APA
KAU MENDUSTA?
Sudah kubilang kalau dayungku rapuh. Namun kau minta
aku tetap mengayuhnya, satu-satunya dayung kepunyaanku. Aku tau, tujuanmu dan
aku tak pernah sama. Bujuk rayumu tawarkan aku untuk menatap arah yang sama.
Perahukupun tertuju ke sanalah.
Pernah itu diombang-ambingkan angin. Awan gelap pun
tak mampu kusingkap, tapi kuasamu bisa merayu resahku. Perahuku kini sampailah
sudah di tengah lautan. Aku sadar kau juga turut mendayungnya. Ya, kau
melakukannya dengan dayung rapuh itu. kau tenangkan aku agar tak goyah.
Kemarin kulihat wajahmu mendusta. Mungkin lelahmu
telah mengubah arah tujuan kita. Kau lepaskan genggamanmu. Membiarkanku sendiri
lanjutkan perjalananku.
Mungkin kau sudah temui perahu dan dayung yang kokoh.
Atau kau sangat yakin jika perahuku akan karam hingga kau cari keselamatanmu
sendiri.
Ya, ini akan karam dihempas badai. Sebab dayungku itu tlah patah karna begitu kuatnya kau mengayuhnya dulu. Sudah kubilang dayungku tak kuat tp kau paksa. Dan kau biarkan aku sendiri menahan terjangan angin lautan ini.
Ya, ini akan karam dihempas badai. Sebab dayungku itu tlah patah karna begitu kuatnya kau mengayuhnya dulu. Sudah kubilang dayungku tak kuat tp kau paksa. Dan kau biarkan aku sendiri menahan terjangan angin lautan ini.
Aku akan belajar menyelamatkan diriku dari hantaman
sang ombak. Adalah DIA yang memberiku pertolongan. Sesampainya aku di tepian
dermaga, aku tak ingin melihatmu di sana bersama perahu kokoh mu itu. Aku tak
ingin kau mendekati perahuku karna iba. Sebab kau telah merusaknya dan
membuatku lelah ketakutan. Bahkan jika aku mendekat ke arahmupun, itu karna aku
ingin bisikkan sesuatu. "Jangan lakukan lagi pada orang lain"
MELEPAS LUKA
Aku mengasihimu kala itu. Hingga aku terperdaya. Aku pernah menutup luka
yang kau punya sampai aku lupa telah masuk dalam tipu daya. Sesungguhnya aku
memberi kasih karna pernah mendapatkannya darimu. Sadar kalau kebaikan harus
berbalas. Kulakukan pula itu padamu tanpa ingat lagi salah yang kau tinggalkan
untuk orang lain.
Datangmu memang persis di saat aku gigih meminta pada Tuhan. Khayalku
membumbung tak terkendali. Kuubah sendiri jahatmu jadi kebaikan. Sebab aku
mengenal hukum pertobatan. Tak kukira kau masih bertopeng.
Aku pernah marah pada Tuhan. Selalu saja diberi orang-orang yang salah.
Memanfaatkanku seakan lupa. Lupa kalau penciptaku masih mengingatkanku untuk
tidak jatuh terlalu dalam. Kini kuubah marahku untukNya jadi terima kasih sebab
aku telah dipulihkan lagi.
Maaf aku menyebutmu penipu. Karna kau tlah tipu dirimu sendiri, aku dan
juga sekelilingku. Sementara aku lelah beri kesaksian atasmu pada orang lain
yang terlanjur membencimu. Kau yang kuanggap mampu ternyata hanya sebatas bisa.
Melepaskan racunmu melukai sesiapa.
Baru kusadari kalau si jahat selalu sulit teraniaya. Kebaikanlah yang
diujinya. Karna sudah tentu, orang yang teraniaya akan dinaikkan derajatnya.
Bersyukur aku merasa terluka di sampingmu, agar aku berlari menjauh dan temukan
kebahagiaan sesungguhnya.
Terima kasih atas janji-janjimu yang sudah kutinggal jauh. Ternyata Tuhan
lebih tidak ingin sengsaraku harus denganmu. Meski kau tak memberhentikanku di tepian.
Meski kau biarkan aku terombang di kedalaman, aku akan bangkit sendiriku.
Sadar kalau luka ada penyembuh, tak lagi ku mau ratapi hilangmu. Karena itu
satu-satunya jalan untuk bahagiakan kehidupanku. Aku tlah membersihkan diri dr
kebencian terhadapmu. Lakukan juga hal yang sama!
Untukmu yang mencintaiku lalu berbalik membenci bahkan telinga batinku
mendengarmu memakiku. Tidak usah katakan sesuatu tentangku pada orang lain.
Sebab aku pun tak lagi libatkan dirimu jadi bahan ceritaku. Buku yang kutulis
memang belum kuselesaikan karena kau pergi tanpa berpamitan. Meninggalkan sesal
yang dalam. Meninggalkan persiapan yang bahkan kau sendiri yang memulainya.
Jangan sebut pula namaku jadi bahan olok-olokanmu. Cukup simpan dalam memorimu.
Tertawakan jika kau masih ingat keluguanku
Terima kasih sudah mengenalkanku banyak hal. Pernah membawaku dalam khayal.
Kita lupakan saja semuanya. Temukan ceritamu yang baru dan kuganti pula aktor
dalam ceritaku. Kelak jika kita bertemu di ujung jalan. Kan kukenalkan kau dengan
yang tulus mencintaiku
.
Tuhan tak
selalu berikan "YA" untuk setiap doa kita supaya sabar yang kita
punya, teruji ketahanannya
KUTEMUKAN ENGKAU
Bahagia
itu sungguh sederhana. Meski pernah kuanggap rumit. Mencintai itu naluri bukan
karna keinginan sang indra. Ketika kusadari kasihmu nyata. Kutelusuri ruang
hatimu yang tulus mengasihiku. Betapa kumenyesal tlah ikuti cinta lama yang
membawaku pada kegagalan. Menyita kebahagiaan yang kumiliki.
Kurasakan engkau tak pura-pura. Kudengar angin bisikkan namamu. Sepertinya dunia tlah setuju dengan rasaku. Kita merasakan hal yang sama. Hendak mengayuh dayung bersama. Meraih tempat yang kita tuju. Jelajahi ruang impian. Bersama menggapainya.
Raihlah tanganku ini. Jangan enggan bawaku melangkah. Kali ini aku tak meragu
sebab rinduku selalu menggebu. Meyakinkan rasaku hanya untukmu.
Semoga ini tak jua lekang oleh waktu dan luka masa lalu.
Kutau kalau hatimu sempat ragu. Membawaku yang masih dalam pilu. Oleh luka terdahulu. Tapi ketulusanmu itu akan mampu meruntuhkan sakitku, menghalau kegelisahanku. Jangan lagi meragu. Rayumu tlah cairkan hatiku yang pernah beku. Lihatlah aku menyambut hatimu.
Ku tlah temukan satu hati. Tak kusangka kau jauh berbeda. Aku rasakan yang sama seperti yang kuimpikan. Kau memulai semua hal tak terduga hingga tak pernah hatiku gundah. Ini cerita cinta bahagia kita berdua
Untuk selamanya.
Cinta mengawali kebisuan.
Kususuri tiap lorong. Tak jua kutemui dia yang kucinta. Sudah berulang kali aku
temui ruang kosong itu. Sekalipun ini melelahkan, aku berusaha untuk kembali
datang menelisik. Aku tetap ingin bertemu walau hanya menatapnya dalam
genggaman yang lain. Hanya ingin menatapnya.
Ini bukan rindu. Bukan hatiku. Tapi hanya kaki dan mata ini yang ingin menyaksikan tawamu dengannya. Adakah itu persis seperti tawa yang pernah kita cipta? Adakah itu tawa yang pernah menyanjungku hingga aku terbawa? Membumbung tinggi dalam keegoan bersamamu.
Aku belum bisa menemukanmu. Kau membuat sekat yang sulit kutembus sendiriku. Dengan tanganku, tentu sulitlah aku meraihnya. Di balik sekat itu kudengar kau tertawa. Ya tertawa. Menertawakanku. Menyulitkan kebahagiaanku.
Sayangnya air mataku sudah mengering. Hingga sakitku tak dilihat orang lain. Tangisku hanya di dalam. Takkan ada yang mendengarnya. Takkan pula ada orang yang menyadarinya.
Kuterhanyut dalam kata rayumu. Memberi isyarat cinta yang tak ku mengerti. Aku tak pernah bisa utarakan isi hatiku. Aku terjerat pesonamu. Kutak ingin menunggu lebih lama. Setiap kali memulai rayuan, kau menatapku penuh syahdu. Aku terpukau. Saat itu.
Rayumu tlah sirna. Pesonamu tiada.
Kini, kebencianku tlah beku di atas meja tak bersiku itu. Membawanya berputar ke segala arah. Bahkan tak mampu ku meruntuhkannya. Teramat berat luka itu hingga melumpuhkan akal sehatku.
Aku tak membenci sosokmu. Hanya hatimu. Sebab tak mampu mata hatimu membawamu pada kebaikan yang bibirmu janjikan.
Kau membawaku pada kepercayaan yang salah. Kebahagiaan dan kesenangan semu. Bahkan ketika kertas itu sobek di tanganmu, kau hanya mampu menyalahkanku. Mengapa tak kusadari keegoisanmu dulu?
Kau mencintaiku seperti yang kau mau dan bukan mauku.
Aku mengikutimu dalam kelemahanku. Menenangkanku dengan kemewahan yang semu. Mengajakku masuk dalam ruang hatimu. Menawarkan kehidupan masa depan tak berwujud. Tak ada yang bisa kudapatkan kini.
Kau hanya ingin menjadi apa maumu. Dan aku tertinggal jauh dalam khayalan masa lalu.
Aku kembali datang. Hendak melihat kejatuhanmu. Melihat tawa yang tlah berubah jadi tangis. Melanjutkan imajinasi nakalku. Ya, aku ingin lihat apakah kau menangis.
Tapi kudengar bisikan penuh riuh. Menyalahkan sikapku. Menghentikan keinginanku yang salah itu. Mereka ingin aku berhenti mengikutimu. Mereka ingin aku mencari jalanku dan bukan mengikuti jejakmu.
Kini untuk terakhir kalinya aku datang ke ruang kosong itu. Tak menemukan tawamu lagi. Aku ingin menutup sekat di antara kita. Agar jalanku tak dilihat olehmu. Agar kebahagiaanku tak diiringi tawamu. Aku juga tak akan mengikutimu lagi. Aku tak ingin melihatmu lagi. Baik kita melangkah bersama. Di jalan yang berbeda.
Ini bukan rindu. Bukan hatiku. Tapi hanya kaki dan mata ini yang ingin menyaksikan tawamu dengannya. Adakah itu persis seperti tawa yang pernah kita cipta? Adakah itu tawa yang pernah menyanjungku hingga aku terbawa? Membumbung tinggi dalam keegoan bersamamu.
Aku belum bisa menemukanmu. Kau membuat sekat yang sulit kutembus sendiriku. Dengan tanganku, tentu sulitlah aku meraihnya. Di balik sekat itu kudengar kau tertawa. Ya tertawa. Menertawakanku. Menyulitkan kebahagiaanku.
Sayangnya air mataku sudah mengering. Hingga sakitku tak dilihat orang lain. Tangisku hanya di dalam. Takkan ada yang mendengarnya. Takkan pula ada orang yang menyadarinya.
Kuterhanyut dalam kata rayumu. Memberi isyarat cinta yang tak ku mengerti. Aku tak pernah bisa utarakan isi hatiku. Aku terjerat pesonamu. Kutak ingin menunggu lebih lama. Setiap kali memulai rayuan, kau menatapku penuh syahdu. Aku terpukau. Saat itu.
Rayumu tlah sirna. Pesonamu tiada.
Kini, kebencianku tlah beku di atas meja tak bersiku itu. Membawanya berputar ke segala arah. Bahkan tak mampu ku meruntuhkannya. Teramat berat luka itu hingga melumpuhkan akal sehatku.
Aku tak membenci sosokmu. Hanya hatimu. Sebab tak mampu mata hatimu membawamu pada kebaikan yang bibirmu janjikan.
Kau membawaku pada kepercayaan yang salah. Kebahagiaan dan kesenangan semu. Bahkan ketika kertas itu sobek di tanganmu, kau hanya mampu menyalahkanku. Mengapa tak kusadari keegoisanmu dulu?
Kau mencintaiku seperti yang kau mau dan bukan mauku.
Aku mengikutimu dalam kelemahanku. Menenangkanku dengan kemewahan yang semu. Mengajakku masuk dalam ruang hatimu. Menawarkan kehidupan masa depan tak berwujud. Tak ada yang bisa kudapatkan kini.
Kau hanya ingin menjadi apa maumu. Dan aku tertinggal jauh dalam khayalan masa lalu.
Aku kembali datang. Hendak melihat kejatuhanmu. Melihat tawa yang tlah berubah jadi tangis. Melanjutkan imajinasi nakalku. Ya, aku ingin lihat apakah kau menangis.
Tapi kudengar bisikan penuh riuh. Menyalahkan sikapku. Menghentikan keinginanku yang salah itu. Mereka ingin aku berhenti mengikutimu. Mereka ingin aku mencari jalanku dan bukan mengikuti jejakmu.
Kini untuk terakhir kalinya aku datang ke ruang kosong itu. Tak menemukan tawamu lagi. Aku ingin menutup sekat di antara kita. Agar jalanku tak dilihat olehmu. Agar kebahagiaanku tak diiringi tawamu. Aku juga tak akan mengikutimu lagi. Aku tak ingin melihatmu lagi. Baik kita melangkah bersama. Di jalan yang berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar