejar-kejaran mengikutinya. Kita sudah sangat dipermainkan zaman dan tak sedikitpun kita pedulikan alam tempat kita berjuang. Tali persaudaraan seringkali terlupakan akibat hasrat besar ingin menguasai dunia. Mampu menyingkirkan orang lain sudah menjadi prestasi manusia padahal hal itu sudah bertentangan dengan karakteristik bangsa kita.
Kehidupan baru-baru ini bergerak sangat dinamis. Semua harus serba cepat. Sekali langkah kita lemah, kita akan jauh tertinggal. Setiap orang harus membentengi diri agar terhindar dari pengaruh buruk yang dapat menghambat langkah.
Banyak cara yang orang lakukan untuk memenuhi gengsi sosialnya. Ada yang masih peduli sekeliling dan ada pula yang mengabaikan orang lain asalkan ia bisa tunjukkan keberadaannya. Dipandang berada dan terkesan luar biasa itu adalah impian siapapun di zaman ini. Bila ingin tunjukkan status sosial yang tinggi, pada umumnya kita mulai menunjukkan barang kepunyaan bahkan banyak yang mengumbar lewat kata-kata kebohongan.
          Berapa lama lagikah kita terus bepura-pura tak melihat sekeliling kita? Berapa banyak keinginan daging yang harus kita penuhi? Haruskah dunia ini menertawakan kita untuk waktu yang cukup lama? Lihat dan dengarlah sindiran dunia ini untuk gengsi yang sudah kita kumpulkan

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar